Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kisah nyata dari Bani Israil tentang tiga orang yang diuji oleh Allah: seorang berpenyakit kusta, seorang botak, dan seorang buta. Allah menyembuhkan mereka dan memberi mereka harta yang melimpah. Kemudian Allah menguji mereka kembali dengan kedatangan seorang malaikat yang menyamar sebagai orang miskin. Dua orang pertama gagal dalam ujian karena kikir dan mengingkari nikmat Allah, sehingga mereka dikembalikan ke keadaan semula. Sedangkan orang ketiga (mantan buta) lulus ujian dengan kedermawanannya, sehingga Allah meridhainya dan memberkahi hartanya. Pelajaran utamanya adalah pentingnya bersyukur atas nikmat Allah dengan mengakui kebaikan-Nya dan bersedia berbagi dengan sesama.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadis Para Nabi, Bab Kisah Seorang Berpenyakit Kusta, Seorang Buta, dan Seorang Botak di Bani Israil, no. 3464. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa'iq, no. 2964.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:
QS. Ibrahim [14]: 7
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
QS. Az-Zumar [39]: 49
فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ ۚ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
"Maka apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, dia berkata: 'Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku.' Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan erat dengan hadits tiga orang Bani Israil ini, karena keduanya menggambarkan sikap manusia terhadap nikmat: ada yang mengakui nikmat itu dari Allah dan bersyukur, dan ada yang menganggap nikmat itu dari dirinya sendiri lalu menjadi kikir.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (17/174) menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang ujian Allah terhadap hamba-Nya, baik melalui kesulitan maupun kelapangan, dan bahwa syukur nikmat adalah dengan menggunakannya di jalan ketaatan dan berbagi dengan sesama.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ. Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Ujian Allah Datang dalam Berbagai Bentuk
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa Allah menguji hamba-Nya dengan berbagai cara. Terkadang dengan kesulitan seperti penyakit dan kefakiran, dan terkadang dengan kelapangan seperti kesehatan dan kekayaan. Dalam hadits ini, ketiga orang tersebut diuji dengan penyakit yang membuat mereka dijijikkan oleh masyarakat. Ini adalah ujian kesabaran. Kemudian setelah Allah menyembuhkan mereka dan memberi harta, mereka diuji dengan ujian syukur.
2. Syukur Nikmat adalah dengan Mengakui dan Menggunakan Nikmat di Jalan Kebaikan
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa syukur nikmat mencakup tiga hal: mengakui nikmat itu dari Allah dengan hati, memuji Allah dengan lisan, dan menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada Allah. Dua orang pertama dalam hadits ini gagal dalam aspek pertama—mereka tidak mengakui bahwa nikmat itu dari Allah, bahkan mengklaim bahwa harta itu didapat dari warisan nenek moyang mereka. Sedangkan orang ketiga mengakui dengan jujur bahwa Allah yang menyembuhkan dan memperkayanya.
3. Bahaya Sifat Kikir dan Mengingkari Nikmat
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa sifat kikir adalah penyakit hati yang berbahaya. Orang yang kikir terhadap nikmat Allah yang diberikan kepadanya, maka ia telah mengingkari nikmat tersebut. Dalam hadits ini, dua orang yang kikir dan mengingkari nikmat Allah dikembalikan ke keadaan semula sebagai hukuman bagi mereka.
4. Keutamaan Kedermawanan dan Pengakuan Nikmat
Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa orang yang diberi nikmat lalu ia mengakui nikmat itu dari Allah dan bersedia berbagi dengan orang lain, maka Allah akan menambah nikmat-Nya dan meridhainya. Ini terbukti dalam hadits ini ketika malaikat berkata kepada orang ketiga: "Simpan hartamu untuk dirimu sendiri. Kamu telah diuji, dan Allah senang denganmu."
5. Hikmah dari Kisah Bani Israil
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Hadis Para Nabi untuk menunjukkan bahwa kisah-kisah umat terdahulu mengandung pelajaran bagi umat ini. Syaikh Al-Albani rahimahullah menegaskan bahwa kisah-kisah dalam hadits shahih tentang Bani Israil adalah benar dan boleh dijadikan pelajaran, selama tidak bertentangan dengan syariat kita.
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah dari seorang ulama salaf tentang syukur nikmat. Diriwayatkan bahwa Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah (salah seorang ulama besar tabi'ut tabi'in) pernah berkata:
> "Barangsiapa yang diberi nikmat oleh Allah lalu ia mengira bahwa nikmat itu karena usahanya sendiri, maka ia telah kufur. Dan barangsiapa yang mengakui bahwa nikmat itu dari Allah, maka Allah akan menambah nikmat-Nya kepadanya."
Beliau juga pernah berkata: "Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang diberi nikmat lalu mereka bersyukur, maka Allah menambah nikmat mereka. Dan ada hamba-hamba yang diberi nikmat lalu mereka kufur, maka Allah mencabut nikmat tersebut dari mereka."
Kisah ini mengingatkan kita bahwa nikmat yang kita miliki—baik kesehatan, harta, keluarga, atau ilmu—semuanya adalah pemberian Allah. Ketika kita mengakui hal ini dengan hati dan lisan, serta menggunakannya untuk kebaikan, maka Allah akan menjaga dan menambah nikmat tersebut. Namun ketika kita sombong dan menganggap nikmat itu dari diri sendiri, maka kita terancam kehilangan nikmat tersebut.
Kesimpulan Praktis
- Bersyukurlah atas setiap nikmat yang Allah berikan, baik kesehatan, harta, maupun kesempatan. Syukur itu dengan mengakui nikmat dari Allah, memuji-Nya, dan menggunakan nikmat untuk ketaatan.
- Jangan mengklaim nikmat dari diri sendiri. Ketika ditanya tentang harta atau keberhasilan, jangan berkata "ini hasil jerih payahku sendiri" tanpa mengakui bahwa Allah yang memberi kemampuan dan kesempatan.
- Bersedekahlah dan berbagilah dengan sesama. Harta yang kita miliki ada hak orang lain di dalamnya. Kedermawanan adalah bukti syukur kita.
- Jauhilah sifat kikir. Kikir adalah penyakit hati yang dapat menghancurkan nikmat. Orang yang kikir akan kehilangan keberkahan hartanya.
- Jadikan kisah ini sebagai pelajaran. Ujian Allah tidak selalu berupa kesulitan; bisa juga berupa kelapangan. Maka berhati-hatilah ketika diberi nikmat, jangan sampai kita lupa diri dan kufur.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.