Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bagian dari peristiwa Isra' Mi'raj, ketika Nabi ﷺ bertemu Nabi Harun عليه السلام di langit kelima. Nabi Harun menyambut beliau dengan salam dan pujian: "Selamat datang, saudara yang saleh dan nabi yang saleh." Hadits ini mengajarkan adab salam, keutamaan para nabi, dan kebenaran perjalanan malam Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan Isra' Mi'raj:
QS. Al-Isra' [17]: 1
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadits-hadits Para Nabi, Bab perkataan Allah tentang Musa. Rawi: Malik bin Sha'sha'ah (sahabat Nabi ﷺ), melalui jalur Qatadah dari Anas bin Malik.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pertemuan Nabi ﷺ dengan para nabi di langit-langit, dan masing-masing menyambut beliau dengan penghormatan.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa pertemuan ini adalah pertemuan ruh dan jasad Nabi ﷺ dalam keadaan sadar, bukan mimpi.
- Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa Nabi Harun berada di langit kelima, dan penyambutannya menunjukkan kedudukan beliau yang mulia.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini adalah potongan dari hadits panjang tentang Isra' Mi'raj yang diriwayatkan Malik bin Sha'sha'ah. Dalam potongan ini, Nabi ﷺ menceritakan bahwa ketika sampai di langit kelima, beliau bertemu dengan Nabi Harun عليه السلام. Jibril memperkenalkan, lalu Nabi ﷺ memberi salam, dan Nabi Harun membalas salam sambil mengucapkan "Marhaban bil akhish shalih wan nabiyyish shalih" (Selamat datang, saudara yang saleh dan nabi yang saleh).
Bagaimana ulama memahami hadits ini:
- Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ucapan Nabi Harun "saudara yang saleh" menunjukkan bahwa para nabi saling mengenal dan menghormati. Kata "saudara" di sini bermakna saudara seiman dan senasab (karena Nabi ﷺ dan Nabi Harun sama-sama dari keturunan Nabi Ibrahim عليه السلام).
- Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya mengucapkan "marhaban" (selamat datang) kepada tamu atau orang yang datang, dan ini adalah sunnah para nabi.
- Ibnu Katsir menegaskan bahwa pertemuan ini adalah pertemuan yang hakiki, bukan simbolis. Nabi ﷺ benar-benar bertemu para nabi di langit, dan ini termasuk mukjizat terbesar beliau.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa peristiwa Isra' Mi'raj terjadi pada malam yang penuh berkah, dan pertemuan dengan para nabi menunjukkan kedudukan Nabi ﷺ yang tinggi di sisi Allah.
Adab yang diajarkan:
- Memberi salam ketika bertemu, sebagaimana Nabi ﷺ memberi salam kepada Nabi Harun.
- Membalas salam dengan lebih baik atau setara, sebagaimana Nabi Harun membalas dengan salam dan pujian.
- Mengucapkan "marhaban" (selamat datang) kepada orang yang datang, sebagai bentuk penghormatan.
Perbedaan pendapat:
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang keabsahan hadits ini. Semua sepakat bahwa hadits ini shahih dan menjadi bagian dari dalil Isra' Mi'raj.
Story Telling
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, bahwa pada malam Isra' Mi'raj, Nabi ﷺ dibawa oleh Jibril menembus langit-langit. Setiap langit, beliau bertemu dengan nabi-nabi mulia: di langit pertama bertemu Nabi Adam, di langit kedua Nabi Isa dan Nabi Yahya, di langit ketiga Nabi Yusuf, di langit keempat Nabi Idris, dan di langit kelima beliau bertemu Nabi Harun عليه السلام.
Nabi Harun, yang dikenal sebagai nabi yang fasih lisannya dan saudara Nabi Musa, menyambut Nabi ﷺ dengan hangat. Beliau tidak hanya membalas salam, tetapi juga memuji: "Selamat datang, saudara yang saleh dan nabi yang saleh." Ini menunjukkan betapa para nabi saling mencintai dan menghormati.
Hikmah: Bahwa para nabi adalah satu keluarga dalam kenabian, saling mendukung dan menghormati. Dan bahwa Nabi ﷺ adalah nabi yang paling mulia, yang disambut oleh para nabi sebelumnya dengan penghormatan tertinggi.
Kesimpulan Praktis
- Hendaklah kita memberi salam ketika bertemu sesama muslim, dan membalas salam dengan yang lebih baik atau setara.
- Ucapkan "marhaban" (selamat datang) kepada tamu atau orang yang datang, sebagai bentuk penghormatan yang diajarkan para nabi.
- Yakinlah pada kebenaran Isra' Mi'raj, karena hadits ini shahih dan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.
- Teladani akhlak para nabi dalam saling menghormati dan memuliakan sesama.
- Jangan ragu untuk mempelajari sirah Nabi ﷺ, karena di dalamnya terdapat pelajaran iman dan akhlak.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.