Penjelasan Hadits Bukhari No. 3400 tentang Pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi Musa عليه السلام pernah merasa dirinya yang paling berilmu, lalu Allah memberitahu bahwa ada hamba-Nya yang lebih berilmu, yaitu Al-Khadir. Ibnu Abbas رضي الله عنهما menegaskan bahwa nama beliau adalah Khidir, dan Ubai bin Ka'b رضي الله عنه mendengar langsung dari Rasulullah ﷺ tentang kisah ini. Pelajaran utamanya: seorang mukmin harus rendah hati, tidak merasa paling tahu, dan selalu siap belajar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadis-hadis Para Nabi, Bab Kisah Khidir dengan Musa, nomor 3400. Perawi sahabat: Ibnu Abbas رضي الله عنهما melalui jalur Ubai bin Ka'b رضي الله عنه.

Ayat Al-Qur'an yang menjadi rujukan kisah ini:

QS. Al-Kahfi [18]: 65

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

Terjemahan: "Lalu mereka berdua menemukan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami."

QS. Al-Kahfi [18]: 69

قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Terjemahan: "Musa berkata: 'Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.'"

Kaitan dengan ulama: Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas panjang kisah ini, termasuk penetapan nama Khidir dan pelajaran adab menuntut ilmu.

Penjelasan Rinci

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa hal penting:

Pertama, tentang penetapan bahwa nama "sahabat Musa" yang dimaksud dalam QS. Al-Kahfi adalah Al-Khadir. Ibnu Abbas رضي الله عنهما menegaskan hal ini, dan Ubai bin Ka'b رضي الله عنه menguatkannya dengan hadits marfu' (langsung dari Nabi ﷺ). Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Khidir adalah seorang nabi menurut pendapat yang kuat, karena Allah mengajarkan kepadanya ilmu ladunni (ilmu langsung dari Allah) dan ia melakukan perbuatan yang hanya bisa dilakukan atas dasar wahyu.

Kedua, tentang sebab pertemuan Musa dan Khidir. Nabi Musa عليه السلام pernah ditanya, "Siapakah orang yang paling berilmu?" dan beliau menjawab, "Aku." Allah kemudian memberitahu bahwa ada hamba yang lebih berilmu, yaitu Khidir. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini bukanlah celaan terhadap Musa, melainkan pengajaran agar tidak merasa paling tahu. An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa jawaban Musa bukanlah kesombongan, tetapi karena beliau tidak mengetahui adanya yang lebih berilmu.

Ketiga, tentang tanda ikan. Allah menjadikan ikan sebagai tanda: ketika ikan itu hilang (hidup kembali dan masuk ke laut), Musa harus kembali ke tempat itu. Ini disebutkan dalam QS. Al-Kahfi [18]: 61-64. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ini adalah mukjizat dan tanda kenabian.

Keempat, tentang adab menuntut ilmu. Meskipun Musa adalah nabi dan rasul yang mulia, beliau tetap diperintahkan untuk belajar kepada Khidir. Ini menunjukkan bahwa ilmu tidak mengenal pangkat dan kedudukan. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menekankan pentingnya tawadhu dalam mencari ilmu.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama berbeda pendapat apakah Khidir masih hidup atau sudah wafat. Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar cenderung pada pendapat bahwa beliau telah wafat, karena tidak ada dalil yang kuat bahwa beliau masih hidup hingga sekarang. Pendapat ini juga dipegang oleh Al-Bukhari yang mencantumkan hadits ini dalam kitabnya.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Ibnu Abbas رضي الله عنهما dan Al-Hur bin Qais Al-Fazari pernah berselisih tentang siapa sebenarnya "sahabat Musa" yang disebut dalam Al-Qur'an. Ibnu Abbas berkata, "Dia adalah Khidir." Al-Hur bin Qais ragu. Kebetulan lewatlah Ubai bin Ka'b رضي الله عنه, seorang sahabat mulia yang dikenal sebagai salah satu penulis wahyu. Ibnu Abbas memanggilnya dan bertanya, "Apakah engkau pernah mendengar Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang sahabat Musa yang ditanya jalan untuk menemuinya?"

Ubai bin Ka'b menjawab, "Ya, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Ketika Musa berada di tengah sekelompok Bani Israil, datanglah seorang lelaki dan bertanya, "Apakah engkau tahu seseorang yang lebih berilmu darimu?" Musa menjawab, "Tidak." Maka Allah mewahyukan kepada Musa: "Ya, hamba Kami Khidir."'"

Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat sangat berhati-hati dalam menetapkan sesuatu. Mereka tidak berbicara tanpa ilmu, tetapi bertanya kepada yang lebih tahu. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah contoh adab salaf dalam menerima berita: mereka merujuk kepada sumber yang sahih dan tidak berspekulasi.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan merasa paling berilmu. Sebesar apa pun ilmu kita, selalu ada yang lebih tahu. Ini mengajarkan tawadhu.
  2. Ilmu adalah cahaya. Allah memberikan ilmu kepada siapa yang Dia kehendaki, dan kita harus terus belajar.
  3. Adab dalam menuntut ilmu. Musa عليه السلام, meskipun seorang nabi, tetap diperintahkan untuk belajar dan bersabar kepada Khidir.
  4. Kembalikan urusan kepada ahlinya. Seperti Ibnu Abbas yang bertanya kepada Ubai bin Ka'b, kita harus bertanya kepada ulama yang terpercaya.
  5. Percaya pada kisah Al-Qur'an. Kisah Musa dan Khidir adalah benar, dan kita menerimanya tanpa ragu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?