Penjelasan Hadits Bukhari No. 3470 tentang Taubat diterima meski dosa besar jika sungguh-sungguh

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar yang sangat menggembirakan tentang luasnya rahmat dan ampunan Allah ﷻ. Hadits ini mengajarkan bahwa pintu taubat tidak pernah tertutup selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seorang pembunuh 99 orang yang kemudian membunuh lagi seorang rahib (sehingga total 100 orang) tetap diampuni oleh Allah karena ia jujur ingin bertaubat, berhijrah meninggalkan lingkungan yang buruk, dan Allah melihat kebenaran niatnya. Ini menunjukkan bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa-dosa hamba-Nya, dan bahwa taubat yang jujur serta disertai perpindahan ke lingkungan yang baik adalah sebab besar datangnya ampunan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang dimaksud:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ahaditsil Anbiya' (Hadits-hadits Para Nabi), Bab Qauluhu Ta'ala: "Inna Ibrahim kana ummatan...", no. 3470, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits (sebagaimana yang Anda sertakan) adalah:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي الصِّدِّيقِ النَّاجِيِّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "كَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ إِنْسَانًا ثُمَّ خَرَجَ يَسْأَلُ، فَأَتَى رَاهِبًا فَسَأَلَهُ، فَقَالَ لَهُ هَلْ مِنْ تَوْبَةٍ؟ قَالَ: لاَ. فَقَتَلَهُ، فَجَعَلَ يَسْأَلُ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: ائْتِ قَرْيَةَ كَذَا وَكَذَا. فَأَدْرَكَهُ الْمَوْتُ فَنَاءَ بِصَدْرِهِ نَحْوَهَا، فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ، فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى هَذِهِ أَنْ تَقَرَّبِي. وَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى هَذِهِ أَنْ تَبَاعَدِي. وَقَالَ: قِيسُوا مَا بَيْنَهُمَا. فَوُجِدَ إِلَى هَذِهِ أَقْرَبُ بِشِبْرٍ، فَغُفِرَ لَهُ"

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Az-Zumar [39]: 53)

Ayat ini disebut oleh para ulama sebagai ayat yang paling luas cakupan rahmatnya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada seluruh orang yang berbuat dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar, selama mereka bertaubat sebelum nyawa sampai di tenggorokan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran besar dari hadits ini:

1. Taubat diterima selama nyawa belum sampai tenggorokan

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan diterimanya taubat selama seseorang belum sampai pada keadaan sakaratul maut (nyawa di tenggorokan). Adapun setelah nyawa sampai di tenggorokan, taubat tidak lagi diterima, sebagaimana firman Allah tentang Fir'aun yang bertaubat saat tenggelam, dan Allah katakan: "Apakah sekarang (baru kamu beriman), padahal sebelumnya kamu telah durhaka..." (QS. Yunus [10]: 91).

2. Dosa besar tidak menghalangi taubat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa dosa sebesar apa pun—termasuk membunuh 100 jiwa—tidak menghalangi seseorang dari ampunan Allah jika ia bertaubat dengan jujur. Ini membantah keyakinan Khawarij dan Mu'tazilah yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka.

3. Hijrah dari lingkungan yang buruk adalah bagian dari taubat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa nasihat orang tersebut kepada pembunuh untuk pindah ke desa lain adalah isyarat bahwa salah satu bentuk taubat yang agung adalah meninggalkan lingkungan yang memudahkan perbuatan dosa dan pindah ke lingkungan yang membantu ketaatan. Ini juga dikuatkan dengan hadits: "Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak punya dosa." (HR. Ibnu Majah, hasan).

4. Amal dinilai berdasarkan akhir hayat

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa seseorang dihisab berdasarkan keadaannya saat akhir hayat. Orang ini mati dalam keadaan berjalan menuju ketaatan dan taubat, maka Allah mengampuninya. Ini juga sesuai dengan hadits: "Sesungguhnya amalan itu tergantung pada akhirnya." (HR. Al-Bukhari).

5. Rahmat Allah mendahului murka-Nya

Dalam hadits qudsi, Allah berfirman: "Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku." (HR. Muslim). Hadits ini menunjukkan hal tersebut secara nyata—bahwa ketika ada dua arah (desa kebaikan dan desa keburukan), Allah memerintahkan desa kebaikan untuk mendekat dan desa keburukan menjauh, sebagai bentuk pertolongan Allah kepada hamba yang jujur ingin bertaubat.

6. Malaikat berselisih, Allah yang memutuskan

Imam Al-Qurthubi (dalam At-Tadzkirah) dan para ulama menjelaskan bahwa perselisihan malaikat rahmat dan malaikat azab menunjukkan bahwa urusan akhirat sepenuhnya milik Allah. Malaikat tidak mengetahui hakikat hati seseorang; hanya Allah yang mengetahui niat dan kejujuran taubatnya. Maka Allah memutuskan dengan keadilan dan rahmat-Nya.

Story Telling

Ada kisah yang sangat mirip dengan hadits ini yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, tentang seorang lelaki yang membunuh 100 orang. Ia kemudian bertanya kepada seorang alim, dan alim itu berkata: "Siapa yang menghalangimu dari taubat? Pergilah ke negeri yang penduduknya beribadah kepada Allah, beribadahlah bersama mereka, dan jangan kembali ke negerimu karena itu negeri yang buruk." Lelaki itu pun berangkat, tetapi di tengah jalan ia meninggal. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih. Allah memerintahkan untuk mengukur jarak ke kedua negeri itu; ternyata ia lebih dekat satu jengkal ke negeri yang dituju, maka ia diampuni. (HR. Muslim, no. 2766)

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa kisah ini dan kisah dalam hadits Bukhari di atas adalah dua kisah yang berbeda atau bisa juga kisah yang sama dengan redaksi berbeda. Yang jelas, keduanya mengajarkan bahwa "tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni Allah selama hamba bertaubat dengan jujur sebelum ajal menjemput."

Hikmah yang bisa kita petik: Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, sekalipun dosa kita bertumpuk seperti gunung. Namun di saat yang sama, jangan pula menunda taubat, karena kita tidak tahu kapan ajal datang.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan berputus asa dari rahmat Allah — dosa sebesar apa pun bisa diampuni jika kita bertaubat dengan jujur.
  2. Segera bertaubat sebelum ajal tiba — jangan menunda-nunda, karena taubat hanya diterima sebelum nyawa sampai di tenggorokan.
  3. Tinggalkan lingkungan yang buruk — jika lingkungan kita memudahkan maksiat, berusahalah pindah ke lingkungan yang membantu ketaatan.
  4. Jangan menghakimi orang lain — kita tidak tahu akhir hayat seseorang; bisa jadi orang yang tampak baik mati dalam keburukan, dan sebaliknya.
  5. Perbanyak doa agar Allah menutup hidup kita dengan husnul khatimah — karena amal dinilai berdasarkan akhirnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?