Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini melarang kita merasa lebih baik atau merendahkan Nabi Yunus عليه السلام. Nabi ﷺ menegaskan bahwa beliau tidak mengatakan dirinya lebih utama dari Yunus, padahal beliau adalah rasul paling mulia. Ini pelajaran agar kita tawadhu, tidak membanggakan diri, dan tidak merendahkan siapa pun, terutama para nabi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadis Para Nabi, dari Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه.
Teks hadits:
لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ إِنِّي خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ
"Janganlah salah seorang di antara kalian mengatakan bahwa aku lebih baik daripada Yunus."
Dalam riwayat Musaddad ditambahkan: يُونُسَ بْنِ مَتَّى (Yunus bin Matta).
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan, Allah menyebut Yunus sebagai rasul:
وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
QS. Ash-Shaffat [37]: 139
"Dan sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk para rasul."
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini, dan Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga membahas maknanya. Ibn Katsir menyebutkan kisah Yunus dalam tafsirnya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini muncul dalam konteks ketika Nabi ﷺ menyebutkan kisah para nabi. Sebagian orang bisa salah paham, mengira karena Nabi Yunus pernah "gagal" atau meninggalkan kaumnya sebelum izin Allah, lalu menganggap dirinya lebih baik. Nabi ﷺ menutup pintu perbandingan seperti itu.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa larangan ini bukan berarti Yunus lebih utama dari Nabi ﷺ. Justru Nabi ﷺ adalah yang paling utama di antara seluruh makhluk. Larangan ini bertujuan:
- Menjaga adab terhadap para nabi, tidak merendahkan mereka.
- Mengajarkan tawadhu, tidak merasa lebih baik dari orang lain.
- Menutup perdebatan dan perbandingan yang tidak bermanfaat.
Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan wajibnya menahan diri dari mengklaim keutamaan diri atas para nabi, dan hendaknya seorang hamba sibuk dengan amal serta memperbaiki diri.
Ibn Katsir dalam tafsirnya tentang Yunus menegaskan bahwa Yunus adalah nabi yang jujur, dan apa yang terjadi padanya adalah ujian, bukan celaan. Allah menyelamatkannya dan mengembalikannya kepada kaumnya yang kemudian beriman.
Para ulama sepakat bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul paling mulia, namun beliau sendiri mengajarkan tawadhu dan melarang kita merendahkan nabi lain.
Story Telling
Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda demikian. Ini menunjukkan betapa halusnya adab Nabi ﷺ. Beliau tidak ingin ada seorang pun merasa lebih baik dari nabi lain, apalagi merendahkan. Padahal beliau adalah yang paling mulia di sisi Allah.
Dalam kisah Yunus, beliau meninggalkan kaumnya karena marah, lalu ditelan ikan besar. Beliau berdoa:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
QS. Al-Anbiya [21]: 87
"Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."
Allah menyelamatkannya. Hikmahnya: seorang nabi pun bisa diuji, namun akhirnya kembali kepada Allah dengan tawadhu.
Kesimpulan Praktis
- Jangan merasa lebih baik dari orang lain, apalagi merendahkan para nabi.
- Tawadhu adalah akhlak para nabi dan orang beriman.
- Sibuklah memperbaiki diri, bukan membanding-bandingkan keutamaan.
- Hormati semua nabi dan rasul.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.