Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang Nabi Musa 'alaihissalam yang sangat pemalu dan selalu menutup auratnya. Kaumnya menuduhnya memiliki cacat kulit karena ia tidak pernah terlihat telanjang. Allah kemudian membuktikan kebersihan dan kesempurnaan tubuh Nabi Musa dari tuduhan tersebut melalui kejadian batu yang membawa pakaiannya. Hadits ini mengajarkan kita tentang kemuliaan sifat malu, pentingnya menutup aurat, dan bagaimana Allah membela hamba-Nya yang saleh dari tuduhan buruk.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat: Shahih Al-Bukhari, Kitab Hadits Para Nabi, Bab "Qauluhu Ta'ala: Yā Ayyuhal-ladzīna āmanū lā takūnū kalladzīna ādzau Mūsā" (HR. Bukhari no. 3404, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Al-Ahzab [33]: 69
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا ۚ وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka ucapkan. Dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah."
Ayat pendukung tentang sifat malu:
QS. Al-Qashash [28]: 25
فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ ۖ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا ۚ
"Kemudian datanglah salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu. Ia berkata, 'Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan atas (kebaikan)mu memberi minum ternak kami.'"
Kaitan dengan Ulama:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk hikmah di balik peristiwa batu yang membawa pakaian Nabi Musa.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan sifat malu dan bahwa Nabi Musa adalah manusia yang sangat pemalu.
- Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab tentang Nabi Musa untuk menjelaskan makna ayat Al-Ahzab: 69.
Penjelasan Rinci
1. Makna Sifat Malu Nabi Musa
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa kata "hayiyyan" (حَيِيًّا) berarti sangat pemalu, dan "sitiran" (سِتِّيرًا) berarti sangat suka menutup diri. Kedua sifat ini saling menguatkan—karena malu yang sangat, Nabi Musa menutup seluruh tubuhnya sehingga tidak ada bagian kulitnya yang terlihat. Ini adalah akhlak mulia yang dimiliki para nabi.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang akhlak menyebutkan bahwa sifat malu adalah cabang dari iman. Semakin kuat iman seseorang, semakin besar rasa malunya untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas atau memperlihatkan aurat.
2. Tuduhan Kaum Bani Israel
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Bani Israel yang dengki atau jahil menuduh Nabi Musa memiliki cacat kulit—entah kusta, hernia, atau penyakit lainnya—hanya karena ia tidak pernah terlihat telanjang. Ini adalah bentuk adza (gangguan) kepada seorang nabi yang mulia.
Allah tidak membiarkan hamba-Nya yang saleh terus difitnah. Maka Allah menghendaki untuk membersihkan Nabi Musa dari tuduhan tersebut dengan cara yang penuh hikmah.
3. Peristiwa Batu yang Membawa Pakaian
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ketika Nabi Musa mandi sendirian, ia meletakkan pakaiannya di atas batu. Batu itu kemudian bergerak membawa pakaiannya—ini adalah takdir Allah. Nabi Musa mengejar batu tersebut sambil berkata, "Pakaianku, wahai batu! Pakaianku, wahai batu!" Hingga akhirnya ia sampai di hadapan sekelompok Bani Israel yang melihatnya dalam keadaan telanjang.
Mereka pun menyaksikan bahwa Nabi Musa adalah manusia yang paling sempurna fisiknya, tanpa cacat sedikit pun. Dengan demikian, Allah membersihkan namanya dari semua tuduhan. Batu itu kemudian berhenti, dan Nabi Musa mengambil pakaiannya lalu memukul batu tersebut dengan tongkatnya hingga meninggalkan bekas.
4. Pelajaran dari Peristiwa Ini
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan beberapa pelajaran:
- Allah membela para nabi-Nya dan membersihkan mereka dari tuduhan-tuduhan batil.
- Sifat malu adalah akhlak terpuji yang dimiliki para nabi.
- Tidak boleh menuduh seseorang tanpa bukti, apalagi menuduh dengan hal yang berkaitan dengan aib fisik.
- Kisah ini menjadi penjelasan (tafsir) langsung dari Nabi ﷺ terhadap makna ayat Al-Ahzab: 69.
5. Catatan Penting
Perlu dipahami bahwa peristiwa ini terjadi karena kehendak Allah untuk membersihkan nama Nabi Musa. Ini bukan berarti membuka aurat itu dibolehkan—karena dalam syariat kita, menutup aurat adalah kewajiban. Peristiwa ini adalah mukjizat dan takdir Allah yang khusus, bukan teladan untuk diikuti dalam hal membuka aurat.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ketika Nabi Musa mandi sendirian, ia meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Batu itu pun berlari membawa pakaiannya. Nabi Musa mengejarnya sambil berkata, 'Pakaianku, wahai batu! Pakaianku, wahai batu!' Hingga ia sampai di hadapan sekelompok Bani Israel. Mereka melihatnya dalam keadaan telanjang—sebaik-baik bentuk yang Allah ciptakan. Batu itu pun berhenti, lalu Nabi Musa mengambil pakaiannya dan memukul batu itu dengan tongkatnya. Demi Allah, bekas pukulan itu masih terlihat di batu tersebut—tiga, empat, atau lima bekas."
(HR. Bukhari no. 3404)
Hikmah dari kisah ini: Allah Maha Menjaga hamba-hamba-Nya yang saleh. Ketika seseorang difitnah, Allah memiliki cara untuk membersihkan namanya. Namun yang terpenting, kita harus menjaga lisan kita dari menuduh orang lain tanpa bukti, karena tuduhan buruk kepada orang saleh adalah perbuatan yang sangat tercela di sisi Allah.
Kesimpulan Praktis
- Meneladani sifat malu Nabi Musa — sifat malu adalah akhlak mulia yang harus dimiliki setiap mukmin, terutama dalam hal menutup aurat dan menjaga kehormatan.
- Menjauhi tuduhan tanpa bukti — jangan mudah menuduh orang lain memiliki aib, karena bisa jadi orang tersebut justru lebih baik dari kita.
- Yakin bahwa Allah membela hamba-Nya yang saleh — jika kita difitnah, serahkan urusan kita kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui yang benar dan yang batil.
- Menjaga lisan — fitnah dan tuduhan buruk adalah dosa besar yang dapat menghancurkan kehormatan orang lain.
- Membaca dan merenungkan kisah para nabi — kisah-kisah dalam Al-Qur'an dan hadits mengandung pelajaran berharga bagi kehidupan kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.