Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan larangan keras menyeret pakaian (bisa sarung, gamis, atau kain) karena sombong. Ancaman bagi pelakunya adalah Allah tidak akan melihatnya dengan pandangan rahmat pada hari kiamat. Namun, hadits ini juga memberikan kabar gembira bahwa jika seseorang memakai pakaiannya tanpa niat sombong, seperti yang terjadi pada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, maka hal itu tidaklah berdosa. Yang menjadi ukuran adalah niat dan keadaan hati seseorang.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Sahabat Nabi ﷺ, Bab Pernyataan Nabi ﷺ 'Seandainya Aku Mengambil Seorang Kekasih', no. 3665. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Pakaian dan Perhiasan, Bab Larangan Menyeret Pakaian Karena Sombong, no. 2088.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
QS. Al-Isra' [17]: 37
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
"Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung."
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa larangan dalam hadits ini terkait dengan sifat sombong, bukan sekadar memakai pakaian yang panjang. Beliau menukil penjelasan para ulama bahwa yang dimaksud dengan "menyeret pakaian" adalah melakukannya dengan sombong dan angkuh.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Larangan Menyeret Pakaian Karena Sombong
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan dalam hadits ini adalah untuk orang yang menyeret pakaiannya dengan sombong. Adapun jika seseorang menyeret pakaiannya tanpa sombong, maka hukumnya makruh (tidak disukai), bukan haram. Beliau juga menjelaskan bahwa sebagian ulama berpendapat hukumnya haram secara mutlak, namun pendapat yang lebih kuat adalah yang membedakan antara yang sombong dan yang tidak.
2. Kisah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa Abu Bakar radhiyallahu 'anhu adalah orang yang sangat berhati-hati. Ketika beliau mendengar hadits ini, beliau langsung khawatir karena salah satu sisi pakaiannya sering mengendur dan terseret. Maka Nabi ﷺ menenangkannya dengan sabda: "Sesungguhnya kamu tidak melakukan itu dengan sombong."
Ini menunjukkan bahwa yang menjadi tolok ukur adalah niat dan keadaan hati. Abu Bakar tidak berniat sombong, bahkan beliau berusaha menjaga pakaiannya agar tidak terseret. Maka beliau tidak terkena ancaman hadits ini.
3. Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa larangan menyeret pakaian ini berkaitan dengan sifat sombong yang merupakan salah satu dosa besar. Beliau menukil bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi." (HR. Muslim). Maka sifat sombong ini sangat tercela dan harus dijauhi oleh setiap muslim.
4. Pelajaran dari Hadits Ini
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan beberapa hal:
- Pentingnya menjaga diri dari sifat sombong dalam segala hal, termasuk dalam berpakaian
- Adab berpakaian yang baik adalah tidak berlebihan dan tidak sombong
- Niat yang baik dapat menghilangkan dosa dari perbuatan yang tampak seperti dosa
- Sikap Abu Bakar yang langsung bertanya ketika ragu adalah teladan dalam menuntut ilmu
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ada seorang laki-laki yang berjalan dengan memakai pakaiannya dengan sombong, ia menyisir rambutnya dengan bangga. Maka Allah membenamkannya ke dalam bumi, dan ia terus tenggelam ke dalamnya hingga hari kiamat." (HR. Al-Bukhari no. 5788 dan Muslim no. 2088)
Kisah ini menunjukkan betapa bahayanya sifat sombong. Orang tersebut tidak hanya diancam tidak dilihat oleh Allah pada hari kiamat, tetapi bahkan dibenamkan ke dalam bumi sebagai balasan atas kesombongannya.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa kisah ini adalah peringatan keras bagi kita agar tidak berbangga diri dengan penampilan, harta, atau kedudukan. Kesombongan adalah sifat yang sangat dibenci Allah dan dapat menghapus amal kebaikan seseorang.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi sifat sombong dalam segala hal, termasuk dalam berpakaian. Menyeret pakaian dengan sombong adalah perbuatan yang diancam dengan tidak dilihatnya Allah pada hari kiamat.
- Perhatikan niat dan keadaan hati. Jika seseorang memakai pakaian panjang tanpa niat sombong, seperti yang terjadi pada Abu Bakar, maka hal itu tidaklah berdosa. Namun tetap disunnahkan untuk menjaga pakaian agar tidak berlebihan.
- Teladani sikap Abu Bakar yang langsung bertanya ketika merasa ragu tentang suatu hukum. Ini menunjukkan pentingnya bertanya kepada ulama ketika ada hal yang tidak kita pahami.
- Jadikan hadits ini sebagai pengingat untuk selalu rendah hati dan tidak berbangga diri dengan penampilan, harta, atau kedudukan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.