Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu mukjizat dan tanda kenabian Nabi ﷺ. Beliau mengabarkan bahwa beliau akan mendahului umatnya di Hari Kiamat dan menjadi saksi atas amal perbuatan mereka. Beliau juga mengabarkan bahwa beliau dapat melihat telaganya (Al-Haudh) pada saat itu juga, serta mengabarkan akan ditaklukkannya bumi dan terkumpulnya harta kekayaan. Namun yang paling penting, Nabi ﷺ justru tidak khawatir umatnya akan jatuh ke dalam kesyirikan, melainkan khawatir mereka akan saling berebut dan berlomba-lomba dalam urusan dunia hingga saling membenci dan berkelahi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Manaqib, Bab Tanda-tanda Kenabian dalam Islam, no. 3596, dari sahabat Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan beliau sangat penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah [9]: 128)
Ayat ini menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya, yang juga tercermin dalam kekhawatiran beliau terhadap umatnya dalam hadits di atas.
Hadits terkait lainnya:
Dalam Shahih Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
"أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، مَنْ مَرَّ بِي شَرِبَ، وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهُ أَبَدًا"
"Aku akan mendahului kalian di telaga (Al-Haudh). Barangsiapa melewatiku, ia akan minum, dan barangsiapa minum darinya, ia tidak akan haus selamanya."
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul-Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk makna "فرطكم" (pendahulu kalian) dan hikmah shalatnya Nabi ﷺ di atas kuburan para syuhada Uhud. Beliau juga menukil penjelasan para ulama tentang makna "خزائن مفاتيح الأرض" (kunci-kunci perbendaharaan bumi).
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
1. Makna "أنا فرطكم" (Aku pendahulu kalian)
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "الفرط" adalah orang yang mendahului keluarganya untuk menyiapkan tempat bagi mereka. Nabi ﷺ mengabarkan bahwa beliau akan mendahului umatnya menuju telaga (Al-Haudh) untuk menyambut dan memberi minum kepada mereka yang beriman. Ini adalah kabar gembira sekaligus peringatan agar umatnya mempersiapkan diri.
2. Shalat Nabi ﷺ di atas kuburan para syuhada Uhud
Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah shalat jenazah yang dilakukan Nabi ﷺ untuk para syuhada Uhud, meskipun mereka telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bolehnya mendoakan dan menyalati orang yang telah meninggal, serta menunjukkan keutamaan para syuhada Uhud.
3. Kabar tentang Al-Haudh (Telaga)
Nabi ﷺ bersabda bahwa beliau melihat telaganya saat itu juga. Ini adalah salah satu mukjizat beliau, karena beliau dapat menyaksikan sesuatu yang ghaib yang akan terjadi di masa depan. Ibnu Hajar menukil bahwa para ulama bersepakat tentang keberadaan Al-Haudh dan bahwa ia adalah salah satu perkara ghaib yang wajib diimani.
4. Kabar tentang penaklukan bumi
Sabda beliau "أُعْطِيتُ خَزَائِنَ مَفَاتِيحِ الأَرْضِ" (aku telah diberikan kunci-kunci perbendaharaan bumi) adalah kabar ghaib yang terbukti setelahnya. Umat Islam berhasil menaklukkan Persia dan Romawi, dan harta kekayaan mereka menjadi ghanimah bagi umat Islam. Ini terjadi setelah wafatnya Nabi ﷺ, persis seperti yang beliau kabarkan.
5. Kekhawatiran Nabi ﷺ yang paling besar
Ini adalah bagian terpenting dari hadits ini. Nabi ﷺ tidak khawatir umatnya akan kembali kepada kesyirikan setelah beliau wafat, karena Allah telah menjamin kemurnian tauhid pada umat ini. Namun beliau khawatir umatnya akan "تَنَافَسُوا" (saling berlomba-lomba) dalam urusan dunia.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa "التنافس" (berlomba-lomba) dalam dunia akan membawa kepada "التحاسد" (saling hasud) dan "التقاطع" (saling memutuskan hubungan), yang akhirnya membawa kepada kehancuran. Ini persis seperti yang terjadi dalam sejarah umat Islam, di mana perebutan kekuasaan dan harta telah menyebabkan perpecahan dan peperangan di antara sesama muslim.
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini adalah peringatan keras bagi umat Islam agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, karena hal itu akan melahirkan permusuhan dan kebencian. Beliau juga menegaskan bahwa kecintaan kepada dunia adalah pangkal segala kesalahan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz (salah seorang khalifah Bani Umayyah yang dikenal zuhud) menjabat sebagai khalifah, beliau sangat takut terhadap fitnah dunia. Beliau sering menangis dan berkata: "Aku tidak takut kepada Allah karena kemiskinan, tetapi aku takut karena kekayaan dunia yang melimpah ini akan membuatku lalai dan tenggelam di dalamnya."
Beliau kemudian mengingat hadits Nabi ﷺ ini dan berkata: "Nabi ﷺ telah memperingatkan kita dari berlomba-lomba dalam urusan dunia. Demi Allah, aku tidak ingin menjadi orang yang menyebabkan umat ini saling berebut dunia setelahku."
Umar bin Abdul Aziz kemudian hidup dengan sangat sederhana, meninggalkan kemewahan istana, dan menghabiskan waktunya untuk beribadah dan memperbaiki kondisi rakyatnya. Beliau adalah contoh nyata seorang pemimpin yang memahami pesan hadits ini dan takut terjerumus ke dalam fitnah dunia.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada Al-Haudh - Kita wajib mengimani keberadaan telaga Nabi ﷺ di Hari Kiamat sebagai salah satu perkara ghaib yang dikabarkan oleh beliau.
- Meyakini kenabian dan mukjizat beliau - Hadits ini menunjukkan kebenaran kenabian Muhammad ﷺ karena kabar ghaibnya terbukti terjadi.
- Menjauhi sifat berlomba-lomba dalam urusan dunia - Kita harus berhati-hati agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, karena hal itu akan melahirkan hasad, permusuhan, dan perpecahan.
- Meneladani Nabi ﷺ dalam kasih sayang kepada umat - Beliau sangat khawatir terhadap keadaan umatnya, maka kita pun harus saling menasihati dan mengingatkan dalam kebaikan.
- Bersikap zuhud dan qana'ah - Hendaknya kita merasa cukup dengan apa yang Allah berikan dan tidak iri terhadap nikmat orang lain.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.