Penjelasan Hadits Bukhari No. 3447 tentang Kebangkitan manusia telanjang dan syafaat Nabi untuk umatnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang peristiwa besar di hari kiamat: manusia akan dibangkitkan dalam keadaan telanjang, tidak bersepatu, dan tidak disunat. Nabi ﷺ juga mengabarkan bahwa orang pertama yang diberi pakaian adalah Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Kemudian ada sebagian orang yang diklaim sebagai "sahabat" Nabi ﷺ, namun dinyatakan telah murtad sepeninggal beliau. Ini adalah peringatan keras tentang bahaya murtad dan pentingnya istiqamah di atas agama Islam hingga akhir hayat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadits Para Nabi, Bab: "Dan sebutkan dalam kitab Maryam ketika ia menjauh dari keluarganya", nomor 3447, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Ayat Al-Qur'an yang disebut dalam hadits:

  1. QS. Al-Anbiya' [21]: 104 - tentang pengulangan ciptaan:

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

"Pada hari Kami gulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kitab. Sebagaimana Kami memulai penciptaan pertama, Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sungguh, Kami akan melakukannya."

  1. QS. Al-Ma'idah [5]: 117-118 - perkataan Nabi Isa 'alaihissalam:

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ * إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: 'Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.' Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka. Maka ketika Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya dengan sanad yang shahih.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan hadits ini secara panjang lebar dalam Fathul Bari (Kitab Syarh Shahih Al-Bukhari).
  • Imam An-Nawawi juga membahas hadits-hadits tentang kebangkitan dalam Syarh Shahih Muslim.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan makna kebangkitan dan keadaan manusia pada hari kiamat dalam berbagai kitab dan ceramahnya.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Hufatan, 'Uratan, Ghurlan"

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa manusia akan dibangkitkan dalam keadaan:

  • Hufah (حُفَاةً): tidak memakai alas kaki/sandal
  • 'Urah (عُرَاةً): telanjang tanpa pakaian
  • Ghurl (غُرْلًا): tidak disunat (belum dikhitan)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini adalah keadaan yang menunjukkan betapa hinanya manusia di hadapan Allah pada hari itu. Tidak ada yang bisa melindungi mereka kecuali amal saleh. Beliau juga menyebutkan bahwa dalam riwayat lain dijelaskan bahwa manusia dibangkitkan dalam keadaan telanjang, namun tidak ada seorang pun yang memandang orang lain karena sibuk dengan urusan dirinya masing-masing.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa ini menunjukkan hari kiamat adalah hari yang sangat dahsyat. Manusia tidak lagi memikirkan aurat dan penampilan, karena hati mereka dipenuhi rasa takut yang luar biasa kepada Allah.

2. Orang Pertama yang Diberi Pakaian: Nabi Ibrahim

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa orang pertama yang akan diberi pakaian pada hari kiamat adalah Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Ini adalah keutamaan yang agung bagi beliau.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim adalah khalilullah (kekasih Allah), dan Allah memuliakannya dengan memberikan pakaian lebih dahulu daripada makhluk lainnya. Ini juga sebagai penghormatan atas keteladanan beliau dalam ketaatan dan keikhlasan.

3. Peringatan Tentang Orang yang Murtad

Bagian yang sangat penting dalam hadits ini adalah sabda Nabi ﷺ:

> "Kemudian akan diambil beberapa orang dari sahabatku ke kanan dan ke kiri. Aku berkata: 'Sahabat-sahabatku!' Maka dikatakan: 'Sesungguhnya mereka senantiasa murtad (berbalik) ke belakang sejak engkau meninggalkan mereka.'"

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "sahabat" di sini adalah orang-orang yang hidup di zaman Nabi ﷺ dan melihat beliau, namun kemudian murtad setelah beliau wafat. Mereka bukanlah sahabat yang benar-benar istiqamah, melainkan orang-orang munafik atau orang-orang yang lemah imannya.

Catatan penting dari riwayat Qabishah yang disebutkan di akhir hadits: mereka adalah orang-orang yang murtad pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, yang kemudian diperangi oleh Abu Bakar sampai mereka kembali kepada Islam atau binasa.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahaya besar murtad. Orang yang keluar dari Islam setelah beriman akan menghadapi akibat yang sangat buruk di akhirat, meskipun mereka pernah hidup di zaman Nabi ﷺ.

4. Sikap Nabi ﷺ yang Menyerahkan Urusan kepada Allah

Ketika Nabi ﷺ diberitahu tentang orang-orang yang murtad tersebut, beliau mengucapkan perkataan yang diajarkan Allah kepada Nabi Isa 'alaihissalam:

> "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah bentuk penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Nabi Isa tidak membela mereka secara membabi buta, tetapi menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Allah yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Demikian pula Nabi Muhammad ﷺ, beliau menyerahkan urusan mereka kepada Allah.

5. Pelajaran tentang Keutamaan Abu Bakar

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menyebutkan bahwa hadits ini secara tidak langsung menunjukkan keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq, karena beliau adalah orang yang memerangi para murtad dan mengembalikan mereka kepada Islam. Ini adalah salah satu jasa terbesar Abu Bakar dalam menjaga agama Allah.

Story Telling

Dikisahkan bahwa ketika Nabi ﷺ wafat, banyak kabilah Arab yang murtad. Mereka ada yang keluar dari Islam secara total, ada yang tetap shalat namun enggan membayar zakat, dan ada yang mengikuti nabi palsu seperti Musailamah Al-Kadzdzab.

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berdiri tegar. Beliau berkata dengan tegas, "Demi Allah, aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat. Karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, seandainya mereka menolak memberiku seutas tali unta yang biasa mereka berikan kepada Rasulullah ﷺ, niscaya aku akan memerangi mereka karena penolakan itu."

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pada awalnya merasa keberatan, karena melihat sebagian orang yang enggan membayar zakat masih mengaku Islam. Namun kemudian Allah membukakan hati Umar, dan beliau berkata, "Demi Allah, aku tidak mendapati hal itu melainkan Allah telah membukakan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka. Dan aku yakin itulah kebenaran."

Abu Bakar kemudian mengirim pasukan untuk memerangi para murtad. Dengan izin Allah, mereka kembali kepada Islam dan agama Allah tetap tegak. Inilah salah satu bukti bahwa Abu Bakar adalah Ash-Shiddiq yang benar-benar menjaga risalah Nabi ﷺ.

(Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah akan hari kebangkitan - Manusia akan dibangkitkan dalam keadaan telanjang dan tidak berdaya. Maka perbanyak amal saleh sebagai bekal.
  2. Jaga keistiqamahan dalam Islam - Jangan pernah keluar dari agama Allah, karena murtad adalah dosa yang sangat besar. Berhati-hatilah dari segala bentuk kesyirikan dan kemunafikan.
  3. Teladani Nabi Ibrahim - Beliau adalah orang pertama yang diberi pakaian di hari kiamat karena keutamaannya. Jadikan beliau teladan dalam keikhlasan dan ketaatan.
  4. Serahkan urusan kepada Allah - Sebagaimana Nabi ﷺ dan Nabi Isa menyerahkan urusan hamba kepada Allah, kita pun hendaknya tidak berputus asa dari rahmat Allah dan tidak pula meremehkan keadilan-Nya.
  5. Hargai jasa para sahabat - Terutama Abu Bakar Ash-Shiddiq yang berjuang memerangi kemurtadan. Cintai para sahabat dan jangan mencela mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?