Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan kedudukan mulia Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Isa 'alaihis salam. Beliau ﷺ menyatakan bahwa beliau adalah orang yang paling dekat dengan Nabi Isa di antara seluruh manusia. Para nabi itu ibarat saudara seayah; meskipun ibu mereka berbeda-beda, agama (tauhid) mereka satu. Dan tidak ada nabi yang diutus Allah di antara masa Nabi Isa dan masa Nabi Muhammad ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadits Para Nabi, Bab: "Dan sebutkan dalam kitab Maryam ketika ia menjauh dari keluarganya", no. 3442, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عَنْهُ ـ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: "أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِابْنِ مَرْيَمَ، وَالأَنْبِيَاءُ أَوْلاَدُ عَلاَّتٍ، لَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ".
Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Aku adalah orang yang paling dekat dengan putra Maryam (Nabi Isa). Para nabi itu adalah saudara seayah. Tidak ada nabi antara aku dan dia (Isa).'"
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman tentang Nabi Isa 'alaihis salam:
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
(QS. Ash-Shaff [61]: 6)
Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: 'Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab yang turun sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).' Maka ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: 'Ini adalah sihir yang nyata.'"
Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Isa sendiri telah mengabarkan tentang kedatangan Nabi Muhammad ﷺ, dan ini menguatkan makna hadits bahwa tidak ada nabi di antara keduanya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
1. Makna "Aku orang yang paling dekat dengan putra Maryam"
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "أَوْلَى النَّاسِ" (orang yang paling dekat/berhak) di sini adalah paling dekat dalam hal kecintaan, pengikut, dan pembenaran terhadap Nabi Isa. Bukan berarti nasab atau hubungan darah, karena tidak ada hubungan nasab antara Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Isa.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa kedekatan ini karena Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang paling membenarkan Nabi Isa, paling mengikuti ajarannya yang masih murni (tauhid), dan paling membela kehormatannya dari tuduhan-tuduhan palsu kaum Nasrani dan Yahudi.
2. Makna "Para nabi adalah saudara seayah"
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa maksudnya adalah agama para nabi itu satu, yaitu Islam (tauhid), meskipun syariat mereka berbeda-beda. Ibarat saudara seayah: ayah mereka satu (yaitu agama tauhid), tetapi ibu mereka berbeda-beda (yaitu syariat yang berbeda-beda).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa seluruh nabi diutus dengan agama yang satu, yaitu al-Islam (berserah diri kepada Allah), meskipun hukum-hukum syariat berbeda sesuai dengan keadaan umat masing-masing. Ini sebagaimana firman Allah:
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
(QS. Asy-Syura [42]: 13)
Terjemahan: "Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (tauhid) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya."
3. Makna "Tidak ada nabi antara aku dan dia"
Ini menunjukkan bahwa Nabi Isa 'alaihis salam adalah nabi terakhir yang diutus kepada Bani Israil sebelum Nabi Muhammad ﷺ. Setelah masa Nabi Isa diangkat ke langit, tidak ada lagi nabi yang diutus Allah kepada manusia sampai datangnya Nabi Muhammad ﷺ. Dan Nabi Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa tidak ada nabi di antara keduanya, dan ini menunjukkan bahwa Nabi Isa akan turun kembali di akhir zaman sebagai pengikut syariat Nabi Muhammad ﷺ, bukan membawa syariat baru.
4. Hikmah kedekatan ini
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa kedekatan Nabi Muhammad ﷺ dengan Nabi Isa ini juga bermakna bahwa umat Nabi Muhammad ﷺ adalah yang paling dekat dengan Nabi Isa dalam hal akidah yang benar. Kita mengimani Nabi Isa sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya, bukan sebagai tuhan atau anak Tuhan sebagaimana keyakinan Nasrani, dan bukan pula sebagai pendusta sebagaimana keyakinan Yahudi.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad ﷺ menaklukkan kota Makkah, beliau masuk ke dalam Ka'bah. Di dalam Ka'bah terdapat gambar-gambar malaikat dan nabi. Beliau memerintahkan untuk menghapus semua gambar tersebut, kecuali gambar Ibrahim dan Isa. Namun kemudian beliau tetap memerintahkan untuk menghapusnya juga.
Dalam riwayat lain, ketika Nabi Isa turun di akhir zaman, beliau akan memecahkan salib, membunuh babi, dan menghapus jizyah (pajak bagi non-Muslim). Ini menunjukkan bahwa Nabi Isa datang untuk mengikuti syariat Nabi Muhammad ﷺ, bukan membawa syariat baru. Beliau akan menjadi hakim yang adil dan pemimpin umat Islam di akhir zaman.
Kisah ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Isa 'alaihis salam dalam satu risalah tauhid, dan bagaimana umat Islam adalah umat yang paling mencintai dan membenarkan Nabi Isa.
Kesimpulan Praktis
- Mengimani seluruh nabi tanpa membeda-bedakan antara satu dengan yang lain, sebagaimana firman Allah: "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka" (QS. Al-Baqarah [2]: 285).
- Menjauhi sikap ghuluw (berlebihan) terhadap Nabi Isa sebagaimana dilakukan kaum Nasrani yang menjadikannya tuhan, dan juga menjauhi sikap merendahkan beliau sebagaimana dilakukan kaum Yahudi.
- Meyakini bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi terakhir dan tidak ada nabi setelahnya, dan bahwa Nabi Isa ketika turun di akhir zaman akan mengikuti syariat Nabi Muhammad ﷺ.
- Meneladani persatuan para nabi dalam satu agama tauhid, dan menjadikan ini sebagai pelajaran untuk bersatu di atas kebenaran.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.