Penjelasan Hadits Bukhari No. 3759 tentang Keutamaan mempelajari Al-Qur'an dari empat sahabat pilihan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi dua pelajaran agung: pertama, sifat Nabi ﷺ yang jauh dari perkataan kotor dan keji, serta kecintaan beliau kepada orang yang berakhlak mulia. Kedua, perintah untuk mengambil bacaan Al-Qur'an dari empat sahabat pilihan yang telah diakui keahliannya oleh Nabi ﷺ, di antaranya Abdullah bin Mas'ud. Ini menunjukkan bahwa mempelajari Al-Qur'an harus dari orang yang benar-benar ahli dan terpercaya, sebagaimana para sahabat mengambil langsung dari Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Sahabat, Bab Keutamaan Abdullah bin Mas'ud, no. 3759, dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma.

Ayat Al-Qur'an yang relevan tentang akhlak Nabi ﷺ:

QS. Al-Qalam [68]: 4

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung."

Hadits lain yang terkait tentang keutamaan Abdullah bin Mas'ud:

Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya aku tidaklah diutus untuk mempermudah atau mempersulit, akan tetapi aku diutus sebagai pengajar yang mempermudah." (HR. Al-Bukhari no. 3758, dalam bab yang sama)

Kaitan dengan ulama dari daftar:

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan empat sahabat yang disebutkan, dan bahwa Abdullah bin Mas'ud adalah yang paling utama dalam hal bacaan Al-Qur'an di antara mereka berdasarkan konteks hadits-hadits lain. Beliau juga menjelaskan bahwa kata "istaqri'u" (اسْتَقْرِئُوا) maknanya adalah "ambillah bacaan" atau "pelajarilah qira'ah Al-Qur'an" dari mereka.

Penjelasan Rinci

Pertama: Tentang akhlak Nabi ﷺ

Dalam hadits ini, Abdullah bin Amr bin Al-Ash menggambarkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah berperilaku fahisy (فَاحِشًا) — yaitu orang yang berkata kotor, keji, atau tidak senonoh — dan tidak pula mutafahhisy (مُتَفَحِّشًا) — yaitu orang yang sengaja berkata-kata kotor dengan pilihan kata yang buruk. Ini adalah sifat dasar Nabi ﷺ yang dijaga oleh Allah sejak sebelum dan sesudah kenabian.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa fahisy adalah orang yang tabiatnya berkata buruk, sedangkan mutafahhisy adalah orang yang bersengaja memilih perkataan yang buruk meskipun bukan tabiatnya. Keduanya tidak ada pada diri Nabi ﷺ.

Kemudian Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya." Ini menunjukkan bahwa akhlak mulia adalah sebab terbesar untuk mendapatkan kecintaan Rasulullah ﷺ. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa akhlak yang baik mencakup hubungan dengan Allah (seperti jujur dan ikhlas) dan hubungan dengan sesama makhluk (seperti lemah lembut, pemaaf, dan tidak menyakiti).

Kedua: Tentang empat sahabat yang dianjurkan mengambil Al-Qur'an dari mereka

Nabi ﷺ bersabda: "Pelajarilah Al-Qur'an dari empat orang: Abdullah bin Mas'ud, Salim maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka'b, dan Mu'adz bin Jabal."

Keempat sahabat ini adalah orang-orang yang paling banyak menghafal dan memahami Al-Qur'an di masa Nabi ﷺ. Mereka telah menerima bacaan langsung dari beliau dan dikenal ketelitiannya dalam menjaga lafazh Al-Qur'an.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan empat orang ini bukan berarti tidak ada sahabat lain yang pandai membaca Al-Qur'an, akan tetapi ini adalah isyarat bahwa mereka adalah yang paling menonjol. Adapun Abdullah bin Mas'ud disebutkan lebih dahulu karena beliau adalah orang yang paling lama bersama Nabi ﷺ dalam banyak keadaan dan paling teliti dalam bacaan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan prinsip penting: Al-Qur'an harus diambil dari ahlinya yang terpercaya, baik dari segi hafalan, ketelitian, maupun pemahaman. Ini sebagaimana para sahabat mengambil dari Nabi ﷺ, dan para tabi'in mengambil dari sahabat.

Hikmah dari hadits ini:

  1. Akhlak mulia adalah ciri orang yang dicintai Nabi ﷺ, dan akhlak buruk bertentangan dengan sunnah beliau.
  2. Mempelajari Al-Qur'an harus dari guru yang sanadnya bersambung dan ilmunya diakui, bukan asal membaca tanpa bimbingan.
  3. Para sahabat adalah generasi terbaik dalam hal ini, dan kita mengambil Al-Qur'an dari mereka melalui para ulama yang mewarisi ilmu mereka.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu orang pertama yang masuk Islam dan membaca Al-Qur'an dengan suara merdu. Suatu ketika, para sahabat berkumpul dan meminta beliau membacakan Al-Qur'an. Beliau berkata: "Aku akan membacakan untuk kalian, tetapi aku khawatir kalian akan merasa bosan." Mereka menjawab: "Kami ingin mendengar." Maka beliau membacakan dari awal surat An-Nisa' hingga sampai pada ayat:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا

"Maka bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka?" (QS. An-Nisa' [4]: 41)

Mendengar ayat ini, Abdullah bin Mas'ud menangis dan berkata: "Cukup, aku tidak sanggup melanjutkan." Para sahabat pun ikut menangis karena tersentuh hatinya. Kisah ini menunjukkan kedalaman pemahaman dan kelembutan hati para sahabat dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an. (Kisah ini diriwayatkan secara global dalam Fadhail Ash-Shahabah karya Imam Ahmad dan disebutkan oleh para ulama dalam pembahasan keutamaan Ibnu Mas'ud).

Kesimpulan Praktis

  1. Meneladani akhlak Nabi ﷺ — jauhilah perkataan kotor, kasar, dan menyakitkan, baik dalam keadaan marah maupun senang.
  2. Berusahalah memiliki akhlak mulia — karena ini adalah sebab kecintaan Rasulullah ﷺ kepada kita.
  3. Belajar Al-Qur'an dari guru yang tepat — carilah guru yang sanadnya jelas, hafalannya kuat, dan pemahamannya sesuai dengan pemahaman salaf.
  4. Menghormati para sahabat — mereka adalah perantara kita dalam menerima Al-Qur'an dan sunnah, maka kita berterima kasih kepada mereka dengan cara mengikuti jejak mereka.
  5. Menjaga adab dalam menuntut ilmu — bersungguh-sungguhlah seperti Abdullah bin Mas'ud yang dikenal paling teliti dalam bacaan Al-Qur'an.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?