Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tiga hal penting: (1) kepemimpinan dan kekuasaan dalam urusan umat ini mengikuti Quraisy, baik dalam kekufuran maupun keislaman; (2) manusia itu seperti tambang—asal-usul yang baik di masa jahiliyah akan tetap baik di masa Islam jika ia memahami agama dengan benar; (3) orang yang paling baik adalah yang paling tidak ambisius terhadap kekuasaan, hingga kekuasaan itu datang kepadanya tanpa ia menginginkannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Hujurat [49]: 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Terjemahan: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Manaqib, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam Al-Bukhari menempatkannya dalam bab yang berkaitan dengan firman Allah tentang penciptaan manusia dari laki-laki dan perempuan, yang menunjukkan bahwa kemuliaan bukanlah karena nasab semata, melainkan karena ketakwaan dan pemahaman agama.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kepemimpinan (khilafah/imamah) berada di kalangan Quraisy, dan ini merupakan pendapat jumhur ulama.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits "manusia adalah tambang" menunjukkan bahwa orang yang memiliki sifat-sifat mulia sejak jahiliyah akan tetap mulia dalam Islam apabila ia memahami agama.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini mengandung larangan ambisi terhadap kekuasaan.
Penjelasan Rinci
Pertama: "Manusia adalah pengikut Quraish dalam hal ini"
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa yang dimaksud "hal ini" adalah urusan kepemimpinan dan kekuasaan (al-imarah/al-khilafah). Maknanya: orang Arab mengikuti Quraish dalam urusan kepemimpinan, sebagaimana orang Quraish menjadi pemimpin bagi manusia. Muslim di antara mereka mengikuti muslim Quraish, dan kafir di antara mereka mengikuti kafir Quraish. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan memang berada di tangan Quraish, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Imam itu dari Quraish" (diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya).
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini bukan berarti Quraish lebih mulia secara mutlak, tetapi ini adalah kabar (khabar) dari Nabi ﷺ tentang kenyataan yang akan terjadi, sekaligus isyarat bahwa kepemimpinan umat ini sebaiknya berada di tangan Quraish selama mereka memenuhi syarat-syarat kepemimpinan.
Kedua: "Manusia adalah seperti tambang"
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa manusia itu seperti tambang emas dan perak: ada yang asalnya mulia dan ada yang asalnya rendah. Orang yang memiliki sifat-sifat terpuji di masa jahiliyah—seperti kedermawanan, keberanian, kejujuran, dan menepati janji—akan tetap memiliki sifat-sifat itu dalam Islam apabila ia memahami agama dengan benar (faqih). Sebaliknya, orang yang buruk di masa jahiliyah akan tetap buruk kecuali ia bertaubat dan memperbaiki diri.
Ibn Rajab al-Hanbali menambahkan bahwa "jika mereka memahami" (idza faqihu) adalah syarat penting. Artinya, kemuliaan asal-usul tidak bermanfaat tanpa pemahaman agama yang benar. Banyak orang yang asalnya mulia tetapi karena tidak memahami agama, ia jatuh derajatnya. Sebaliknya, banyak orang yang asalnya biasa tetapi karena pemahaman agamanya, ia menjadi mulia.
Ketiga: "Kalian akan mendapati dari sebaik-baik manusia adalah orang yang paling membenci hal ini hingga ia terlibat di dalamnya"
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa "hal ini" adalah kepemimpinan/kekuasaan. Maknanya: sebaik-baik manusia adalah orang yang paling tidak menginginkan kekuasaan, paling tidak ambisius terhadapnya, dan paling membencinya. Namun apabila kekuasaan itu benar-benar datang kepadanya dan ia terlibat di dalamnya, ia akan menjalankannya dengan adil dan baik.
Ibnu Hajar menukil penjelasan bahwa ini adalah pujian bagi orang yang zuhud terhadap kekuasaan. Karena orang yang tidak menginginkan kekuasaan biasanya lebih adil dan lebih takut kepada Allah ketika menjalankannya, berbeda dengan orang yang ambisius yang sering kali berbuat zalim demi mempertahankan kekuasaannya.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Para ulama berbeda pendapat tentang apakah kepemimpinan harus dari Quraish secara mutlak atau hanya prioritas. Jumhur ulama (mayoritas) berpendapat bahwa kepemimpinan sebaiknya dari Quraish selama mereka memenuhi syarat. Namun jika tidak ada yang memenuhi syarat dari Quraish, maka kepemimpinan bisa dari selain mereka. Yang paling kuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah kabar tentang kenyataan yang terjadi, dan syarat utama kepemimpinan adalah kemampuan, keadilan, dan pemahaman agama—sebagaimana ditegaskan dalam hadits ini sendiri: "jika mereka memahami."
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu suatu ketika berkata tentang kepemimpinan, dan beliau sangat takut terhadap kekuasaan. Ketika beliau ditunjuk menjadi khalifah setelah Abu Bakar, beliau berkata: "Aku tidak menginginkan kekuasaan ini, tetapi aku takut jika aku menolaknya maka akan ada orang yang tidak layak yang memimpin." Ini menunjukkan sikap orang yang paling membenci kekuasaan namun ketika diberi amanah, ia menjalankannya dengan penuh tanggung jawab.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Demi Allah, tidaklah seorang hamba menginginkan kekuasaan kecuali ia akan merusak agamanya." Ini sejalan dengan makna hadits bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling membenci kekuasaan.
Kesimpulan Praktis
- Janganlah kita ambisius terhadap kekuasaan atau jabatan. Sebaik-baik manusia adalah yang paling tidak menginginkannya. Jika amanah datang, jalankan dengan adil dan takut kepada Allah.
- Kemuliaan sejati adalah dengan pemahaman agama (fiqh) dan ketakwaan, bukan semata-mata nasab atau asal-usul. Hadits ini menegaskan: "jika mereka memahami."
- Hargai orang-orang yang memiliki sifat mulia sejak sebelum Islam, karena sifat-sifat baik itu akan tetap baik dalam Islam jika ia memahami agamanya.
- Kepemimpinan Quraish adalah kabar dari Nabi ﷺ, dan kita menerimanya sebagai bagian dari keimanan kepada berita Nabi, tanpa menjadikannya alasan untuk merendahkan suku atau bangsa lain, karena kemuliaan di sisi Allah adalah dengan takwa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.