Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita dua hal utama: pertama, larangan keras untuk menganggap diri kita lebih baik daripada nabi mana pun, khususnya Nabi Yunus bin Matta. Kedua, memberikan gambaran fisik para nabi yang dilihat Rasulullah ﷺ saat Isra' Mi'raj, untuk meneguhkan iman dan menghilangkan keraguan. Intinya, kita dilarang merendahkan para nabi dan diperintahkan untuk beriman kepada mereka tanpa membeda-bedakan derajat keutamaan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Shahih Al-Bukhari
Teks Arab yang disebutkan sudah sesuai dengan riwayat Bukhari. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab Hadits Para Nabi (Bab: Firman Allah Ta'ala: “Apakah telah sampai kepadamu berita tentang Musa?”).
Ayat Al-Qur'an terkait (larangan membeda-bedakan nabi)
Allah Ta'ala berfirman:
> لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ
> (QS. Al-Baqarah [2]: 285)
Artinya: “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya.”
Juga firman Allah tentang Nabi Yunus:
> وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
> (QS. As-Saffat [37]: 139)
Penjelasan ulama dari daftar:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (6/528) menjelaskan bahwa larangan Nabi ﷺ ini bukan berarti Nabi Yunus lebih rendah dari nabi lainnya, melainkan sebagai adab agar tidak mengunggulkan satu nabi atas nabi lain secara mutlak, karena semua nabi adalah utusan Allah yang mulia. Beliau juga menukil perkataan Qatadah (seorang tabi'in besar) bahwa maksud hadits adalah larangan sombong dan merendahkan nabi lain.
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (15/40) mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Nabi Yunus, sekaligus larangan menganggap diri lebih baik darinya, karena keutamaan nabi tidak bisa diketahui secara pasti oleh manusia.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu al-'Aliyah dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Di dalamnya terdapat beberapa pelajaran besar:
- Larangan mengunggulkan diri atas Nabi Yunus
Nabi ﷺ bersabda: “Tidak selayaknya seorang hamba mengatakan: ‘Aku lebih baik dari Yunus bin Matta.’”
– Kata “Yunus bin Matta” – Ibnu Abbas menambahkan: “Dan beliau menasabkannya kepada ayahnya (Matta).”
– Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa larangan ini bersifat umum untuk semua manusia, termasuk para sahabat. Sebab, keutamaan seorang nabi hanya diketahui oleh Allah. Oleh karena itu, kita dilarang merendahkan nabi mana pun, apalagi menganggap diri kita lebih baik.
- Deskripsi para nabi saat Isra' Mi'raj
– Nabi Musa “Adam (berkulit sawo matang/coklat), tubuh tinggi, seolah dari kalangan suku Syanu'ah” (suku Arab yang terkenal dengan tubuh tinggi dan warna kulit coklat).
– Nabi Isa “Ja'd (berambut keriting), marbu' (sedang tidak terlalu tinggi dan tidak pendek).”
– Malaikat Malik (penjaga neraka) disebutkan, serta Dajjal.
– Gambaran ini untuk memperkuat keimanan dan menunjukkan bahwa para nabi adalah manusia biasa namun mulia.
- Makna “tidak selayaknya”
Ulama seperti Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa larangan ini bersifat tahrim (haram) karena mengandung sikap ghuluw (berlebihan) dalam mengagungkan diri dan merendahkan nabi.
Kesimpulan ulama: Kita wajib beriman kepada semua nabi dan rasul tanpa membeda-bedakan derajat mereka secara mutlak. Meskipun Allah memberikan keutamaan kepada sebagian nabi (seperti Nabi Muhammad ﷺ), namun kita dilarang menganggap diri lebih baik dari nabi mana pun, apalagi jika didasari kesombongan.
Story Telling
Nabi Yunus 'alaihissalam dikenal sebagai Dzun Nun (pemilik ikan). Ketika beliau meninggalkan kaumnya karena marah, lalu ditelan ikan besar, beliau berdoa dalam kegelapan:
> لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
> (QS. Al-Anbiya' [21]: 87)
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Adzim menceritakan bahwa Nabi Yunus terus-menerus berdzikir dengan kalimat ini hingga Allah menyelamatkannya. Hikmahnya: kesabaran dan taubat yang tulus mengangkat derajatnya. Maka, tidak pantas kita menganggap diri lebih baik darinya, padahal beliau telah diuji dengan ujian besar dan tetap taat.
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah mengatakan “aku lebih baik dari Fulan” apalagi dari nabi.
- Jangan merendahkan nabi mana pun, baik dalam ucapan maupun hati.
- Berimanlah kepada seluruh nabi secara global, tanpa membeda-bedakan keutamaan mereka di hadapan manusia.
- Ambil pelajaran dari kisah Nabi Yunus: sabar dalam ujian, banyak beristighfar, dan jangan putus asa dari rahmat Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.