Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah teladan sempurna dalam akhlak mulia. Beliau tidak pernah berkata kotor atau berperilaku buruk, dan beliau mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah yang paling baik akhlaknya. Ini menjadi pedoman bagi kita untuk selalu memperbaiki akhlak dan menjauhi perkataan maupun perbuatan yang keji.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Al-Qalam [68]: 4
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Wa innaka la'ala khuluqin 'azhim.
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung."
QS. Al-Ahzab [33]: 21
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanatun liman kana yarjullaha wal yawmal akhira wa dzakarallaha katsira.
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3559) dari sahabat Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2321) dan lainnya.
Penjelasan ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (10/456) menjelaskan bahwa kata fahisy berarti orang yang banyak berkata keji, sedangkan mutafahhis adalah orang yang sengaja menampakkan kekejian dan keburukan. Nabi ﷺ bersih dari semua itu.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/106) berkata, "Hadits ini adalah pokok dalam keutamaan akhlak mulia. Orang yang paling baik akhlaknya adalah yang paling utama di sisi Allah."
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin (1/78) menekankan bahwa akhlak Nabi ﷺ adalah cerminan dari Al-Qur'an, sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
Penjelasan Rinci
Hadits ini datang dari sahabat mulia Abdullah bin 'Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma, seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits tentang sifat dan akhlak Nabi ﷺ. Dalam riwayat ini beliau bersaksi bahwa Nabi ﷺ:
- Tidak pernah berkata kotor – Kata fahisy artinya segala ucapan yang keji, kotor, dan tidak sopan. Baik dalam keadaan marah maupun senang, Nabi ﷺ selalu menjaga lisannya. Beliau tidak pernah mengumpat, mencela, atau melaknat manusia. Bahkan terhadap orang kafir sekalipun, beliau tidak pernah berkata kasar.
- Tidak berperilaku buruk – Kata mutafahhis artinya orang yang sengaja menampakkan perbuatan keji dan buruk. Nabi ﷺ tidak pernah melakukan hal itu. Beliau adalah orang yang paling lembut, pemaaf, dan pemalu. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun, tidak pernah beliau mengatakan 'ah' terhadap perbuatanku, dan tidak pernah beliau berkata 'mengapa kau lakukan ini?' atau 'mengapa tidak kau lakukan itu?'." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
- Sabda beliau: "Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya" – Ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah pada harta, keturunan, atau rupa, melainkan pada akhlak yang mulia. Sebagaimana sabda beliau dalam hadits lain: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah, dishahihkan al-Albani)
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (1/477) menjelaskan bahwa akhlak mulia mencakup: menahan amarah, pemaaf, lemah lembut, pemalu, dan senantiasa berbuat baik kepada sesama. Ini semua ada pada diri Nabi ﷺ dengan sempurna.
Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Bahjah Qulub al-Abrar (hal. 45) mengatakan bahwa orang yang paling baik akhlaknya adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, paling jujur lisannya, dan paling lapang dadanya.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma bahwa beliau pernah berkata: "Rasulullah ﷺ tidak pernah berkata kotor dan tidak pula berkata keji. Para sahabat biasa berkata: 'Kami melihat bahwa di kalangan kami, orang yang paling mulia akhlaknya adalah Rasulullah ﷺ.'" (HR. al-Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 305)
Suatu ketika ada seorang badui yang menarik jubah Nabi ﷺ dengan kasar hingga meninggalkan bekas di pundak beliau. Namun Nabi ﷺ justru tersenyum dan memenuhi permintaannya. Demikian mulianya akhlak beliau.
Kisah lain: Ketika seorang wanita Yahudi sering melemparkan sampah ke arah Nabi ﷺ, beliau tidak pernah membalas. Tatkala wanita itu sakit, Nabi ﷺ menjenguknya. Sang wanita pun terharu dan akhirnya masuk Islam. Ini menunjukkan bahwa akhlak mulia adalah dakwah yang paling efektif.
Kesimpulan Praktis
- Teladani akhlak Nabi ﷺ dalam setiap ucapan dan perbuatan. Jauhilah kata-kata kotor, cacian, dan gunjingan.
- Jadikan akhlak baik sebagai standar kemuliaan, bukan harta atau kedudukan.
- Perbaiki hubungan dengan sesama dengan senyum, lemah lembut, dan pemaaf.
- Ingatlah bahwa Rasulullah ﷺ adalah suri teladan terbaik dalam semua aspek kehidupan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.