Penjelasan Hadits Bukhari No. 3742 tentang Keutamaan sahabat Nabi dan doa memohon teman baik

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Sahabat Nabi ﷺ, dan menceritakan pertemuan antara tabi'in mulia Alqamah bin Qais dengan sahabat agung Abu Darda' radhiyallahu 'anhu di Syam. Abu Darda' memuji tiga keutamaan besar sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu: kedekatannya dengan Nabi ﷺ sebagai pembawa sandal, bantal, dan air wudhu; doa Nabi ﷺ agar Allah melindunginya dari setan; serta pengetahuannya terhadap rahasia Nabi ﷺ. Di akhir hadits, Abu Darda' menegaskan bahwa bacaan surat Al-Lail dan Asy-Syams yang diajarkan Nabi ﷺ langsung kepadanya berbeda dari bacaan yang dikenal luas — menunjukkan pentingnya menerima riwayat dan bacaan dari para sahabat yang terpercaya.

---

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Manaqib (Keutamaan Sahabat), Bab Manfaat Ammar dan Hudzaifah. Jalur periwayatan: Malik bin Isma'il ← Israil ← Al-Mughirah ← Ibrahim (An-Nakha'i) ← Alqamah bin Qais.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim bin Al-Hajjaj dalam Shahih Muslim dengan lafaz yang berdekatan, dan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad.

Ayat yang disebut dalam hadits:

Firman Allah ﷻ:

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)." (QS. Al-Lail [92]: 1)

وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ

"Demi siang apabila terang benderang." (QS. Asy-Syams [91]: 2)

وَ الذَّكَرِ وَالْأُنْثَىٰ

"Dan demi laki-laki dan perempuan." (QS. Al-Lail [92]: 3)

Penjelasan ulama terkait:

  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Abdullah bin Mas'ud dan kedudukannya yang tinggi di sisi Nabi ﷺ, serta keutamaan Abu Darda' dalam mengenali dan memuliakan keutamaan saudaranya sesama sahabat.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil tentang keutamaan doa memohon teman duduk yang shalih, dan bahwa Allah ﷻ mengabulkan doa hamba-Nya yang ikhlas.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa perbedaan bacaan yang disebutkan Abu Darda' berkaitan dengan riwayat qira'at yang diterima langsung dari Nabi ﷺ, dan ini termasuk bab qira'at syadzah yang tidak boleh dijadikan pegangan bacaan umum, namun tetap menunjukkan keutamaan orang yang menerimanya langsung dari Nabi ﷺ.

---

Penjelasan Rinci

1. Doa Alqamah Memohon Teman Duduk yang Shalih

Alqamah bin Qais — seorang tabi'in besar dari Kufah, murid utama Abdullah bin Mas'ud — ketika tiba di Syam, beliau shalat dua rakaat lalu berdoa:

> "Ya Allah, berikanlah aku teman duduk yang shalih."

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ini menunjukkan adab seorang mukmin dalam safar dan mencari majelis ilmu: ia memohon kepada Allah agar dipertemukan dengan orang shalih yang membawa manfaat bagi agamanya. Doa ini dikabulkan Allah dengan dipertemukannya beliau dengan Abu Darda', seorang sahabat Nabi ﷺ yang terkenal zuhud, hikmah, dan keilmuan.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menegaskan bahwa berteman dengan orang shalih adalah salah satu sebab terbesar keselamatan agama seseorang, dan bahwa doa adalah sarana yang Allah ﷻ cintai dari hamba-Nya.

2. Pujian Abu Darda' kepada Abdullah bin Mas'ud

Abu Darda' menyebutkan tiga keutamaan Ibnu Mas'ud:

(a) "Shahibun Na'lain wal Wisad wal Mitharah" — pemilik sandal, bantal, dan alat wudhu Nabi ﷺ.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini menunjukkan kedekatan Ibnu Mas'ud yang sangat khusus dengan Nabi ﷺ, sampai-sampai beliau dipercaya membawa keperluan pribadi Nabi ﷺ dalam safar. Ini adalah bentuk khidmah (pelayanan) yang mulia, dan menunjukkan bahwa melayani Nabi ﷺ adalah kehormatan besar.

(b) "Alladzi ajarahu Allah minasy-syaithan 'ala lisani Nabiyyihi ﷺ" — orang yang Allah lindungi dari setan melalui lisan Nabi-Nya.

Ini merujuk pada doa Nabi ﷺ untuk Ibnu Mas'ud yang diriwayatkan dalam hadits lain, di mana Nabi ﷺ berdoa agar Allah melindungi Ibnu Mas'ud dari gangguan setan. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah keutamaan khusus yang tidak dimiliki semua sahabat, dan menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap Ibnu Mas'ud.

(c) "Shahibu Sirrin-Nabi ﷺ alladzi la ya'lamu ahadun ghairuhu" — pemegang rahasia Nabi ﷺ yang tidak diketahui orang lain.

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini berkaitan dengan pengetahuan Ibnu Mas'ud tentang beberapa perkara yang Nabi ﷺ sampaikan secara khusus kepadanya, termasuk dalam hal-hal yang tidak disampaikan kepada sahabat lain. Ini menunjukkan kedudukan ilmu Ibnu Mas'ud yang sangat tinggi di antara para sahabat.

3. Perbedaan Bacaan Surat Al-Lail dan Asy-Syams

Abu Darda' bertanya kepada Alqamah bagaimana Ibnu Mas'ud membaca surat Al-Lail. Alqamah membacakan:

> "Demi malam apabila menutupi, demi siang apabila terang benderang, dan demi laki-laki dan perempuan."

Abu Darda' lalu bersumpah bahwa Nabi ﷺ membacakan surat ini kepadanya langsung dari mulut ke mulut dengan bacaan tersebut.

Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ini termasuk qira'at yang diterima secara khusus oleh sebagian sahabat, dan tidak boleh dijadikan pegangan bacaan umum yang menggantikan mushaf Utsmani. Imam An-Nawawi menambahkan bahwa ini menunjukkan keutamaan orang yang menerima ilmu langsung dari Nabi ﷺ, dan bahwa para sahabat saling mengoreksi dan saling belajar dalam hal bacaan Al-Qur'an.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyimpulkan bahwa hadits ini mengandung beberapa faedah penting: keutamaan doa memohon teman shalih, keutamaan Ibnu Mas'ud, keutamaan Abu Darda', dan pentingnya menerima riwayat dari sumber yang terpercaya.

---

Story Telling

Diceritakan bahwa Alqamah bin Qais — seorang tabi'in yang sangat tekun beribadah dan mendalam ilmunya — melakukan perjalanan jauh dari Kufah ke Syam. Sesampainya di sana, beliau tidak langsung mencari tempat tinggal atau urusan dagang, melainkan shalat dua rakaat dan berdoa memohon teman duduk yang shalih.

Allah ﷻ mengabulkan doanya dengan cara yang indah: beliau duduk di sebuah majelis, lalu datang seorang syaikh tua yang duduk di sampingnya. Ternyata beliau adalah Abu Darda', sahabat Nabi ﷺ yang terkenal dengan hikmah dan zuhudnya.

Abu Darda' — yang dikenal sebagai "hakim umat" (qadhi al-ummah) — tidak hanya menyambut Alqamah dengan hangat, tetapi langsung memuliakan saudara-saudara Alqamah di Kufah, yaitu Abdullah bin Mas'ud. Beliau menyebutkan keutamaan-keutamaan Ibnu Mas'ud yang mungkin tidak diketahui banyak orang, seolah-olah beliau ingin mengingatkan Alqamah agar menghargai gurunya dan tidak meremehkan ulama di negerinya.

Kemudian Abu Darda' bertanya tentang bacaan Ibnu Mas'ud, dan ketika Alqamah membacakannya, beliau bersumpah bahwa Nabi ﷺ sendiri yang mengajarkan bacaan itu kepadanya langsung. Ini menunjukkan bahwa ilmu itu diambil dari sumbernya yang terpercaya, dan bahwa para sahabat saling mengingatkan dan saling menguatkan dalam kebenaran.

Hikmah: Doa yang ikhlas akan dikabulkan Allah dengan cara yang terbaik. Dan memuliakan ulama serta guru adalah adab para salafus shalih.

---

Kesimpulan Praktis

  1. Berdoalah memohon teman duduk yang shalih — karena teman yang baik adalah sebab keselamatan agama.
  2. Muliakanlah para ulama dan guru — sebagaimana Abu Darda' memuliakan Ibnu Mas'ud di hadapan Alqamah.
  3. Terimalah ilmu dari sumber yang terpercaya — jangan mengambil agama dari sembarang orang.
  4. Ketahuilah keutamaan para sahabat Nabi ﷺ — mereka adalah generasi terbaik yang Allah ﷻ pilih untuk menemani Nabi-Nya.
  5. Jangan meremehkan khidmah (pelayanan) — melayani orang shalih dan ulama adalah kehormatan, sebagaimana Ibnu Mas'ud melayani Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?