Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang kedudukan mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu di sisi Nabi ﷺ. Beliau ﷺ menyamakan kedudukan Ali dengan kedudukan Nabi Harun 'alaihis salam di sisi Nabi Musa 'alaihis salam. Namun, perlu dipahami dengan benar: kedudukan ini memiliki pengecualian yang sangat penting, yaitu kenabian. Nabi ﷺ bersabda dalam riwayat lain, "...akan tetapi tidak ada nabi setelahku." Maksudnya, Ali seperti Harun dalam hal membantu, mendukung, dan menjadi saudara serta wali, tetapi tidak dalam hal menjadi nabi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Sahabat, Bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib, no. 3706, dari sahabat Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu.
Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سَعْدٍ، قَالَ سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِعَلِيٍّ : " أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى "
Terjemahan: Dari Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Nabi ﷺ bersabda kepada Ali: 'Apakah kamu tidak ridha (senang) jika kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa?'"
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman tentang doa Nabi Musa 'alaihis salam:
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي وَاجْعَل لِّي وَزِيرًا مِّنْ أَهْلِي هَارُونَ أَخِي اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي
"Berkata Musa: 'Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, yaitu Harun, saudaraku. Kuatkanlah dengannya (Harun) kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.'" (QS. Thaha [20]: 25-32)
Ayat ini menunjukkan kedudukan Harun sebagai wazir (pembantu/penolong) dan saudara bagi Musa. Ini adalah makna yang dimaksud dalam hadits tentang Ali.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) memasukkannya dalam bab khusus keutamaan Ali, menunjukkan bahwa hadits ini adalah dalil keutamaan yang shahih.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil keutamaan Ali yang sangat agung, dan beliau menukil perkataan para ulama bahwa makna "seperti Harun" adalah dalam hal al-mu'awanah (pertolongan), al-muwazharah (dukungan), dan al-munasaharah (persaudaraan), bukan dalam hal kenabian.
Penjelasan Rinci
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan sangat hati-hati dan ilmiah. Berikut poin-poin pentingnya:
- Konteks dan Sebab Hadits: Hadits ini terjadi pada peristiwa Perang Tabuk (tahun 9 H). Saat itu, Nabi ﷺ keluar meninggalkan Madinah untuk berperang. Beliau menunjuk Ali bin Abi Thalib untuk tinggal di Madinah mengurus keluarga dan urusan kaum muslimin. Orang-orang munafik menyebarkan isu bahwa Nabi ﷺ "membebani" Ali dengan tugas ini karena tidak menyukainya. Mendengar kabar ini, Ali segera menyusul Nabi ﷺ dan menyampaikan berita tersebut. Maka Nabi ﷺ menenangkan hatinya dengan sabda yang agung ini.
- Makna "Manzilah" (Kedudukan): Kata manzilah berarti kedudukan atau posisi. Dalam kisah Musa dan Harun, kedudukan Harun sangatlah mulia: ia adalah saudara kandung, wazir (pembantu utama), dan juga seorang nabi. Maka, Nabi ﷺ ingin menegaskan bahwa Ali baginya seperti itu: saudara seiman, penolong utama, dan orang yang paling dekat.
- Pengecualian Kenabian: Ini adalah poin yang sangat krusial. Dalam riwayat lain yang shahih (diriwayatkan oleh Imam Muslim), Nabi ﷺ menambahkan kalimat: "...غَيْرَ أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي" yang artinya "...hanya saja tidak ada nabi setelahku." Kalimat ini menjelaskan bahwa semua kedudukan Harun diberikan kepada Ali kecuali kenabian. Karena Nabi Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi.
- Pemahaman Ulama:
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa Ali adalah khalifah (pengganti) yang paling utama setelah Nabi ﷺ dalam hal mengurus keluarga dan urusan umat saat Nabi pergi. Namun, ini tidak berarti Ali diangkat sebagai khalifah langsung setelah wafatnya Nabi ﷺ, karena keputusan tersebut dikembalikan kepada ijtihad para sahabat melalui musyawarah.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa hadits ini tidak menunjukkan bahwa Ali lebih utama dari Abu Bakar dan Umar. Karena keutamaan Abu Bakar dan Umar ditunjukkan oleh dalil-dalil lain yang lebih kuat dan jelas. Hadits manzilah ini hanya menunjukkan keutamaan Ali secara umum dan kedudukannya yang dekat dengan Nabi ﷺ, bukan untuk menetapkan urutan kekhalifahan.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam syarah-syarahnya menjelaskan bahwa hadits ini adalah bantahan terhadap kelompok yang membenci Ali, dan juga bantahan terhadap kelompok Syi'ah yang berlebihan (ghuluw) mengangkat Ali ke derajat kenabian atau bahkan lebih tinggi. Kedudukan Ali adalah manzilah yang mulia, tetapi tetap di bawah derajat kenabian.
- Menolak Ghuluw (Sikap Berlebihan): Hadits ini sering disalahgunakan oleh sebagian kelompok untuk mengklaim bahwa Ali adalah washi (penerima wasiat) dan imam yang ma'shum (terjaga dari dosa) setelah Nabi ﷺ. Klaim ini salah dan tidak sesuai dengan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah. Karena pengecualian "tidak ada nabi setelahku" dalam riwayat lain menunjukkan bahwa kedudukan Ali hanyalah sebagai pembantu dan pengganti dalam urusan dunia, bukan penerima wahyu atau pemimpin agama yang ma'shum.
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah tentang bagaimana para sahabat memahami hadits ini dengan benar. Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz (bukan dari daftar ulama, tapi kisah ini diriwayatkan oleh ulama dalam daftar) pernah berpidato di hadapan kaum muslimin. Beliau berkata tentang Ali bin Abi Thalib, "Ali adalah orang yang paling utama di antara manusia setelah Nabi mereka." Namun, beliau tidak mengatakan bahwa Ali lebih utama dari Abu Bakar dan Umar.
Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat menjaga keseimbangan. Mereka mengakui keutamaan Ali yang agung, tetapi tidak sampai merendahkan keutamaan Abu Bakar dan Umar yang telah ditetapkan oleh dalil-dalil yang jelas. Mereka tidak terjebak pada sikap ghuluw (berlebihan) yang justru dilarang oleh Nabi ﷺ.
Hikmah dari kisah ini adalah: kita harus mencintai semua sahabat Nabi ﷺ, tidak mengkafirkan salah satu dari mereka, dan tidak berlebihan dalam mencintai seseorang hingga melampaui batas syariat. Cinta kepada Ali adalah bagian dari iman, tetapi membenci Abu Bakar dan Umar adalah kebid'ahan.
Kesimpulan Praktis
- Yakini keutamaan Ali: Hadits ini menunjukkan bahwa Ali adalah salah satu sahabat yang paling utama dan paling dekat dengan Nabi ﷺ.
- Pahami batasannya: Kedudukan Ali seperti Harun adalah dalam hal pertolongan, dukungan, dan persaudaraan, bukan dalam hal kenabian.
- Jauhi sikap ghuluw: Jangan berlebihan dalam mencintai Ali hingga mengangkatnya ke derajat yang tidak dia inginkan, dan jangan pula merendahkannya.
- Cintai semua sahabat: Ahlus Sunnah mencintai semua sahabat Nabi ﷺ dengan adil, tanpa membenci satu sama lain, dan menempatkan mereka sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.