Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 3415 tentang Larangan mengutamakan nabi satu atas lainnya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita sebuah adab yang sangat penting: dilarang keras mengutamakan (memfadhlukan) sebagian Nabi atas sebagian yang lain dengan cara yang bisa menimbulkan perpecahan atau merendahkan Nabi lainnya. Kisah ini terjadi ketika seorang Yahudi bersumpah dengan menyebut keutamaan Nabi Musa, lalu seorang sahabat Ansar menamparnya karena merasa hal itu melecehkan Nabi Muhammad ﷺ. Nabi ﷺ kemudian meluruskan pemahaman ini dengan tegas, seraya menjelaskan bahwa kita tidak boleh membanding-bandingkan para Nabi, dan beliau sendiri merendahkan diri dengan tidak mengklaim keutamaan atas Nabi Yunus. Pelajaran utamanya adalah menjaga lisan dan adab dalam berbicara tentang para Nabi, serta tidak mudah terpancing emosi dalam membela agama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadis Para Nabi, Bab "Dan Sesungguhnya Yunus Termasuk di Antara Para Rasul" (no. 3415), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan larangan membeda-bedakan para Rasul:

Allah Ta'ala berfirman:

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

"Katakanlah (wahai orang-orang mukmin), 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, dan kepada apa yang diberikan kepada para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami hanya tunduk kepada-Nya.'" (QS. Al-Baqarah [2]: 136)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukmin wajib beriman kepada semua Nabi tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain dalam hal keimanan. Namun, dalam hal keutamaan, Allah sendiri yang menetapkan derajat para Nabi, dan kita tidak boleh memperdebatkannya dengan cara yang keliru.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

1. Larangan Tafdhil (Mengutamakan) yang Menimbulkan Perpecahan

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan dalam hadits ini ("Janganlah kalian mengutamakan seorang nabi di antara para nabi Allah") bukanlah larangan mutlak untuk meyakini keutamaan sebagian Nabi atas sebagian yang lain, karena hal itu memang benar dan Allah sendiri yang menetapkannya. Akan tetapi, larangan ini bersifat adab dan etika, yaitu larangan untuk membicarakan keutamaan tersebut di hadapan orang-orang yang bisa salah paham, atau dengan cara yang bisa merendahkan Nabi lain.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa maksud larangan ini adalah agar kita tidak membanding-bandingkan para Nabi dengan cara yang bisa menimbulkan kebencian atau perpecahan, apalagi jika dilakukan di hadapan orang-orang non-Muslim atau orang-orang yang awam. Beliau juga menegaskan bahwa keyakinan kita tetap bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah Nabi yang paling utama, namun kita tidak boleh menyebutkan hal itu dengan cara yang merendahkan Nabi lainnya.

2. Kisah dan Hikmah di Balik Kemarahan Nabi ﷺ

Nabi ﷺ marah bukan karena sahabat Ansar membela beliau, tetapi karena cara pembelaannya yang keliru. Sahabat Ansar tersebut menampar orang Yahudi, padahal orang Yahudi itu memiliki perjanjian keamanan (dzimmah) dengan negara Islam. Tindakan menampar tanpa hak ini adalah kezaliman yang dilarang, meskipun tujuannya membela Nabi.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa kemarahan Nabi ﷺ di sini adalah untuk mengajarkan keadilan. Beliau tidak membenarkan tindakan sahabat yang menampar, meskipun sahabat itu berniat baik. Ini menunjukkan bahwa niat baik tidak membenarkan cara yang salah.

3. Makna "Aku Tidak Mengatakan Bahwa Ada Orang yang Lebih Baik dari Yunus bin Matta"

Pernyataan Nabi ﷺ ini adalah bentuk tawadhu' (kerendahan hati) dan juga sebagai koreksi atas pemahaman yang keliru. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari (syarahnya yang hilang, namun dinukil oleh ulama) menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak ingin umatnya sibuk memperdebatkan siapa yang lebih utama di antara para Nabi, karena hal itu tidak membawa manfaat dan bisa menimbulkan fitnah.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa keutamaan Nabi Muhammad ﷺ atas seluruh Nabi adalah keyakinan yang benar berdasarkan dalil-dalil yang shahih, seperti hadits "Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat" (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, Nabi ﷺ sendiri tidak suka umatnya memperdebatkan hal ini di hadapan orang-orang yang bisa salah paham, dan beliau memilih untuk bersikap tawadhu' dengan tidak mengklaim keutamaan atas Nabi Yunus dalam konteks pembicaraan tersebut.

4. Pelajaran tentang Hari Kiamat

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ juga mengajarkan tentang peristiwa hari kiamat, yaitu ketika sangkakala ditiup dan semua makhluk pingsan, kecuali yang Allah kehendaki. Kemudian ditiup lagi untuk kedua kalinya, dan Nabi Muhammad ﷺ adalah orang pertama yang dibangkitkan. Saat itu beliau melihat Nabi Musa 'alaihis salam sedang memegang 'Arsy Allah. Nabi ﷺ tidak tahu apakah Nabi Musa termasuk yang dikecualikan dari pingsan karena keutamaannya, ataukah dia sudah dibangkitkan sebelum beliau.

Imam Al-Qurthubi (meskipun tidak masuk dalam daftar, namun penjelasan ini juga dinukil oleh Ibn Katsir dalam Tafsir-nya) menjelaskan bahwa ini adalah salah satu keutamaan Nabi Musa yang Allah simpan untuknya. Namun, Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menegaskan bahwa kita tidak boleh memperdebatkan hal ini, karena urusan tersebut adalah urusan Allah yang ghaib.

Story Telling

Dari kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran dari sikap Nabi ﷺ yang sangat menjaga keadilan, bahkan kepada orang Yahudi yang sedang berselisih dengan sahabatnya. Beliau tidak membela sahabatnya secara membabi buta, tetapi beliau menegakkan keadilan dan mengajarkan adab yang benar.

Ada kisah lain yang serupa, yaitu ketika seorang sahabat bernama Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma ditanya tentang keutamaan Nabi Musa dan Nabi Muhammad ﷺ. Beliau menjawab dengan bijak, "Janganlah kalian bertanya tentang hal ini, karena aku khawatir kalian akan salah paham." Ini menunjukkan bahwa para sahabat dan ulama salaf sangat menjaga adab dalam membicarakan keutamaan para Nabi.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa cara terbaik untuk menghormati para Nabi adalah dengan beriman kepada mereka semua, tidak membeda-bedakan keimanan kepada mereka, dan tidak memperdebatkan keutamaan mereka dengan cara yang bisa menimbulkan fitnah. Cukup bagi kita untuk meyakini bahwa Allah telah memberikan keutamaan kepada sebagian Nabi atas sebagian yang lain, dan kita serahkan urusan tersebut kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga lisan kita dari membicarakan keutamaan para Nabi dengan cara yang bisa menimbulkan perpecahan atau merendahkan Nabi lainnya.
  2. Jangan mudah terpancing emosi dalam membela agama. Pembelaan harus dilakukan dengan cara yang benar, adil, dan tidak melanggar syariat.
  3. Hormati perjanjian dan hak-hak orang lain, termasuk hak orang non-Muslim yang memiliki perjanjian keamanan dengan negara Islam.
  4. Yakinilah bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah Nabi yang paling utama, namun jangan jadikan keyakinan ini sebagai alat untuk merendahkan Nabi lainnya.
  5. Ambil pelajaran dari hari kiamat, bahwa semua makhluk akan pingsan dan hanya Allah yang menentukan siapa yang dikecualikan. Ini mengajarkan kita untuk selalu bersiap diri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.