Penjelasan Hadits Bukhari No. 3617 tentang Bumi menolak jasad murtad yang memfitnah Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan seorang lelaki Nasrani yang masuk Islam, lalu murtad kembali dan menuduh Nabi ﷺ tidak mengetahui wahyu kecuali dari apa yang ia tuliskan. Allah kemudian mematikannya, dan bumi berulang kali memuntahkan jasadnya hingga orang-orang menyadari bahwa itu bukan perbuatan manusia. Hadits ini termasuk tanda-tanda kenabian (dalil nubuwwah) dan menunjukkan bahwa Allah menjaga agama-Nya serta menghinakan orang yang mendustakan Nabi-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hijr [15]: 9

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Terjemahan: "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."

QS. At-Taubah [9]: 74 (potongan yang relevan)

وَقَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ

Terjemahan: "Dan mereka mengucapkan perkataan kekafiran, dan mereka telah kafir sesudah masuk Islam."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dicatat oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Manaqib, Bab Tanda-Tanda Kenabian dalam Islam, no. 3617. Imam Al-Bukhari menempatkannya dalam bab yang membahas bukti-bukti kerasulan Nabi ﷺ, menunjukkan bahwa peristiwa ini dipandang sebagai salah satu tanda kenabian.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab 'alamat an-nubuwwah (tanda-tanda kenabian), karena Allah menolong Nabi-Nya dan menghinakan orang yang menentangnya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas riwayat serupa) menegaskan bahwa peristiwa semacam ini adalah karamah bagi Nabi ﷺ dan hukuman bagi pendusta.
  • Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan kisah-kisah serupa sebagai bukti nyata bahwa Allah menjaga Nabi-Nya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

1. Kisah seorang penulis wahyu yang murtad

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ada seorang lelaki Nasrani yang masuk Islam, bahkan ia membaca dan menghafal Surah Al-Baqarah dan Ali 'Imran. Karena kemampuannya menulis, ia dipercaya menjadi salah satu penulis wahyu untuk Nabi ﷺ. Namun kemudian ia murtad dan kembali ke Nasrani.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa orang ini bukanlah penulis wahyu utama seperti Zaid bin Tsabit atau Ubay bin Ka'b, melainkan salah satu dari beberapa orang yang menulis untuk Nabi ﷺ. Setelah murtad, ia menyebarkan tuduhan keji: bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak mengetahui wahyu kecuali dari apa yang ia tuliskan. Tuduhan ini adalah bentuk pendustaan terhadap kenabian dan wahyu.

2. Hukuman Allah di dunia sebelum akhirat

Ketika orang itu mati, kaum Nasrani menguburnya. Namun di pagi hari, bumi memuntahkan jasadnya. Mereka mengira Muhammad dan para sahabatnya yang menggali kubur dan mengeluarkan jasad tersebut. Mereka pun menggali lebih dalam, tetapi bumi kembali memuntahkan jasadnya. Peristiwa ini terulang hingga mereka menyadari bahwa itu bukan perbuatan manusia, lalu mereka membiarkan jasadnya tergeletak.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa peristiwa ini adalah bentuk hukuman duniawi sebelum azab akhirat, sebagaimana Allah menghinakan orang yang menghina Nabi-Nya. Ini juga menjadi bukti bahwa bumi yang biasanya menerima jasad manusia, kali ini menolak menerima jasad pendusta.

3. Tanda-tanda kenabian (dalil nubuwwah)

Imam Al-Bukhari sengaja menempatkan hadits ini dalam Kitab Manaqib, bab tanda-tanda kenabian, untuk menunjukkan bahwa peristiwa ini adalah salah satu bukti kerasulan Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menegaskan bahwa Allah menjaga kehormatan Nabi-Nya dengan cara yang tidak bisa dilakukan manusia.

4. Peringatan terhadap kemunafikan dan riddah (murtad)

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung peringatan keras terhadap orang yang berpaling dari Islam setelah mengetahui kebenarannya. Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa orang yang murtad setelah mengenal kebenaran akan mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat, sebagaimana yang terjadi pada lelaki ini.

5. Perbedaan pendapat ulama tentang status penulis wahyu

Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar menyebutkan bahwa lelaki ini bukan termasuk penulis wahyu utama, karena para penulis wahyu utama seperti Zaid bin Tsabit, Mu'awiyah, dan lainnya tetap teguh dalam Islam. Ini menunjukkan bahwa Allah menjaga orang-orang yang benar-benar ikhlas dalam berkhidmat kepada agama-Nya.

Story Telling

Kisah seorang penulis yang mendustakan Nabi ﷺ

Diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — pelayan Nabi ﷺ yang setia — bahwa di Madinah ada seorang lelaki Nasrani yang masuk Islam. Ia begitu bersemangat hingga membaca dan menghafal Surah Al-Baqarah dan Ali 'Imran. Karena kepandaiannya menulis, ia dipercaya untuk menuliskan wahyu yang turun kepada Nabi ﷺ.

Namun, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, iman yang tidak tertanam kokoh di hati mudah goyah. Lelaki itu kembali kepada kekafiran. Lebih dari itu, ia menyebarkan tuduhan yang sangat keji: "Muhammad tidak tahu apa-apa kecuali apa yang aku tuliskan untuknya." Ia mengingkari bahwa wahyu itu datang dari Allah, dan menganggap dirinya berjasa atas apa yang ditulisnya.

Allah tidak membiarkan hamba-Nya yang saleh dihina. Ketika lelaki itu mati, kaum Nasrani menguburnya dengan layak. Tetapi keesokan paginya, mereka mendapati bumi telah memuntahkan jasadnya. Mereka menyangka Muhammad dan para sahabatnya yang menggali kubur dan mengeluarkan jasad itu karena dendam. Mereka pun menggali kubur yang lebih dalam. Namun pagi berikutnya, jasad itu kembali di atas tanah. Mereka menggali sedalam mungkin, tetapi bumi tetap menolak menerimanya.

Akhirnya mereka sadar: ini bukan perbuatan manusia. Ini adalah hukuman dari Allah yang Maha Kuasa. Mereka pun membiarkan jasad itu tergeletak di tanah, sebagai pelajaran bagi siapa saja yang berani mendustakan Nabi-Nya.

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa peristiwa ini adalah bukti nyata bahwa Allah menjaga agama-Nya dan menghinakan para pendusta. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hijr [15]: 9, "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."

Kesimpulan Praktis

  1. Iman harus dijaga hingga akhir hayat. Lelaki ini awalnya beriman, bahkan membaca Al-Qur'an, tetapi imannya goyah dan ia murtad. Kita harus memohon kepada Allah agar tetap teguh dalam Islam hingga akhir hayat.
  2. Jangan pernah meremehkan wahyu dan kenabian. Tuduhan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui wahyu kecuali dari tulisan manusia adalah kekafiran. Kita wajib meyakini bahwa Al-Qur'an adalah wahyu dari Allah, bukan buatan manusia.
  3. Allah menjaga agama-Nya. Peristiwa bumi yang memuntahkan jasad pendusta adalah bukti bahwa Allah tidak membiarkan agama-Nya dihina. Ini termasuk tanda-tanda kenabian yang disebutkan Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya.
  4. Hukuman bisa datang di dunia sebelum akhirat. Sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim, Allah kadang menghinakan pendusta di dunia agar menjadi pelajaran bagi orang lain.
  5. Hendaklah kita berhati-hati dalam berkhidmat kepada agama. Khidmat kepada agama bukan jaminan keselamatan jika hati tidak ikhlas. Kita harus selalu memohon keikhlasan dan keteguhan iman.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?