Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang seorang laki-laki yang banyak berbuat dosa, namun ketika hendak mati ia memerintahkan anak-anaknya untuk membakar dan menaburkan abunya karena merasa takut akan azab Allah. Ternyata, justru karena rasa takutnya yang tulus kepada Allah itulah, Allah mengampuni dosa-dosanya. Hadits ini mengajarkan bahwa keikhlasan dan rasa takut kepada Allah yang benar dapat menjadi sebab pengampunan, meskipun dosa seseorang sangat besar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
Shahih Al-Bukhari, Kitab Hadits Para Nabi, Bab: Kisah Bani Israil, no. 3481. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Penjelasan Ulama:
- Imam Al-Bukhari (w. 256 H) mencantumkan hadits ini dalam bab khusus tentang kisah Bani Israil, menunjukkan bahwa kisah ini terjadi pada umat sebelum kita dan mengandung pelajaran tentang tauhid serta keikhlasan.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya rahmat Allah dan bahwa rasa takut yang tulus kepada Allah dapat menghapus dosa besar. Beliau juga menegaskan bahwa perbuatan laki-laki itu (memerintahkan pembakaran dan penaburan abu) adalah bentuk kebodohan tentang kekuasaan Allah, namun Allah memaafkannya karena keikhlasan rasa takutnya.
- Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (hadits serupa) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan khasyyah (rasa takut yang disertai pengagungan) kepada Allah, dan bahwa Allah menerima taubat seseorang meskipun dosanya sebesar apapun, selama taubatnya tulus.
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Az-Zumar [39]: 53
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Tentang Rasa Takut yang Tulus (Al-Khasyyah)
Laki-laki dalam hadits ini adalah seorang yang banyak berbuat dosa, namun ketika menghadapi kematian, ia diliputi rasa takut yang mendalam kepada Allah. Ia berkata, "Demi Allah, jika Tuhanku berkuasa atas diriku, sungguh Dia akan mengazabku dengan azab yang belum pernah Dia berikan kepada siapa pun." Ucapan ini menunjukkan bahwa ia mengakui kekuasaan Allah dan merasa sangat takut akan azab-Nya.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa rasa takut yang benar (khasyyah) adalah rasa takut yang lahir dari pengagungan kepada Allah dan kesadaran akan dosa. Rasa takut inilah yang menjadi sebab pengampunan bagi laki-laki tersebut, meskipun ia melakukan perbuatan yang keliru (memerintahkan pembakaran jasadnya).
2. Tentang Kekuasaan Mutlak Allah
Perintah laki-laki itu untuk membakar dan menaburkan abunya menunjukkan kebodohannya tentang kekuasaan Allah. Ia mengira bahwa dengan cara itu ia bisa lolos dari azab Allah. Namun, Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Allah Maha Kuasa atas segalanya. Bumi diperintahkan untuk mengumpulkan kembali partikel-partikel tubuhnya, dan ia pun hidup kembali. Ini adalah bukti nyata bahwa tidak ada satu pun yang luput dari kekuasaan Allah.
3. Tentang Keutamaan Taubat dan Ikhlas
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa taubat yang diterima adalah taubat yang lahir dari keikhlasan dan rasa takut kepada Allah. Laki-laki itu tidak memiliki amal kebaikan yang banyak, namun ia memiliki rasa takut yang tulus. Allah pun menerima taubatnya dan mengampuni dosa-dosanya.
4. Perbedaan Pendapat tentang Hukum Perbuatan Tersebut
Para ulama sepakat bahwa perbuatan laki-laki itu (membakar jasad dan menaburkan abu) adalah perbuatan yang keliru dan tidak boleh ditiru. Namun, mereka berbeda pendapat tentang status keimanannya:
- Jumhur ulama (termasuk Imam Ahmad, Ibnu Hajar, dan An-Nawawi) berpendapat bahwa ia adalah seorang mukmin yang melakukan dosa besar, lalu Allah mengampuninya karena keikhlasan rasa takutnya.
- Sebagian ulama lain berpendapat bahwa ia adalah seorang yang jahil (bodoh) tentang agama, namun Allah menerima taubatnya karena kejujuran rasa takutnya.
Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa ia adalah seorang mukmin yang bertaubat dengan tulus, dan Allah menerima taubatnya.
Story Telling
Kisah dari Salaf:
Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) bahwa beliau pernah berkata: "Sesungguhnya seorang hamba bisa melakukan dosa besar, namun karena rasa takutnya kepada Allah, ia diampuni. Dan seorang hamba bisa melakukan amal kebaikan yang banyak, namun karena ujubnya (rasa bangga diri), ia binasa."
Al-Hasan al-Bashri kemudian menceritakan bahwa ada seorang laki-laki dari Bani Israil yang sangat banyak berbuat dosa. Ketika hendak mati, ia menangis dan berkata, "Ya Allah, aku takut kepada-Mu." Maka Allah berfirman kepada malaikat, "Aku telah mengampuninya karena rasa takutnya kepada-Ku." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam At-Tawadhu')
Kisah ini mengajarkan bahwa rasa takut yang tulus kepada Allah adalah kunci pengampunan, meskipun dosa seseorang sangat besar.
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, meskipun dosa kita sangat besar. Allah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang bertaubat dengan tulus.
- Rasa takut kepada Allah (khasyyah) adalah amal hati yang sangat mulia. Rasa takut yang benar akan mendorong seseorang untuk bertaubat dan kembali kepada Allah.
- Jangan meremehkan kekuasaan Allah. Tidak ada satu pun yang luput dari kekuasaan-Nya, baik di langit maupun di bumi.
- Keikhlasan dalam taubat adalah syarat diterimanya taubat. Taubat yang lahir dari rasa takut dan pengagungan kepada Allah akan diterima, meskipun dosa seseorang sebesar apapun.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk memiliki rasa takut yang tulus kepada-Nya, dan semoga Dia mengampuni dosa-dosa kita. Amin.