Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini melarang seorang muslim merasa dirinya lebih baik dari Nabi Yunus ‘alaihis salam. Larangan ini mengajarkan kita untuk tidak merendahkan para nabi dan rasul, serta menyadari bahwa kedudukan mereka di sisi Allah sangatlah mulia. Ini adalah bentuk adab yang harus dijaga oleh setiap mukmin.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَارُونَ
"Dan sungguh, Kami telah memberikan karunia kepada Musa dan Harun." (QS. Ash-Shaffat [37]: 114)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memberikan keutamaan khusus kepada para nabi. Meskipun tidak secara langsung menyebut Yunus, ayat-ayat lain menegaskan kedudukan mulia para nabi.
Hadits:
Hadits riwayat Al-Bukhari nomor 3413 dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, Nabi ﷺ bersabda: "Tidak sepatutnya seorang hamba (Allah) mengatakan bahwa aku lebih baik dari Yunus bin Matta." (HR. Al-Bukhari, Kitab Hadits Para Nabi, Bab Perkataan Allah Ta'ala: Dan Sesungguhnya Yunus Termasuk di antara Para Rasul)
Kaitan dengan Ulama:
Imam Al-Bukhari (w. 256 H) meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya. Perawi dalam sanadnya adalah Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (w. 117 H), seorang tabi'in besar dan ahli tafsir. Beliau adalah salah satu ulama dalam daftar rujukan kita. Penjelasan beliau tentang hadits ini dapat ditemukan dalam kitab tafsir dan syarah hadits.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki makna yang sangat dalam. Pertama, larangan mengatakan "aku lebih baik dari Yunus bin Matta" bukan berarti kita boleh membandingkan diri dengan nabi lain. Ini adalah bentuk adab yang sangat tinggi. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini bersifat mutlak, artinya tidak boleh seorang pun merasa lebih baik dari Nabi Yunus, baik secara terang-terangan maupun dalam hati.
Imam Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini karena kedudukan Nabi Yunus yang sangat mulia di sisi Allah. Beliau adalah seorang nabi yang diutus kepada kaumnya, dan meskipun sempat mengalami ujian berat (ditelan ikan paus), beliau tetap menjadi nabi yang mulia. Ibn Hajar juga menukil pendapat Imam Al-Bukhari sendiri bahwa hadits ini menunjukkan larangan merendahkan para nabi.
Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim juga menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa tidak boleh seorang pun merasa lebih utama dari para nabi. Beliau menegaskan bahwa keutamaan para nabi adalah mutlak dan tidak bisa dibandingkan dengan manusia biasa.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam syarahnya menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk tidak sombong dan tidak merendahkan orang lain, apalagi para nabi. Beliau juga menekankan bahwa larangan ini bersifat umum, mencakup semua nabi.
Ada juga penjelasan dari Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (w. 1376 H) dalam tafsirnya bahwa Allah telah memberikan keutamaan kepada para nabi di atas seluruh manusia. Oleh karena itu, tidak pantas bagi seorang hamba untuk membandingkan dirinya dengan mereka.
Story Telling
Ada sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3413) dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang berkata di hadapan Nabi ﷺ, "Aku lebih baik dari Yunus bin Matta." Maka Nabi ﷺ langsung melarangnya dengan sabda beliau yang agung ini. Kisah ini menunjukkan betapa cepatnya Nabi ﷺ dalam membantah perkataan yang tidak pantas tentang para nabi. Hikmahnya adalah kita harus selalu menjaga lisan dan hati dari perasaan lebih baik dari orang lain, apalagi dari para nabi.
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah merasa lebih baik dari para nabi dan rasul, baik secara terang-terangan maupun dalam hati.
- Jaga adab terhadap para nabi dengan tidak merendahkan atau membandingkan diri dengan mereka.
- Sadari bahwa kedudukan para nabi sangat mulia di sisi Allah, dan kita tidak akan pernah bisa menyamai mereka.
- Jauhi sifat sombong dan ujub (merasa bangga diri), karena ini adalah penyakit hati yang berbahaya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.