Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 3698 tentang Keutamaan Uthman dan penjelasan uzur ketidakhadirannya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah bantahan ilmiah dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma terhadap orang yang mencela Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu karena ketidakhadirannya dalam tiga peristiwa besar: Perang Uhud, Perang Badar, dan Bai'at Ridwan. Ibnu Umar menjelaskan bahwa ketidakhadiran Utsman bukanlah bentuk kelemahan iman atau pelarian dari kewajiban, melainkan ada uzur dan kehormatan besar dari Rasulullah ﷺ. Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak menghakimi para sahabat dengan prasangka buruk, karena Allah telah memaafkan mereka dan kedudukan mereka di sisi Nabi ﷺ sangat mulia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Sahabat Nabi ﷺ, Bab Keutamaan Utsman bin Affan, no. 3698. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Sahabat, Bab Keutamaan Utsman, no. 6279, dari jalur yang sama.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ عَفَا اللّٰهُ عَنْهُمْ

"Dan sungguh, Allah telah memaafkan mereka." (QS. Ali 'Imran [3]: 155)

Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang lari pada Perang Uhud, termasuk di antaranya Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Allah secara tegas menyatakan bahwa mereka telah dimaafkan.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (7/47) menjelaskan panjang lebar hadits ini dan menegaskan bahwa ketidakhadiran Utsman dari Badar adalah karena izin Rasulullah ﷺ untuk merawat istrinya Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ yang sedang sakit, dan beliau ﷺ menjanjikan pahala dan bagian harta rampasan seperti peserta Badar.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (16/93) menyebutkan bahwa hadits ini termasuk dalil keutamaan Utsman yang sangat besar, karena Rasulullah ﷺ sendiri yang membaiatnya dengan tangannya yang mulia.

Penjelasan Rinci

Hadits ini dimulai dengan kisah seorang laki-laki dari Mesir yang datang berhaji. Ia melihat sekelompok orang Quraisy sedang duduk, dan di antara mereka ada Abdullah bin Umar. Orang Mesir itu bertanya tentang tiga hal yang sering dijadikan alat untuk mencela Utsman bin Affan:

Pertama: Pelarian Utsman pada Perang Uhud

Benar, Utsman termasuk di antara orang-orang yang mundur saat Perang Uhud. Namun perlu diketahui bahwa Allah Ta'ala telah menurunkan ayat yang secara khusus memaafkan mereka yang mundur pada perang tersebut. Ibnu Umar bersaksi: "Aku bersaksi bahwa Allah telah memaafkannya dan mengampuninya." Ini adalah kesaksian dari seorang sahabat yang mulia, dan didukung oleh nash Al-Qur'an.

Kedua: Ketidakhadiran Utsman pada Perang Badar

Ini bukan karena Utsman menghindar, melainkan karena istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ, sedang sakit keras. Rasulullah ﷺ memerintahkan Utsman untuk tinggal merawatnya. Dan sebagai penghormatan, beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya engkau mendapatkan pahala seorang laki-laki yang menghadiri Badar dan bagiannya (dari harta rampasan)." Ruqayyah wafat pada hari kedatangan Zaid bin Haritsah ke Madinah membawa kabar kemenangan Badar. Maka Utsman tidak sempat ikut serta, namun mendapat pahala penuh.

Ketiga: Ketidakhadiran Utsman pada Bai'at Ridwan

Peristiwa ini terjadi di Hudaibiyah. Rasulullah ﷺ mengutus Utsman ke Mekkah untuk menyampaikan pesan beliau kepada kaum Quraisy. Ketika tersiar kabar bahwa Utsman telah dibunuh, Rasulullah ﷺ mengumpulkan para sahabat untuk berbaiat setia membela Islam dan tidak akan lari. Namun karena Utsman sedang berada di Mekkah, Rasulullah ﷺ meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya (atau tangan beliau sendiri) dan bersabda: "Ini adalah tangan Utsman." Maka beliau membaiat atas nama Utsman. Ini adalah kehormatan yang sangat besar, karena tidak semua sahabat mendapatkan baiat langsung dari tangan Nabi ﷺ atas nama dirinya.

Pelajaran dari Ibnu Umar:

Ibnu Umar menutup dengan berkata kepada orang Mesir itu: "Bawalah penjelasan ini sekarang bersamamu." Artinya, simpanlah dan jangan engkau jadikan alasan untuk mencela Utsman. Ini adalah metode pendidikan yang sangat indah: menjawab syubhat dengan ilmu, bukan dengan emosi atau kemarahan.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (7/47) menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa orang yang memiliki uzur syar'i dalam meninggalkan suatu amal kebaikan, maka ia tetap mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya, jika uzurnya benar-benar menghalangi dan niatnya tulus.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin (4/128) menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalil wajibnya menjaga lisan dari mencela para sahabat, karena mereka adalah generasi terbaik dan telah dipilih Allah untuk menemani Nabi-Nya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika terjadi fitnah besar di masa pemerintahan Utsman, sebagian orang mulai menyebarkan kebohongan tentang beliau. Maka para sahabat senior seperti Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, dan lainnya berusaha meluruskan. Namun di antara kisah yang paling indah adalah kisah Abdullah bin Umar ini.

Ibnu Umar adalah seorang sahabat yang sangat hati-hati dan zuhud. Beliau tidak mudah berbicara, namun ketika berbicara, beliau berbicara dengan ilmu. Ketika orang Mesir itu datang dengan pertanyaan-pertanyaan yang bernuansa provokatif, Ibnu Umar tidak marah dan tidak menghardiknya. Beliau menjawab dengan tenang, satu per satu, dengan dalil dan fakta sejarah yang benar. Beliau bahkan mengajak orang itu untuk "membawa penjelasan ini bersamanya" — artinya, jadikan ini sebagai bekal ilmu, bukan sebagai alat fitnah.

Ini mengajarkan kita: ketika ada orang yang salah paham tentang Islam atau tentang para sahabat, maka cara terbaik adalah menjawab dengan ilmu dan kelembutan, bukan dengan kemarahan. Karena kemarahan hanya akan menambah permusuhan, sedangkan ilmu akan membuka pintu hidayah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan mencela para sahabat — mereka adalah generasi terbaik umat ini dan telah dimaafkan oleh Allah.
  2. Ketidakhadiran Utsman dari Badar dan Bai'at Ridwan adalah bentuk kehormatan, bukan kekurangan. Ia mendapat pahala penuh dan baiat langsung dari Nabi ﷺ.
  3. Jika ada syubhat tentang para sahabat, jawablah dengan ilmu sebagaimana Ibnu Umar menjawab dengan tenang dan argumentatif.
  4. Orang yang memiliki uzur syar'i dalam meninggalkan amal kebaikan tetap mendapat pahala jika niatnya tulus dan uzurnya benar.
  5. Jangan mudah terprovokasi oleh pertanyaan-pertanyaan yang bernuansa fitnah, tetapi hadapilah dengan hikmah dan pelajaran yang baik.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi