Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan kedatangan Musailamah al-Kadzdzab kepada Nabi ﷺ dengan ambisi menjadi pengganti beliau, lalu Nabi ﷺ menolaknya dengan tegas sambil menyampaikan bahwa urusan kenabian bukanlah hak yang bisa diberikan kepada siapa pun. Nabi ﷺ juga mengabarkan tanda kenabian berupa mimpi dua gelang emas yang ditafsirkan sebagai dua pendusta yang akan muncul setelah beliau, yaitu Musailamah dan al-Ansi. Hadits ini menunjukkan kebenaran kenabian Nabi ﷺ dan bahwa segala urusan terjadi sesuai ketetapan Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Manaqib (Kitab Tanda-Tanda Kenabian), dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dan bagian akhirnya dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Adapun ayat yang berkaitan dengan tegaknya urusan kenabian dan bahwa itu murni pilihan Allah:
QS. Al-An'am [6]: 124
اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۚ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِندَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ
Terjemahan: "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya. Orang-orang yang berdosa itu akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan azab yang keras, karena mereka telah berbuat makar."
Ayat ini menegaskan bahwa kenabian bukanlah jabatan yang bisa diminta, diwariskan, atau dinegosiasikan, melainkan murni pilihan Allah. Hal ini sejalan dengan jawaban Nabi ﷺ kepada Musailamah.
Adapun hadits lain yang berkaitan, Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa tentang mimpi dua gelang emas dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dan Imam al-Bukhari meriwayatkannya dalam bab ini. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar dalam Kitab al-Manaqib, dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga membahas riwayat serupa.
Penjelasan Rinci
Pertama: Konteks kedatangan Musailamah
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Musailamah datang ke Madinah bersama rombongan besar kaumnya dari Yamamah. Ia menampakkan keislaman secara lahir, namun hatinya menyimpan ambisi kekuasaan. Ia berkata, "Jika Muhammad menjadikan aku penggantinya, aku akan mengikutinya." Ini menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar beriman, melainkan ingin bernegosiasi atas nama agama demi kepentingan pribadi.
Kedua: Jawaban tegas Nabi ﷺ
Nabi ﷺ mendatanginya dengan membawa sepotong pelepah kurma, bersama Tsabit bin Qais bin Syammas radhiyallahu 'anhu. Beliau berdiri di hadapan Musailamah dan berkata bahwa seandainya Musailamah meminta sepotong pelepah itu pun, beliau tidak akan memberikannya. Ini adalah pelajaran bahwa urusan kenabian dan kepemimpinan umat bukanlah perkara yang bisa diberikan atas permintaan seseorang, melainkan ketetapan Allah.
Nabi ﷺ juga bersabda: "Engkau tidak akan melampaui ketetapan Allah padamu. Jika engkau berpaling, Allah pasti akan membinasakanmu." Ini menunjukkan bahwa ancaman bukan dari Nabi ﷺ secara pribadi, melainkan ketetapan Allah atas orang yang berdusta terhadap-Nya.
Ketiga: Tanda kenabian berupa mimpi
Nabi ﷺ bersabda: "Aku melihat dalam tidurku dua gelang emas di tanganku, dan aku merasa gelisah karenanya. Lalu aku diperintahkan untuk meniup keduanya, maka aku meniupnya dan keduanya terbang. Aku menafsirkannya sebagai dua pendusta yang akan muncul setelahku." Ibnu Hajar menjelaskan bahwa mimpi para nabi adalah wahyu, dan tafsir Nabi ﷺ atas mimpinya sendiri adalah bagian dari tanda kenabian. Kedua pendusta itu adalah al-Ansi (Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi) dan Musailamah al-Kadzdzab.
Keempat: Bagaimana ulama memahami hadits ini
Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan kisah Musailamah secara rinci dan menegaskan bahwa ia adalah pendusta besar yang mengaku nabi. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa mimpi Nabi ﷺ adalah bagian dari mukjizat, karena apa yang beliau lihat terjadi persis sebagaimana tafsirnya. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa tanda-tanda kenabian yang muncul setelah wafatnya Nabi ﷺ semakin menguatkan kebenaran risalah beliau.
Kelima: Perbedaan pendapat
Para ulama tidak berbeda pendapat bahwa Musailamah adalah pendusta dan bahwa hadits ini adalah bagian dari mukjizat Nabi ﷺ. Yang mungkin berbeda adalah rincian tentang siapa al-Ansi dan bagaimana urutan munculnya kedua pendusta tersebut, namun intinya sama: keduanya adalah pendusta yang mengaku nabi setelah Nabi ﷺ wafat.
Story Telling
Dikisahkan bahwa setelah Nabi ﷺ wafat, Musailamah semakin berani mengaku sebagai nabi dan mengumpulkan pengikut di Yamamah. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu kemudian mengirim pasukan di bawah pimpinan Khalid bin al-Walid radhiyallahu 'anhu untuk menghadapinya. Dalam perang Yamamah, Musailamah terbunuh, dan Allah membinasakannya sebagaimana yang telah dikabarkan Nabi ﷺ dalam hadits ini. Ini adalah bukti nyata dari kebenaran sabda Nabi ﷺ bahwa "Allah pasti akan membinasakanmu" jika ia berpaling.
Ibnu Katsir menyebutkan dalam al-Bidayah wan Nihayah bahwa ketika Musailamah terbunuh, banyak orang yang sebelumnya ragu menjadi yakin bahwa kenabian Muhammad ﷺ adalah benar, karena apa yang beliau kabarkan terjadi persis.
Kesimpulan Praktis
- Kenabian dan kepemimpinan agama bukanlah perkara yang bisa diminta atau dinegosiasikan, melainkan murni ketetapan Allah.
- Hendaknya kita berhati-hati terhadap orang yang mengaku membawa kebenaran namun sebenarnya mencari kekuasaan dan kedudukan.
- Mimpi para nabi adalah wahyu, dan tafsir Nabi ﷺ atas mimpinya adalah bagian dari mukjizat dan tanda kenabian.
- Kita wajib beriman bahwa segala urusan terjadi sesuai ketetapan Allah, dan orang yang berdusta terhadap Allah pasti akan dibinasakan.
- Hendaknya kita mengikuti petunjuk Al-Qur'an dan sunnah Nabi ﷺ dengan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah, serta menjauhi segala bentuk kedustaan atas nama agama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.