Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan As-Sa'ib bin Yazid radhiyallahu 'anhu yang dibawa tantenya kepada Nabi ﷺ karena sakit. Nabi ﷺ mengusap kepalanya, mendoakan keberkahan, dan As-Sa'ib meminum sisa air wudhu beliau. Ia lalu melihat "khatam" (segel kenabian) di antara kedua bahu Nabi ﷺ. Hadits ini menunjukkan bukti kenabian (tanda kerasulan), kelembutan Nabi ﷺ kepada anak-anak, dan keberkahan air wudhu beliau.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Manaqib (Keutamaan-Keutamaan), Bab "Khatamun Nubuwwah" (Segel Kenabian), no. 3541, dari sahabat As-Sa'ib bin Yazid radhiyallahu 'anhu.
Terkait segel kenabian, Allah ﷻ berfirman:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
QS. Ali 'Imran [3]: 144 — "Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul yang sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?..."
Ayat ini menegaskan kerasulan Muhammad ﷺ, dan segel kenabian adalah salah satu tanda yang Allah berikan sebagai bukti kerasulan beliau.
Hadits lain yang berkaitan, dari Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu (diriwayatkan Imam Muslim), bahwa beliau melihat segel di punggung Nabi ﷺ sebesar telur merpati. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa khatam nubuwwah adalah tanda kenabian berupa daging/tanda di antara kedua bahu beliau.
Penjelasan Rinci
Pertama: Kelembutan Nabi ﷺ kepada anak-anak. As-Sa'ib dibawa tantenya karena sakit, dan Nabi ﷺ langsung mengusap kepala sang anak serta mendoakan keberkahan. Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj (penjelasan hadits-hadits shahih) menegaskan bahwa ini menunjukkan sunnahnya mengusap kepala anak, mendoakan mereka, dan bersikap lembut — bukan mengabaikan anak kecil.
Kedua: Keberkahan (tabarruk) dengan sisa air wudhu Nabi ﷺ. As-Sa'ib meminum sisa air wudhu beliau. Para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bertabarruk dengan bekas Nabi ﷺ (air wudhu, rambut, keringat) adalah perkara yang khusus bagi beliau ﷺ dan dibolehkan pada masa hidupnya, karena keberkahan itu berasal dari Nabi ﷺ sendiri. Ini bukan berarti setiap benda menjadi sumber berkah secara mandiri.
Ketiga: Khatam Nubuwwah sebagai bukti kenabian. As-Sa'ib melihat segel di antara kedua bahu Nabi ﷺ. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda dalam menggambarkan bentuknya, namun intinya adalah tanda kenabian yang Allah tanamkan pada tubuh beliau sebagai bukti kerasulan, sebagaimana disebut dalam kitab-kitab sebelumnya (Taurat dan Injil). Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah juga menyebut khatam nubuwwah sebagai salah satu tanda kenabian yang dikenal.
Keempat: Adab dan kesaksian sahabat. Perhatikan bahwa As-Sa'ib adalah anak kecil saat itu, namun kesaksiannya diriwayatkan dalam kitab shahih. Ini menunjukkan betapa para sahabat menjaga riwayat dan betapa Al-Bukhari selektif dalam menerima hadits.
Story Telling
As-Sa'ib bin Yazid radhiyallahu 'anhu masih kecil ketika tantenya membawanya menghadap Rasulullah ﷺ. Dengan penuh kasih, Nabi ﷺ mengusap kepala anak itu dan mendoakan keberkahan untuknya. Anak kecil itu pun meminum sisa air wudhu beliau — tanda kecintaannya. Lalu ia berdiri di belakang Nabi ﷺ dan melihat segel kenabian di antara kedua bahu beliau. Bertahun-tahun kemudian, As-Sa'ib menjadi salah satu sahabat yang meriwayatkan hadits, dan kisah kecilnya ini menjadi bukti kenabian yang tercatat dalam Shahih Al-Bukhari. Hikmahnya: kedekatan dengan Nabi ﷺ dan doa beliau membawa keberkahan, dan tanda-tanda kenabian beliau disaksikan langsung oleh para sahabat.
Kesimpulan Praktis
- Teladani kelembutan Nabi ﷺ kepada anak-anak: usap kepala mereka dan doakan keberkahan.
- Yakini kerasulan Muhammad ﷺ beserta tanda-tanda kenabian yang Allah berikan.
- Pahami bahwa tabarruk dengan bekas Nabi ﷺ adalah kekhususan beliau, dan kita mencintai beliau dengan mengikuti sunnahnya.
- Jaga adab dalam meriwayatkan dan memahami hadits, sebagaimana para ulama menjaga keilmuan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.