Penjelasan Hadits Bukhari No. 3655 tentang Keutamaan Abu Bakar, Umar, dan Utsman

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat Nabi ﷺ pada masa beliau masih hidup sudah mengakui keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai manusia terbaik setelah Nabi ﷺ, kemudian Umar bin al-Khaththab, lalu Utsman bin Affan. Ini bukan sekadar pendapat pribadi, tetapi pengakuan yang didasari ilmu dan kedekatan mereka dengan Nabi ﷺ, sehingga menjadi dasar aqidah Ahlus Sunnah tentang urutan keutamaan para khalifah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Keutamaan Para Sahabat Nabi ﷺ, Bab Keutamaan Abu Bakar Setelah Nabi ﷺ (no. 3655), dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ ﷺ فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رضى الله عنهم

Terjemahan: "Kami biasa membandingkan orang-orang tentang siapa yang lebih baik pada masa hidup Rasulullah ﷺ. Kami menganggap Abu Bakar sebagai yang terbaik, kemudian Umar, dan kemudian Utsman."

Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan keutamaan para sahabat secara umum, firman Allah:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

QS. At-Taubah [9]: 100

Terjemahan: "Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menjelaskan bahwa para sahabat Nabi ﷺ memiliki kebiasaan membandingkan dan menilai siapa di antara manusia yang paling utama. Ini bukanlah tindakan sia-sia, melainkan bagian dari upaya mereka mengenali kedudukan orang-orang yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ dan paling banyak berkorban untuk Islam. Hasilnya, mereka sepakat menempatkan Abu Bakar ash-Shiddiq di urutan pertama, lalu Umar bin al-Khaththab, lalu Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhum.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini dan hadits-hadits semisalnya menjadi dalil Ahlus Sunnah dalam menetapkan urutan keutamaan para khalifah: Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman, lalu Ali radhiyallahu 'anhum. Beliau menegaskan bahwa urutan ini bukanlah rekayasa politik, tetapi pengakuan yang muncul dari kalangan sahabat sendiri, bahkan sejak masa Nabi ﷺ masih hidup.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perkataan Ibnu Umar "kami biasa membandingkan" (كُنَّا نُخَيِّرُ) menunjukkan bahwa penilaian ini dilakukan secara terbuka dan berulang-ulang di kalangan sahabat, bukan hanya sekali. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami kata "نُخَيِّرُ" di sini bermakna "kami mengutamakan" atau "kami menilai lebih baik," yang menunjukkan adanya kesepakatan umum di kalangan sahabat tentang urutan ini.

Ibnu Katsir dalam kitabnya menyebutkan bahwa keutamaan Abu Bakar di atas seluruh umat setelah Nabi ﷺ adalah perkara yang disepakati oleh Ahlus Sunnah, dan hadits ini termasuk dalil yang paling jelas. Beliau juga menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sendiri mengakui keutamaan Abu Bakar dan Umar, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat yang shahih.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa keutamaan para sahabat ini berkaitan erat dengan kedalaman iman, ketakwaan, pengorbanan harta dan jiwa, serta kedekatan mereka dengan Nabi ﷺ. Abu Bakar adalah orang pertama yang membenarkan Nabi ﷺ dalam peristiwa Isra' Mi'raj, menemani beliau di gua Tsur, dan mengorbankan seluruh hartanya untuk Islam. Umar dikenal dengan keadilan dan keberaniannya, dan Utsman dikenal dengan kedermawanannya serta pengumpulan mushaf Al-Qur'an.

Perlu dicatat bahwa hadits ini tidak berarti merendahkan sahabat lain seperti Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Ahlus Sunnah mencintai seluruh sahabat dan mengakui keutamaan masing-masing, namun tetap menetapkan urutan keutamaan sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil shahih. Ini adalah sikap pertengahan: tidak berlebihan (ghuluw) terhadap sebagian sahabat hingga merendahkan yang lain, dan tidak pula merendahkan keutamaan yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat yang sangat teliti dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Beliau pernah berkata tentang keutamaan para sahabat dengan penuh adab dan ilmu, tidak berdasarkan hawa nafsu. Dalam sebuah riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma pernah ditanya tentang keutamaan para khalifah, dan beliau menjawab dengan urutan yang sama: Abu Bakar, Umar, Utsman, lalu beliau diam. Ketika ditanya tentang Ali, beliau menyebutkan keutamaan Ali namun tetap tidak menempatkannya di atas Utsman. Sikap ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami urutan keutamaan ini dengan ilmu dan kejujuran, bukan dengan fanatisme.

Hikmahnya: para sahabat mengajarkan kepada kita bahwa mencintai dan mengakui keutamaan orang-orang shalih adalah bagian dari agama, dan hendaknya dilakukan dengan ilmu, bukan dengan sikap berlebihan atau merendahkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Akui dan cintai keutamaan para sahabat Nabi ﷺ, khususnya Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu 'anhum, sesuai urutan yang ditetapkan dalil.
  2. Hindari sikap ghuluw (berlebihan) terhadap salah satu sahabat hingga merendahkan yang lain, karena ini menyelisihi pemahaman Ahlus Sunnah.
  3. Pelajari sejarah para sahabat untuk mengambil teladan dalam keimanan, pengorbanan, dan ketakwaan.
  4. Jaga lisan dari mencela atau merendahkan para sahabat Nabi ﷺ, karena mereka adalah generasi terbaik yang telah dipuji Allah dan Rasul-Nya.
  5. Tanamkan dalam hati bahwa urutan keutamaan ini adalah bagian dari aqidah Ahlus Sunnah yang harus diyakini dengan ilmu dan adab.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?