Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah atsar (perkataan) dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang menjelaskan makna "syu'ub" dan "qabail" dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13. Beliau menjelaskan bahwa syu'ub adalah bangsa-bangsa besar, sedangkan qabail adalah suku-suku cabang yang lebih kecil. Ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan manusia dalam berbagai tingkatan kelompok agar mereka saling mengenal, bukan untuk saling membanggakan diri. Kemuliaan seseorang di sisi Allah hanyalah berdasarkan ketakwaannya, bukan berdasarkan nasab, suku, atau bangsanya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Hujurat [49]: 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."
Hadits/Atsar:
Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab QS. Al-Hujurat, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Beliau berkata: "Syu'ub adalah qabail yang besar (bangsa), sedangkan qabail adalah suku-suku cabang (bathn)."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk meluruskan pemahaman manusia tentang ukuran kemuliaan. Sebelumnya, manusia sering membanggakan diri dengan nasab, keturunan, dan suku. Maka Allah menegaskan bahwa semua manusia berasal dari satu ayah dan satu ibu (Adam dan Hawa). Perbedaan bangsa, suku, dan bahasa bukanlah untuk dibanggakan, melainkan agar saling mengenal.
Penjelasan Ibnu Abbas:
Dalam atsar ini, Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan bahwa asy-syu'ub (bangsa-bangsa) adalah kelompok besar seperti bangsa Arab, bangsa 'Ajam (non-Arab), dan sebagainya. Sedangkan al-qabail (bersuku-suku) adalah cabang-cabang dari bangsa tersebut, seperti suku Quraisy, suku Tamim, dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa keberagaman manusia adalah sunnatullah yang memiliki hikmah.
Penjelasan Ulama Lain:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa syu'ub adalah kelompok yang lebih besar dari qabail. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa syu'ub adalah bangsa-bangsa besar, sedangkan qabail adalah suku-suku di bawahnya, lalu buthun (perut) adalah cabang di bawah suku, dan seterusnya.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa Allah menyebutkan penciptaan manusia dari satu asal untuk menghilangkan rasa bangga dengan nasab. Kemudian Allah menjadikan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan agar saling bermusuhan atau saling menghina. Ukuran kemuliaan hanyalah ketakwaan.
- Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam berbagai karyanya sering menekankan bahwa ketakwaan adalah ukuran kemuliaan yang hakiki, bukan harta, kedudukan, atau nasab.
Perbedaan Tingkatan Kelompok:
Para ulama menyebutkan bahwa pembagian manusia dalam ayat ini berjenjang:
- Syu'ub (bangsa) – kelompok terbesar, seperti bangsa Arab.
- Qabail (suku) – cabang dari bangsa, seperti Quraisy dari bangsa Arab.
- Buthun (perut/cabang) – lebih kecil dari suku.
- Afkhadz (paha) – lebih kecil lagi.
- Fashilah (keluarga dekat) – dan seterusnya.
Ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan manusia dalam berbagai tingkatan agar mereka saling mengenal dan saling melengkapi, bukan untuk saling merendahkan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ menaklukkan kota Makkah, beliau menyampaikan khutbah yang sangat terkenal. Di antara isinya, beliau bersabda:
> "Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyang. Manusia itu terdiri dari orang bertakwa dan orang celaka. Kalian semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah."
Kemudian beliau membacakan ayat ini: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan..." (HR. At-Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam datang untuk menghapuskan budaya membanggakan nasab dan suku. Yang membedakan manusia hanyalah ketakwaannya kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan membanggakan nasab, suku, atau bangsa – semua manusia berasal dari Adam dan Hawa.
- Jadikan perbedaan sebagai sarana saling mengenal – bukan untuk saling menghina atau bermusuhan.
- Ukur kemuliaan dengan ketakwaan – bukan dengan harta, jabatan, atau keturunan.
- Pelajari dan hormati keberagaman – karena itu adalah sunnatullah yang memiliki hikmah.
- Perbanyak amal saleh – karena itulah yang mengangkat derajat di sisi Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.