Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar sahabat Az-Zubair bin Al-‘Awwam رضي الله عنه, yaitu bahwa Nabi ﷺ secara khusus menyebutnya sebagai hawari (penolong setia) beliau. Ini adalah pujian Nabi ﷺ langsung yang menegaskan kedudukan Zubair sebagai salah satu sahabat utama. Para ulama menjelaskan bahwa hawari berarti penolong yang tulus dan setia membela agama Allah dan Rasul-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama (Shahih Al-Bukhari no. 3719):
حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ ـ هُوَ ابْنُ أَبِي سَلَمَةَ ـ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ جَابِرٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ "إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا، وَإِنَّ حَوَارِيَّ الزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ"
Terjemahan: Dari Jabir رضي الله عنه, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya setiap nabi memiliki hawari, dan sesungguhnya hawari-ku adalah Az-Zubair bin Al-‘Awwam."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan makna hawari:
QS. Ali 'Imran [3]: 52
فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Terjemahan: "Maka ketika Isa merasakan keingkaran mereka, ia berkata, 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?' Para hawariyyun (penolong setia) berkata, 'Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.'"
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan hadits ini secara panjang, termasuk makna hawari dan keutamaan Zubair.
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga membahas makna hawari ketika menjelaskan hadits serupa.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna hawariyyun sebagai penolong setia Nabi Isa عليه السلام.
Penjelasan Rinci
Makna kata hawari:
Para ulama berbeda pendapat tentang asal makna hawari, namun semuanya bermuara pada satu makna inti: penolong yang tulus dan setia. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan beberapa pendapat dalam Fathul Bari, di antaranya:
- Berasal dari kata al-hawar yang berarti putih bersih — maksudnya hati yang bersih dari kotoran dan niat yang murni.
- Berasal dari al-hawariyyah yaitu sejenis makanan putih — dianalogikan sebagai orang yang bersih hatinya.
- Berarti nashir (penolong) dan mu'in (pembantu) — inilah makna yang paling masyhur, sebagaimana dalam QS. Ali 'Imran [3]: 52 di atas.
Keutamaan Az-Zubair bin Al-‘Awwam:
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa penyebutan Zubair sebagai hawari Nabi ﷺ adalah keutamaan yang sangat khusus (khushushiyyah). Ini menunjukkan:
- Kesetiaan Zubair dalam membela Islam sejak awal, termasuk ketika ia masih sangat muda.
- Keberaniannya di medan jihad — ia terkenal sebagai pahlawan dalam banyak peperangan, termasuk Badar, Uhud, dan lainnya.
- Kedekatan khusus dengan Nabi ﷺ, karena Nabi ﷺ menyebutnya sebagai penolong pribadi beliau.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hawari di sini bermakna penolong yang setia dan tulus, bukan dalam makna kenabian atau kerasulan. Jadi penyebutan ini adalah bentuk pujian dan pengakuan atas jasa dan kesetiaan Zubair.
Catatan penting: Hadits ini tidak berarti Zubair setara dengan para hawari Nabi Isa عليه السلام dalam semua sisi, melainkan menunjukkan bahwa Zubair adalah penolong utama Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana para hawari menjadi penolong Nabi Isa عليه السلام.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama menyebutkan bahwa hawari Nabi ﷺ bisa juga mencakup sahabat lain, namun hadits ini secara tegas dan khusus menyebut Zubair. Ibnu Hajar menegaskan bahwa penyebutan ini adalah nash (teks tegas) yang tidak bisa dipalingkan, dan ini adalah keutamaan khusus Zubair رضي الله عنه.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Az-Zubair bin Al-‘Awwam رضي الله عنه adalah salah satu sahabat yang paling awal masuk Islam. Ia masuk Islam ketika masih sangat muda, sekitar usia 15 atau 16 tahun. Ia adalah keponakan dari Khadijah رضي الله عنها (ibunya adalah Shafiyyah binti Abdul Muththalib, bibi Nabi ﷺ).
Dalam sebuah riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Zubair pernah berkata: "Aku berperang bersama Rasulullah ﷺ dalam semua peperangan." Ia juga dikenal sebagai orang pertama yang menghunus pedang di jalan Allah.
Ketika terjadi fitnah setelah wafatnya Utsman bin Affan رضي الله عنه, Zubair termasuk yang berusaha menghindari pertumpahan darah sesama Muslim. Ia akhirnya syahid dalam keadaan shalat, dan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه kemudian menyebutkan keutamaan-keutamaan Zubair.
Kesimpulan Praktis
- Mengenal keutamaan sahabat adalah bagian dari aqidah Ahlus Sunnah — kita mencintai mereka dan mengakui keutamaan mereka sebagaimana yang ditetapkan oleh Nabi ﷺ.
- Zubair bin Al-‘Awwam adalah teladan dalam kesetiaan, keberanian, dan pengorbanan untuk agama Allah.
- Meneladani sifat hawari — yaitu menjadi penolong agama Allah dengan tulus, ikhlas, dan setia, sesuai kemampuan kita masing-masing.
- Menjauhi ghuluw — kita memuliakan sahabat tanpa berlebihan, dan tidak mencela mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.