Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita adab menjenguk orang sakit, yaitu mendoakan kebaikan dan kesembuhan dengan ucapan yang menenangkan, seperti "لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللهُ" (tidak apa-apa, semoga menjadi pembersih dosa, insya Allah). Hadits ini juga menunjukkan bahwa seorang mukmin harus menerima takdir Allah dengan lapang dada, baik saat sakit maupun sehat, serta tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Manaqib, Bab Tanda-Tanda Kenabian dalam Islam, no. 3616, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ، حَدَّثَنَا خَالِدٌ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ دَخَلَ عَلَى أَعْرَابِيٍّ ـ يَعُودُهُ ـ قَالَ وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ قَالَ لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللهُ. فَقَالَ لَهُ "لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللهُ". قَالَ قُلْتَ طَهُورٌ كَلَّا بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُورُ ـ أَوْ تَثُورُ ـ عَلَى شَيْخٍ كَبِيرٍ، تُزِيرُهُ الْقُبُورَ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ "فَنَعَمْ إِذًا".
Terjemahan ringkas:
Nabi ﷺ menjenguk seorang badui yang sakit. Beliau mendoakannya, "Tidak apa-apa, semoga sakitmu menjadi pembersih dosa, insya Allah." Namun badui itu menjawab dengan nada kurang menerima, "Itu demam yang mendidih di tubuh orang tua, yang akan mengantarnya ke kubur." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Kalau begitu, ya benar."
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya mendoakan orang sakit dengan lafazh "لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللهُ" dan bahwa sakit bisa menjadi penghapus dosa. Beliau juga menyebutkan bahwa jawaban badui yang kurang sopan itu tidak membuat Nabi ﷺ marah, melainkan dijawab dengan lembut, menunjukkan akhlak mulia beliau.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
- Adab menjenguk orang sakit:
Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa doa yang diajarkan Nabi ﷺ ketika menjenguk orang sakit adalah "لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللهُ" (Tidak apa-apa, semoga menjadi pembersih dosa, insya Allah). Maknanya: sakitmu ini tidak mengapa, mudah-mudahan menjadi penghapus dosa-dosamu. Ini adalah doa yang menenangkan hati orang sakit dan mengingatkannya bahwa sakit adalah ujian yang bisa mendatangkan pahala.
- Sakit sebagai penghapus dosa:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa musibah, termasuk sakit, adalah salah satu cara Allah membersihkan dosa hamba-Nya. Ini sesuai dengan hadits-hadits lain yang menyebutkan bahwa tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah, sakit, atau kesedihan, melainkan Allah menghapuskan sebagian dosanya. Namun, pahala ini hanya didapat oleh orang yang bersabar dan mengharap pahala dari Allah.
- Sikap menerima takdir:
Badui dalam hadits ini mengeluh dan merasa putus asa. Namun Nabi ﷺ tidak membantah dengan keras, melainkan menjawab dengan lembut, "فَنَعَمْ إِذًا" (Kalau begitu, ya benar). Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang sudah berprasangka buruk kepada takdir Allah, kita tidak perlu berdebat dengannya, tetapi cukup mendoakan dan menasihati dengan cara yang baik. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menekankan bahwa seorang mukmin harus ridha dengan ketentuan Allah dan tidak berkeluh kesah, karena keluh kesah tidak akan mengubah takdir, justru menghilangkan pahala kesabaran.
- Akhlak Nabi ﷺ yang lembut:
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menyebutkan bahwa jawaban Nabi ﷺ yang lembut kepada badui ini adalah contoh bagaimana seorang muslim harus bersikap terhadap orang yang kurang sopan, yaitu dengan tetap menjaga adab dan tidak membalas dengan kekasaran.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, suatu hari Nabi ﷺ menjenguk seorang badui yang sedang sakit. Beliau masuk dengan wajah yang ramah dan mengucapkan doa kesembuhan. Namun badui itu menjawab dengan nada yang kurang baik, seolah-olah menolak doa Nabi ﷺ. Beliau tidak marah, tidak membentak, bahkan tidak membantah. Beliau hanya tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, ya benar."
Ini mengajarkan kita bahwa dakwah dan nasihat yang baik tidak harus selalu dengan kata-kata yang keras. Terkadang, diam dan bersikap lembut lebih efektif untuk membuka hati seseorang. Sahabat Ibnu Abbas yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang ulama besar di kalangan sahabat, yang dikenal dengan julukan Habrul Ummah (samudra ilmu umat). Beliau meriwayatkan banyak hadits tentang adab dan akhlak Nabi ﷺ, dan hadits ini adalah salah satu bukti betapa agungnya akhlak beliau.
Kesimpulan Praktis
- Ucapkan doa kesembuhan ketika menjenguk orang sakit, seperti yang diajarkan Nabi ﷺ: "لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللهُ" (Tidak apa-apa, semoga menjadi pembersih dosa, insya Allah).
- Jangan berputus asa dari rahmat Allah saat sakit. Yakinlah bahwa sakit adalah ujian yang bisa menjadi penghapus dosa jika dihadapi dengan sabar.
- Jaga adab dan kelembutan dalam menasihati orang lain, meskipun mereka merespons dengan kurang baik. Teladani akhlak Nabi ﷺ yang tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan.
- Terima takdir Allah dengan lapang dada, karena keluh kesah tidak akan mengubah apa pun, tetapi justru menghilangkan pahala kesabaran.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.