Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan kegembiraan Rasulullah ﷺ ketika seorang sahabat bernama Al-Mudliji melihat kemiripan fisik antara Zaid bin Haritsah dan putranya, Usamah bin Zaid, lalu berkata, "Sesungguhnya sebagian kaki ini berasal dari sebagian yang lain." Ini menunjukkan bahwa kemiripan fisik antara orang tua dan anak adalah fitrah yang wajar, dan Rasulullah ﷺ sangat senang mendengar pengakuan tersebut karena menegaskan hubungan nasab yang sah antara Zaid dan Usamah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman tentang hubungan nasab dan persaudaraan:
QS. Al-Furqan [25]: 54
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا ۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا
"Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (mempunyai) keturunan dan mushaharah (hubungan perkawinan). Dan Tuhanmu adalah Maha Kuasa."
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Manakib, Bab Ciri-Ciri Nabi ﷺ, nomor 3555. Perawi dari kalangan sahabat adalah Aisyah radhiyallahu 'anha.
Kaitan dengan Ulama:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (6/609) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kegembiraan Rasulullah ﷺ ketika mendengar pengakuan tentang kemiripan fisik antara Zaid dan Usamah, karena hal itu membantah orang-orang yang meragukan hubungan nasab mereka.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (15/170) menyebutkan bahwa hadits ini termasuk mukjizat Nabi ﷺ dalam hal pengetahuan tentang nasab dan hubungan keluarga.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dari daftar rujukan:
1. Latar Belakang Kisah
Zaid bin Haritsah adalah sahabat yang diangkat sebagai anak oleh Rasulullah ﷺ sebelum diharamkannya adopsi dalam Islam. Setelah turun ayat yang mengharamkan adopsi (QS. Al-Ahzab: 4-5), Zaid kembali dipanggil dengan nama aslinya: Zaid bin Haritsah. Usamah adalah putra kandung Zaid dari Ummu Aiman. Ada sebagian orang yang meragukan hubungan nasab mereka karena Zaid berkulit putih sedangkan Usamah berkulit hitam (karena ibunya). Namun, Al-Mudliji melihat kaki mereka dan menyadari kemiripan yang jelas.
2. Makna "Tabruqu Asariru Wajhihi"
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ungkapan ini berarti wajah Rasulullah ﷺ bersinar-sinar karena kegembiraan yang sangat. Ini menunjukkan bahwa beliau sangat senang ketika kebenaran tentang nasab Usamah terbukti.
3. Hikmah Kemiripan Fisik
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (4/235) menjelaskan bahwa kemiripan fisik antara orang tua dan anak adalah tanda kekuasaan Allah. Ini juga menjadi bukti bahwa nasab tidak selalu harus terlihat dari warna kulit atau bentuk wajah secara keseluruhan, tetapi bisa dari anggota tubuh tertentu.
4. Pelajaran Adab
Rasulullah ﷺ menyampaikan kabar gembira ini kepada Aisyah dengan penuh suka cita. Ini mengajarkan kita untuk berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan orang-orang terdekat ketika ada kabar baik.
Story Telling
Diriwayatkan dari Ibnu Syihab az-Zuhri (salah satu tabi'in besar) bahwa ketika Rasulullah ﷺ mendengar perkataan Al-Mudliji, beliau tersenyum lebar dan wajahnya berseri-seri. Beliau kemudian masuk menemui Aisyah dan berkata, "Wahai Aisyah, apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan Al-Mudliji?" Aisyah bertanya, "Apa yang dia katakan, wahai Rasulullah?" Maka Rasulullah menceritakan bahwa Al-Mudliji melihat kaki Zaid dan Usamah lalu berkata, "Sesungguhnya sebagian kaki ini berasal dari sebagian yang lain."
Kisah ini menunjukkan betapa mulianya akhlak Rasulullah ﷺ yang begitu gembira ketika kebenaran ditegakkan, meskipun hanya tentang kemiripan fisik. Beliau tidak merasa risih atau marah ketika ada yang meragukan nasab Usamah, tetapi justru bersyukur ketika kebenaran terbukti.
Kesimpulan Praktis
- Bersyukur atas nikmat keturunan – Kemiripan fisik antara orang tua dan anak adalah tanda kekuasaan Allah yang patut disyukuri.
- Berbagi kabar baik – Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk menyampaikan kabar gembira kepada keluarga.
- Tidak mudah meragukan nasab – Islam sangat menjaga kehormatan nasab dan melarang tuduhan tanpa bukti.
- Meneladani kegembiraan Nabi – Bergembiralah ketika kebenaran tampak jelas, meskipun dalam hal kecil sekalipun.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.