Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 349 tentang Peristiwa Isra dan penetapan kewajiban shalat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa agung Isra’ dan Mi’raj, di mana Nabi Muhammad ﷺ dibersihkan hatinya, diangkat ke langit, bertemu para nabi, dan menerima kewajiban shalat lima puluh waktu yang kemudian diringankan menjadi lima waktu. Peristiwa ini menunjukkan kedudukan mulia Nabi ﷺ dan kasih sayang Allah yang meringankan beban umat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an

QS. Al-Isra' [17]: 1 – tentang Isra’ (perjalanan malam) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

QS. An-Najm [53]: 13-18 – tentang Mi’raj dan penglihatan Nabi ﷺ:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ (١٣) عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ (١٤) عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ (١٥) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ (١٦) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ (١٧) لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ (١٨)

“Dan sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat Jibril (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”

Hadits Utama

Hadits riwayat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu dari Shahih al-Bukhari no. 349 – telah disebutkan lengkap di atas.

Kaitan dengan Ulama

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (syarah Shahih al-Bukhari) menjelaskan panjang lebar tentang peristiwa ini, termasuk hikmah pembedahan dada dan pengisian hati dengan iman dan hikmah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menekankan bahwa peristiwa ini adalah mukjizat besar yang menguatkan keimanan.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya (QS. Al-Isra’) dan al-Bidayah wa an-Nihayah merinci perjalanan Isra’ Mi’raj dan pertemuan dengan para nabi.

Penjelasan Rinci

Makna Umum Hadits

Hadits ini merupakan salah satu riwayat terperinci tentang Isra’ dan Mi’raj. Dimulai dengan pembukaan atap rumah Nabi ﷺ di Mekkah, lalu Jibril membedah dada beliau, mencucinya dengan air Zamzam, kemudian mengisinya dengan “hikmah dan iman” dari nampan emas. Tindakan ini merupakan persiapan spiritual dan fisik untuk menerima wahyu dan menyaksikan alam tinggi.

Setelah itu, Nabi ﷺ diangkat ke langit dunia. Di sana beliau melihat Nabi Adam ‘alaihis salam yang sedang duduk, di kanannya arwah calon penghuni surga dan di kirinya arwah calon penghuni neraka. Ketika melihat ke kanan ia tersenyum, ke kiri ia menangis. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Adam mengetahui nasib anak keturunannya, dan kasih sayangnya kepada yang beriman serta prihatin kepada yang kafir.

Kemudian beliau naik ke langit kedua, ketiga, dan seterusnya hingga langit keenam, bertemu dengan Nabi Idris, Musa, Isa, dan Ibrahim ‘alaihimus salam. Masing-masing menyambut dengan “Marhaban bi an-nabiyyi as-shalih” (selamat datang wahai Nabi yang saleh). Ini menunjukkan persaudaraan para nabi dan pengakuan mereka atas kedudukan Nabi Muhammad ﷺ.

Puncak perjalanan adalah di Sidratul Muntaha, tempat yang menjadi batas pengetahuan makhluk. Di sana Nabi ﷺ menerima perintah shalat lima puluh waktu. Atas saran Nabi Musa – yang sangat sayang kepada umat ini – beliau bolak-balik memohon keringanan hingga Allah menjadikannya lima waktu, namun tetap bernilai pahala lima puluh kali lipat. Hal ini menunjukkan sifat rahmah Allah dan peran penting para nabi dalam memberi nasihat.

Pemahaman Ulama (dari daftar)

  • Imam al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam “Kitab Shalat” dan “Bab Bagaimana Shalat Ditetapkan dalam Isra’”, menegaskan bahwa shalat adalah ibadah yang difardhukan langsung tanpa perantara.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fath al-Bari) menjelaskan bahwa pembedahan dada adalah hakiki, bukan kiasan, sebagai persiapan batin untuk menerima hal-hal gaib. Beliau juga merinci bahwa “hikmah dan iman” yang diisikan adalah limpahan ilmu dan keyakinan yang tidak dimiliki sebelumnya.
  • Imam an-Nawawi dalam syarahnya atas riwayat Muslim menyebutkan bahwa peristiwa Mi’raj terjadi setahun sebelum hijrah atau pada malam 27 Rajab menurut mayoritas ulama, meski bukan dalam hadits ini. Beliau menekankan bahwa perintah shalat langsung dari Allah tanpa perantara malaikat merupakan keutamaan khusus bagi umat ini.
  • Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah mengumpulkan berbagai riwayat Isra’ Mi’raj dan menguatkan keabsahan hadits ini. Beliau juga menafsirkan ayat dalam QS. An-Najm bahwa Sidratul Muntaha adalah pohon yang sangat besar di ujung alam semesta, yang diliputi cahaya dan malaikat.
  • Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah) menegaskan bahwa hadits ini shahih dan merupakan dalil utama tentang kewajiban shalat lima waktu.

Catatan Penting

Dalam riwayat lain (disebutkan dalam hadits ini oleh Ibnu Hazm) disebutkan bahwa Nabi ﷺ mendengar bunyi pena (sharîf al-aqlâm) ketika sampai di suatu tempat, menandakan bahwa beliau sampai pada tingkat di mana ia mendengar suara makhluk yang mulia.

Story Telling (Hikmah)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh aku berharap agar aku menjadi orang yang terbunuh di jalan Allah, lalu dihidupkan, lalu dibunuh lagi, lalu dihidupkan, lalu dibunuh lagi.” (HR. Bukhari). Kisah Mi’raj mengajarkan kita tentang cinta Nabi ﷺ kepada umatnya. Beliau tidak henti-hentinya meminta keringanan sehingga shalat yang semula lima puluh menjadi lima. Bayangkan, setiap kali Nabi Musa menyarankan untuk kembali memohon keringanan, beliau berulang kali naik kepada Allah – padahal beliau sudah sangat segan (istahyaitu min rabbi). Inilah bentuk kasih sayang Nabi ﷺ yang tidak ingin umatnya berat.

Kisah ini juga mengajarkan bahwa seorang mukmin harus selalu optimis dengan rahmat Allah. Jangan putus asa dalam berdoa, karena Allah Maha Pemurah. Bahkan Nabi Musa ‘alaihis salam – seorang nabi yang tegas – justru sangat perhatian pada kesanggupan umat Nabi Muhammad.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat adalah hadiah langsung dari Allah – ibadah ini memiliki kedudukan tertinggi, karena diterima langsung tanpa perantara.
  2. Keutamaan bersyukur dan sabar – Nabi ﷺ menerima perintah dengan penuh kepatuhan, lalu memohon keringanan. Kita hendaknya mensyukuri shalat yang ringan (5 waktu) dan menjalankannya dengan penuh kesadaran.
  3. Pertemuan dengan para nabi menunjukkan persatuan risalah Islam – kita wajib beriman kepada semua nabi dan menghormati mereka.
  4. Sifat rahmah (kasih sayang) para nabi – Nabi Musa menasehati Nabi Muhammad untuk meminta keringanan. Teladan bagi kita untuk saling menasehati dalam kebaikan.
  5. Jangan malu kembali kepada Allah – meskipun Nabi ﷺ merasa malu, beliau tetap membawa rahmat bagi umat. Kita pun boleh terus memohon keringanan dalam ketaatan, namun dengan adab dan keyakinan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.