Penjelasan Hadits Bukhari No. 3456 tentang Umat mengikuti kebiasaan Yahudi dan Nasrani

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya mengikuti kebiasaan, gaya hidup, dan budaya umat-umat terdahulu (Yahudi dan Nasrani) secara membabi buta, bahkan dalam hal-hal yang tampak sepele sekalipun. Ini bukan berarti kita dilarang mengambil manfaat dari teknologi atau ilmu mereka, tetapi kita dilarang meniru keyakinan, ritual ibadah, dan perilaku yang bertentangan dengan syariat Islam. Hadits ini juga menjadi kabar nyata tentang kondisi umat Islam di akhir zaman yang banyak meniru gaya hidup non-Muslim tanpa filter.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, Kitab Hadis Para Nabi, Bab "Apa yang Dikatakan Tentang Bani Israil", no. 3456, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ

"Kalian akan mengikuti jalan-jalan (kebiasaan) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pun akan mengikutinya."

Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab, "Siapa lagi?"

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz yang semakna.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (penjelasan Shahih Al-Bukhari) membahas hadits ini secara panjang lebar. Beliau menjelaskan bahwa makna "sanan" adalah jalan atau kebiasaan, dan ini adalah berita tentang perbuatan umat Islam yang akan terjadi.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (Al-Minhaj) juga menjelaskan bahwa hadits ini adalah mukjizat Nabi ﷺ karena apa yang beliau kabarkan benar-benar terjadi.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:

1. Makna "Sannan" (سَنَن)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kata "sanan" berarti jalan, cara, atau kebiasaan. Maksudnya, umat Islam akan mengikuti cara hidup umat Yahudi dan Nasrani dalam berbagai aspek.

2. Tingkatan Mengikuti

Nabi ﷺ menyebut "syibr" (jengkal) dan "dzira'" (hasta) untuk menunjukkan bahwa peniruan itu akan terjadi secara bertahap dan sangat detail. Ini menggambarkan bahwa umat Islam akan meniru mereka sedikit demi sedikit, mulai dari hal kecil hingga hal besar.

3. Perumpamaan Lubang Biawak

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan betapa parahnya peniruan tersebut. Biawak (dhabb) adalah hewan yang lubangnya sempit dan berliku. Ini menggambarkan bahwa umat Islam akan mengikuti mereka bahkan dalam hal-hal yang tidak masuk akal atau merugikan sekalipun.

4. Jawaban Nabi ﷺ "Siapa Lagi?"

Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan bahwa jawaban Nabi ﷺ ini menegaskan bahwa yang dimaksud adalah Yahudi dan Nasrani, dan ini adalah jawaban yang tegas tanpa keraguan.

5. Apakah Semua Bentuk Peniruan Dilarang?

Para ulama membedakan antara:

  • Tasyabbuh yang dilarang: Meniru hal-hal yang menjadi ciri khas agama atau budaya mereka yang bertentangan dengan syariat, seperti ritual ibadah, pakaian khusus yang menjadi identitas keagamaan mereka, atau perayaan hari raya mereka.
  • Muamalah yang dibolehkan: Mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan, teknologi, atau sistem administrasi yang tidak bertentangan dengan syariat. Ini bukanlah yang dilarang dalam hadits.

6. Hadits Ini Adalah Mukjizat Nabi ﷺ

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menegaskan bahwa hadits ini adalah salah satu bukti kenabian, karena apa yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ benar-benar terjadi di kalangan umat Islam. Kita melihat banyak umat Islam yang meniru gaya hidup, pakaian, bahkan keyakinan orang-orang Barat yang notabene adalah Nasrani atau sekuler.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Al-Auza'i (salah seorang ulama tabi'ut tabi'in yang sangat dihormati) pernah berkata tentang hadits ini:

"Tidaklah suatu kaum mengada-adakan bid'ah dalam agama mereka, kecuali Allah akan mencabut dari mereka sunnah yang semisal dengannya. Kemudian beliau membacakan firman Allah: 'Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu dan telah menyesatkan banyak manusia, dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.' (QS. Al-Ma'idah [5]: 77)"

Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf sangat memahami bahwa mengikuti kebiasaan orang-orang yang menyimpang akan membawa kepada hilangnya sunnah dan munculnya bid'ah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan meniru ritual ibadah yang menjadi ciri khas agama lain, seperti perayaan hari raya mereka, cara beribadah yang tidak diajarkan Islam, atau doa-doa khusus mereka.
  2. Jangan meniru penampilan yang menjadi identitas keagamaan mereka, seperti pakaian khusus pendeta atau biarawan, atau simbol-simbol keagamaan mereka.
  3. Boleh mengambil manfaat dari ilmu dan teknologi mereka selama tidak bertentangan dengan syariat. Ini bukanlah yang dilarang dalam hadits.
  4. Jadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai filter utama dalam menilai setiap budaya atau kebiasaan yang masuk ke dalam kehidupan kita.
  5. Sadari bahwa hadits ini adalah kabar nyata yang terjadi di zaman kita, dan kita harus berusaha keluar dari kebiasaan umat yang menyimpang tersebut.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?