Penjelasan Hadits Bukhari No. 36 tentang Jihad bagian dari iman dengan ganjaran surga

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar berjihad di jalan Allah dengan niat yang ikhlas, yaitu karena iman kepada Allah dan membenarkan para rasul-Nya. Allah menjamin salah satu dari dua kebaikan bagi orang yang keluar berjihad: kembali dengan pahala dan ghanimah (harta rampasan perang), atau masuk surga. Hadits ini juga menunjukkan kerinduan Nabi ﷺ yang sangat besar untuk berjihad dan mati syahid, namun beliau menahan diri karena kasih sayang kepada umatnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab Al-Jihad min Al-Iman (Bab Jihad adalah bagian dari Iman), no. 36, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

QS. At-Taubah [9]: 111

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu adalah) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung."

Penjelasan Ulama:

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa jihad termasuk bagian dari iman, karena Nabi ﷺ menyebutkan bahwa orang yang keluar berjihad tidaklah didorong kecuali oleh iman dan pembenaran terhadap rasul-rasul Allah. Ini menunjukkan bahwa amal termasuk dalam hakikat iman menurut pemahaman Ahlus Sunnah.

Penjelasan Rinci

Makna "انتذب الله" (Allah telah mengundang/menjamin):

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "intadaba" di sini adalah Allah menjamin dan menanggung. Ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi para mujahid. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa jaminan Allah ini bersifat pasti, tidak mungkin diingkari, karena Allah Maha Menepati janji.

Syarat "لا يخرجه إلا إيمان بي وتصديق برسلي" (tidak mengeluarkannya kecuali iman kepada-Ku dan membenarkan rasul-rasul-Ku):

Ini adalah syarat yang sangat penting. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa amal tidak akan diterima kecuali dengan niat yang ikhlas karena Allah dan mengikuti syariat yang dibawa rasul. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Al-Iman untuk menunjukkan bahwa jihad yang diterima hanyalah yang lahir dari iman yang benar, bukan karena riya', sum'ah (ingin didengar orang), atau tujuan duniawi.

Dua Jaminan Allah:

  1. Dikembalikan dengan pahala atau ghanimah - jika ia selamat dan kembali, ia mendapat pahala di sisi Allah dan boleh jadi mendapat harta rampasan perang.
  2. Dimasukkan ke surga - jika ia terbunuh (syahid), maka ia masuk surga.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ini adalah bentuk kasih sayang Allah, di mana seorang muslim tidak akan rugi dalam berjihad. Apapun hasilnya, ia tetap mendapat kebaikan.

Kerinduan Nabi ﷺ untuk Mati Syahid:

Ucapan Nabi ﷺ "Aku sangat ingin dibunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan, kemudian dibunuh lagi..." menunjukkan keutamaan mati syahid yang sangat besar. Namun Nabi ﷺ menahan diri dari ikut serta dalam setiap pasukan karena khawatir memberatkan umatnya. Ini menunjukkan kasih sayang beliau yang luar biasa kepada umatnya.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa ini adalah bentuk syauq (kerinduan) Nabi ﷺ kepada kemuliaan syahadah, namun beliau lebih mengutamakan kemaslahatan umat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat sangat merindukan mati syahid. Di antaranya adalah kisah yang masyhur tentang seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi ﷺ:

"Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan dihapus?"

Maka Nabi ﷺ menjawab: "Ya, jika engkau terbunuh di jalan Allah dalam keadaan sabar, mengharap pahala, maju ke depan tidak mundur ke belakang."

Kemudian Nabi ﷺ bersabda: "Kecuali hutang. Sesungguhnya Jibril 'alaihis salam baru saja memberitahukan kepadaku tentang hal itu." (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa mati syahid adalah kedudukan yang sangat tinggi, namun tetap ada hal-hal yang harus diperhatikan, seperti hutang. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, memperhatikan seluruh aspek kehidupan.

Kesimpulan Praktis

  1. Niatkan setiap amal karena iman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya, bukan karena tujuan duniawi.
  2. Yakini jaminan Allah bagi orang yang berjihad di jalan-Nya - tidak ada kerugian, baik ia kembali dengan selamat maupun gugur sebagai syahid.
  3. Teladani kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya - beliau meninggalkan sesuatu yang sangat dicintainya demi kemaslahatan umat.
  4. Pahami bahwa jihad memiliki cakupan luas - jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, dan jihad melawan musuh yang nyata, semuanya membutuhkan keikhlasan.
  5. Jangan lupa bahwa amal diterima hanya dengan iman yang benar - iman kepada Allah dan membenarkan rasul-rasul-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?