Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 35 tentang Keutamaan shalat malam Lailatul Qadr dengan iman dan ikhlas

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar dari Nabi ﷺ. Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan shalat dan ibadah, dengan penuh keimanan dan hanya mengharap pahala dari Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ini adalah rahmat dan karunia Allah yang sangat agung bagi umat Islam.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ "

Perawi: Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu

Kitab: Shahih Al-Bukhari, Kitab Iman, Bab "Menegakkan Malam Qadr Termasuk dalam Iman", no. 35

Makna Hadits:

"Barangsiapa yang mendirikan shalat di malam Qadr dengan iman dan mengharapkan pahala dari Allah (bukan untuk pamer), maka semua dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni."

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

QS. Al-Qadr [97]: 1-3

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa makna "إِيمَانًا" (dengan iman) adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menjanjikan pahala yang besar pada malam tersebut, dan membenarkan apa yang Allah kabarkan tentang keutamaannya. Adapun makna "وَاحْتِسَابًا" (mengharap pahala) adalah ia tidak mengharapkan pujian manusia, tidak riya', dan tidak mencari keuntungan duniawi, tetapi semata-mata mengharap wajah Allah dan pahala-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa amalan yang diterima adalah yang dibangun di atas iman dan ikhlas. Iman adalah pondasi, dan ikhlas (ihktisab) adalah syarat diterimanya amal. Beliau juga menegaskan bahwa "mendirikan malam Qadr" mencakup shalat, dzikir, doa, dan membaca Al-Qur'an, namun yang paling utama adalah shalat.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Latha'if Al-Ma'arif menjelaskan bahwa ampunan dosa yang disebutkan dalam hadits ini adalah untuk dosa-dosa kecil, adapun dosa besar maka membutuhkan taubat yang khusus. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama, termasuk Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa "mendirikan malam Qadr" artinya menghidupkannya dengan ibadah, bukan sekadar terjaga tanpa ibadah. Dan keutamaan ini khusus bagi yang melakukannya dengan iman dan ikhlas, bukan karena kebiasaan atau sekadar ikut-ikutan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa malam Qadr lebih baik dari seribu bulan, dan siapa yang beribadah pada malam tersebut dengan iman dan mengharap pahala, maka ia mendapatkan keutamaan yang sangat besar.

Para ulama juga menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Umat-umat terdahulu diberi umur panjang sehingga bisa beribadah selama bertahun-tahun, sedangkan umat ini diberi malam yang lebih baik dari seribu bulan sebagai gantinya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Asy-Syafi'i rahimahullah (salah satu imam madzhab yang termasuk dalam daftar rujukan) sangat memperhatikan malam-malam Ramadhan. Beliau membagi malamnya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk menuntut ilmu, sepertiga untuk shalat, dan sepertiga untuk tidur. Beliau sangat bersemangat menghidupkan malam-malam Ramadhan karena mengetahui keutamaan Lailatul Qadr.

Dikisahkan juga bahwa Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah sangat menganjurkan untuk memperbanyak doa pada malam Lailatul Qadr. Beliau berkata, "Doa pada malam itu lebih aku sukai daripada shalat." Maksudnya, beliau menganjurkan untuk menggabungkan antara shalat dan doa, karena doa adalah inti ibadah.

Hikmah dari kisah ini: Para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam mencari Lailatul Qadr dan menghidupkannya dengan berbagai ibadah. Mereka tidak menyia-nyiakan malam yang mulia ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Niatkan ibadah di malam Lailatul Qadr dengan iman — yakini bahwa Allah menjanjikan pahala yang besar pada malam tersebut.
  2. Ikhlas karena Allah — jangan mengharap pujian manusia atau tujuan duniawi.
  3. Perbanyak shalat, dzikir, doa, dan membaca Al-Qur'an pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
  4. Jangan lupa berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni" (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku).
  5. Perbanyak ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan, karena Lailatul Qadr dicari pada malam-malam tersebut.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.