Penjelasan Hadits Bukhari No. 3579 tentang Mukjizat air memancar dari jari Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, sahabat Nabi ﷺ, dalam Shahih Al-Bukhari. Beliau mengisahkan dua mukjizat Nabi ﷺ: air yang memancar dari sela-sela jari beliau, dan makanan yang bertasbih ketika dimakan. Abdullah bin Mas'ud juga menyampaikan pelajaran penting: para sahabat memandang mukjizat sebagai berkah yang menambah keimanan, bukan sebagai ancaman. Hadits ini termasuk dalil kuat tentang tanda-tanda kenabian dan kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Qamar [54]: 1-2

وَالْقَمَرِ إِذَا اتَّسَقَ

"Demi bulan apabila telah purnama."

Ayat ini menunjukkan bahwa alam semesta tunduk kepada Allah, dan mukjizat adalah bukti kekuasaan-Nya.

QS. Al-Ma'idah [5]: 110

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَىٰ وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا ۖ وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ ۖ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي ۖ وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنكَ إِذْ جِئْتَهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ

"Ingatlah ketika Allah berfirman: 'Wahai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu, ketika Aku menguatkanmu dengan Ruhul Qudus...'"

Ayat ini menegaskan bahwa mukjizat para nabi terjadi dengan izin Allah, sebagai bukti kenabian.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Manakib, Bab Tanda-Tanda Kenabian dalam Islam, no. 3579.

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam kitab "Manakib" (keutamaan-keutamaan), khususnya bab tentang tanda-tanda kenabian, menunjukkan bahwa beliau memandangnya sebagai dalil kuat atas kenabian Nabi ﷺ.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk mukjizat yang mutawatir (diriwayatkan banyak jalur), karena banyak sahabat menyaksikan peristiwa air memancar dari jari Nabi ﷺ, seperti dalam hadits Anas bin Malik dan Jabir bin Abdullah.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran utama:

Pertama, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu menyatakan: "Kami biasa menganggap mukjizat sebagai berkah dari Allah, tetapi kalian menganggapnya sebagai peringatan." Ini menunjukkan perbedaan sikap antara para sahabat Nabi ﷺ dengan sebagian orang setelah mereka. Para sahabat melihat mukjizat sebagai karunia yang menambah keimanan dan ketakwaan. Sedangkan sebagian orang yang datang kemudian, ketika mendengar tanda-tanda kekuasaan Allah, justru merasa takut atau menganggapnya sebagai ancaman, bukan sebagai berkah.

Kedua, peristiwa air memancar dari sela-sela jari Nabi ﷺ. Ini terjadi dalam perjalanan ketika air sangat sedikit. Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat mencari sisa air, lalu beliau memasukkan tangan beliau ke dalam wadah dan air pun memancar dari sela-sela jari beliau. Ini adalah mukjizat yang disaksikan langsung oleh para sahabat.

Ketiga, makanan yang bertasbih ketika dimakan. Abdullah bin Mas'ud berkata: "Kami mendengar tasbih makanan ketika sedang dimakan." Ini menunjukkan bahwa benda mati pun bisa bertasbih kepada Allah dengan cara yang Allah kehendaki, dan ini adalah mukjizat khusus bagi Nabi ﷺ.

Pemahaman ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa mukjizat Nabi ﷺ tidak hanya terbatas pada satu jenis, tetapi beragam. Air yang memancar dari jari adalah mukjizat pada benda cair, sedangkan tasbih makanan adalah mukjizat pada benda padat. Keduanya menunjukkan kekuasaan Allah yang diberikan kepada Nabi-Nya.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa mukjizat para nabi adalah hal yang pasti dan tidak perlu diragukan. Beliau juga menegaskan bahwa mukjizat terjadi dengan izin Allah, bukan karena kekuatan nabi itu sendiri.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa peristiwa air memancar dari jari Nabi ﷺ terjadi berkali-kali dalam berbagai kesempatan, dan ini termasuk mukjizat yang paling jelas. Beliau juga menyebutkan bahwa tasbih makanan adalah bukti bahwa seluruh alam ini bertasbih kepada Allah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isra' [17]: 44.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa mukjizat adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang diberikan kepada para nabi untuk menguatkan risalah mereka. Beliau juga menegaskan bahwa mukjizat bukanlah tujuan akhir, tetapi sarana untuk mengenal Allah dan beriman kepada-Nya.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah makanan yang bertasbih itu benar-benar bersuara atau hanya diketahui oleh Nabi ﷺ saja. Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar — adalah bahwa para sahabat yang hadir saat itu benar-benar mendengar tasbih tersebut, karena Abdullah bin Mas'ud menggunakan kata "kami mendengar" (نَسْمَعُ), yang menunjukkan pengalaman langsung.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ. Beliau sering menyaksikan langsung mukjizat-mukjizat Nabi ﷺ, termasuk peristiwa air memancar dari jari beliau.

Suatu ketika, dalam perjalanan yang panjang dan panas, air bekal mereka hampir habis. Para sahabat mulai merasa cemas, karena tanpa air mereka tidak bisa berwudhu dan minum. Nabi ﷺ dengan tenang memerintahkan mereka mencari sisa air. Ketika wadah berisi sedikit air itu dibawa, Nabi ﷺ memasukkan tangan beliau yang mulia ke dalamnya. Tiba-tiba, air memancar dari sela-sela jari beliau seperti mata air. Para sahabat pun berwudhu dan minum hingga puas.

Abdullah bin Mas'ud berkata: "Sungguh, aku melihat air mengalir dari antara jari-jari Rasulullah ﷺ." Beliau juga menyaksikan makanan yang dimakan Nabi ﷺ bertasbih kepada Allah. Peristiwa ini semakin menguatkan keimanan para sahabat, dan mereka menyadari bahwa Nabi ﷺ benar-benar utusan Allah.

Hikmah: Mukjizat bukanlah untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menambah keimanan dan rasa syukur kepada Allah. Para sahabat menyambut mukjizat dengan hati yang lapang dan penuh syukur, bukan dengan keraguan atau ketakutan.

Kesimpulan Praktis

  1. Mukjizat adalah bukti kenabian. Hadits ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah benar-benar utusan Allah, dengan mukjizat yang disaksikan langsung oleh para sahabat.
  2. Mukjizat adalah berkah, bukan ancaman. Para sahabat memandang mukjizat sebagai karunia yang menambah keimanan. Kita pun hendaknya menyambut tanda-tanda kekuasaan Allah dengan syukur dan tawakal.
  3. Tasbih seluruh alam. Makanan yang bertasbih menunjukkan bahwa seluruh makhluk bertasbih kepada Allah, meskipun kita tidak selalu mendengarnya. Ini mengingatkan kita untuk selalu menjaga lisan dengan dzikir dan tasbih.
  4. Tawadhu dan tidak ghuluw. Mukjizat terjadi dengan izin Allah, bukan karena kekuatan manusia. Kita tidak boleh berlebihan dalam mengagungkan makhluk, tetapi tetap mengagungkan Allah sebagai sumber segala kekuasaan.
  5. Mengikuti pemahaman para sahabat. Abdullah bin Mas'ud dan para sahabat adalah generasi terbaik yang memahami agama dengan benar. Kita hendaknya mengikuti pemahaman mereka, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?