Penjelasan Hadits Bukhari No. 3670 tentang Pernyataan Nabi memilih Rakan Tertinggi di akhir hayat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan saat-saat terakhir kehidupan Nabi ﷺ, ketika beliau mengucapkan "فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى" (bersama Kekasih Yang Maha Tinggi) tiga kali, memilih bertemu Allah daripada tetap di dunia. Hadits ini juga memuat penjelasan 'Aisyah رضي الله عنها tentang hikmah dua khutbah (khutbah Abu Bakar dan Umar رضي الله عنهما) sepeninggal Nabi ﷺ, yang keduanya membawa manfaat besar bagi kaum muslimin.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang disebutkan dalam hadits:

QS. Ali 'Imran [3]: 144

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Terjemahan: "Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Fadha'il ash-Shahabah, Bab Qaul an-Nabi ﷺ "Lau Kuntu Muttakhidzan Khalilan". Perawi dari 'Aisyah رضي الله عنها melalui jalur Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakr.

Hadits lain yang semakna diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah رضي الله عنها, bahwa Nabi ﷺ bersabda saat wafat: "اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الأَعْلَى" — "Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, dan pertemukanlah aku dengan Kekasih Yang Maha Tinggi."

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan panjang lebar hadits ini, termasuk makna "الرَّفِيقِ الأَعْلَى" dan konteks dua khutbah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna "الرَّفِيقِ الأَعْلَى" sebagai Allah, para malaikat, para nabi, dan para shiddiqin di tempat tertinggi.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat 144 Surah Ali 'Imran yang dibaca Abu Bakar dalam khutbahnya.

Penjelasan Rinci

Makna "فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى" (Bersama Kekasih Yang Maha Tinggi):

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa "الرَّفِيقِ الأَعْلَى" bermakna Allah سبحانه وتعالى, para malaikat, para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shalih. Ini adalah tempat tertinggi di surga, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa [4]: 69. Nabi ﷺ memilih bertemu dengan Allah dan para kekasih-Nya di tempat yang paling tinggi, bukan memilih tetap di dunia.

Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa pengulangan ucapan ini tiga kali menunjukkan betapa kuatnya kerinduan Nabi ﷺ kepada Allah dan betapa beliau sangat yakin akan pertemuan dengan-Nya.

Konteks Dua Khutbah (Khutbah Abu Bakar dan Umar رضي الله عنهما):

'Aisyah رضي الله عنها menceritakan bahwa setelah wafatnya Nabi ﷺ, terjadi keguncangan besar di kalangan kaum muslimin. Sebagian orang murtad, sebagian ragu, dan di antara mereka ada orang-orang munafik yang menyembunyikan kemunafikannya.

Khutbah Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه: Umar berdiri dan berkhutbah dengan keras, menakut-nakuti orang-orang, dan menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak wafat. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Umar saat itu sangat terguncang dan belum menerima kenyataan wafatnya Nabi ﷺ. Khutbah Umar ini, meskipun lahir dari perasaan yang kuat, tetap bermanfaat karena beliau menegaskan pentingnya berpegang teguh pada Islam dan tidak meninggalkannya. Allah menjadikan khutbah ini sebagai penahan bagi orang-orang munafik yang ingin memanfaatkan situasi.

Khutbah Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه: Abu Bakar kemudian berdiri dan berkhutbah dengan tenang dan penuh hikmah. Beliau membacakan ayat:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ...

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah obat bagi hati yang guncang. Abu Bakar mengingatkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia yang akan wafat, sebagaimana rasul-rasul sebelumnya. Yang harus dipegang adalah agama Islam, bukan pribadi Nabi ﷺ semata. Mendengar ayat ini, Umar berkata (sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain): "Seakan-akan aku baru mendengar ayat ini untuk pertama kalinya." Hati kaum muslimin pun kembali tenang dan teguh.

Perbedaan Pendapat di Antara Ulama:

Sebagian ulama menjelaskan bahwa khutbah Umar yang "menakut-nakuti" itu adalah bentuk ijtihad beliau dalam kondisi darurat untuk menjaga stabilitas umat. Sementara khutbah Abu Bakar adalah penjelasan yang tenang dan berbasis dalil. Keduanya saling melengkapi: Umar menjaga semangat dan keteguhan, Abu Bakar memberikan pemahaman yang benar. Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa Allah menjadikan kedua khutbah itu bermanfaat: yang pertama untuk mencegah kemurtadan, yang kedua untuk menegakkan pemahaman yang benar.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, ketika Nabi ﷺ sedang sakit menjelang wafat, beliau bersandar pada dada 'Aisyah رضي الله عنها. Di saat-saat terakhir, beliau mengangkat pandangannya ke langit dan berbisik: "فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى" — tiga kali. 'Aisyah memahami bahwa beliau sedang memilih untuk bersama Allah, para nabi, para shiddiqin, dan para syuhada di tempat tertinggi.

Kemudian, ketika berita wafatnya beliau tersebar, Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه — yang dikenal sangat kuat dan tegas — berdiri di hadapan orang banyak dan berkata dengan penuh emosi bahwa Nabi ﷺ tidak wafat. Beliau belum mampu menerima kenyataan itu. Sementara Abu Bakar رضي الله عنه, yang saat itu berada di luar, segera datang, menenangkan Umar, dan membacakan ayat Ali 'Imran 144. Umar kemudian berkata: "Seakan-akan aku baru mendengar ayat ini." Hati Umar pun tenang, dan hati kaum muslimin pun kembali teguh.

Hikmahnya: dalam menghadapi musibah besar, kita membutuhkan orang yang tenang dan berilmu seperti Abu Bakar, dan orang yang berani dan tegas seperti Umar. Keduanya adalah kekasih Nabi ﷺ yang saling melengkapi.

Kesimpulan Praktis

  1. Cintailah Allah di atas segala-galanya. Nabi ﷺ memilih "الرَّفِيقِ الأَعْلَى" karena kerinduannya kepada Allah melebihi cintanya kepada dunia.
  2. Pegang teguh Al-Qur'an dan Sunnah, bukan pribadi manusia. Abu Bakar mengingatkan bahwa Nabi ﷺ adalah rasul yang akan wafat, sedangkan Islam tetap tegak.
  3. Hikmah dalam menghadapi musibah. Umar mengajarkan keberanian dan keteguhan, Abu Bakar mengajarkan ketenangan dan ilmu. Keduanya diperlukan.
  4. Jangan mudah goyah. Ayat Ali 'Imran 144 adalah obat bagi hati yang guncang. Bacalah dan renungkanlah ketika menghadapi kesulitan.
  5. Doa Nabi ﷺ di akhir hayat: "اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الأَعْلَى" — ajarkan dan amalkan doa ini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?