Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang seorang tokoh yang membunuh unta Nabi Shalih ‘alaihissalam. Nabi ﷺ menyebutkan bahwa pelaku pembunuhan itu adalah orang yang memiliki kedudukan, kehormatan, dan kekuatan di kaumnya. Penyebutan sifat ini menunjukkan bahwa kejahatan bisa dilakukan oleh orang yang tampak terpandang, sehingga kita harus waspada dan tidak menjadikan kedudukan sebagai ukuran kebenaran.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Hadits-hadits Para Nabi, Bab Firman Allah Ta’ala: “Dan kepada Tsamud, saudara mereka Shalih.”
Teks hadits:
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ زَمْعَةَ، قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ وَذَكَرَ الَّذِي عَقَرَ النَّاقَةَ قَالَ: «انْتَدَبَ لَهَا رَجُلٌ ذُو عِزٍّ وَمَنَعَةٍ فِي قُوَّةٍ كَأَبِي زَمْعَةَ»
Terjemahan:
“Telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari Abdullah bin Zam‘ah, ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ — ketika menyebutkan orang yang membunuh unta (Nabi Shalih) — bersabda: ‘Orang yang ditunjuk untuk melakukan pekerjaan itu adalah seorang yang memiliki kehormatan dan kekuatan, seperti Abu Zam‘ah.’”
Ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kisah ini antara lain:
وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ
(QS. An-Naml [27]: 48)
Terjemahan:
“Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”
Juga firman Allah:
فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا
(QS. Asy-Syams [91]: 13)
Terjemahan:
“Maka Rasul Allah (Shalih) berkata kepada mereka: ‘(Janganlah mengganggu) unta betina Allah dan (jangan pula menghalanginya) dari minum.’”
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa kaum Tsamud adalah kaum yang diberi nikmat berupa kekuatan dan kedudukan, namun mereka berpaling dan mendustakan Nabi Shalih. Salah satu bentuk kedurhakaan mereka adalah menyembelih unta betina yang menjadi tanda kenabian Shalih. Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa pelaku pembunuhan unta itu adalah seorang yang memiliki kedudukan tinggi dan kekuatan di kaumnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan salah satu peristiwa penting dalam sejarah umat terdahulu, yaitu kaum Tsamud. Allah mengutus Nabi Shalih ‘alaihissalam kepada mereka, dan sebagai tanda kebenaran, Allah mengeluarkan seekor unta betina dari batu. Unta itu menjadi bukti nyata kenabian Shalih, dan kaum Tsamud diperintahkan untuk tidak mengganggunya.
Namun, sebagian kaum Tsamud yang sombong dan durhaka bersepakat untuk membunuh unta tersebut. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ menyebutkan bahwa orang yang melakukan pembunuhan itu adalah seorang yang memiliki ‘izzah (kehormatan) dan man‘ah (kekuatan/pertahanan) di kaumnya. Nabi ﷺ menyerupakannya dengan Abu Zam‘ah, yaitu Abdullah bin Zam‘ah, seorang tokoh Quraisy yang dikenal memiliki kedudukan dan kekuatan.
Para ulama yang tercantum dalam daftar rujukan menjelaskan bahwa penyebutan sifat ini mengandung pelajaran penting:
- Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pelaku pembunuhan unta itu adalah seorang yang memiliki kedudukan tinggi, bukan orang lemah atau hina. Ini menunjukkan bahwa kesombongan dan kedurhakaan bisa muncul dari orang yang diberi nikmat oleh Allah berupa kekuatan dan kedudukan.
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa pelaku kejahatan itu adalah orang yang memiliki kekuatan dan pengaruh, sehingga ia berani melakukan dosa besar tersebut. Ini menjadi peringatan agar tidak tertipu dengan kedudukan seseorang.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kaum Tsamud diberi kekuatan dan kemampuan, tetapi mereka menggunakannya untuk menentang perintah Allah. Ini menunjukkan bahwa nikmat yang tidak disyukuri bisa menjadi sebab kehancuran.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang bahaya kesombongan dan merasa kuat, karena kekuatan yang tidak disertai iman akan membawa kepada kehancuran.
Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengetahui peristiwa masa lalu melalui wahyu, dan beliau menyebutkan detail yang tidak mungkin diketahui kecuali melalui wahyu Allah. Ini menjadi bukti kebenaran kenabian beliau.
Story Telling
Dikisahkan bahwa kaum Tsamud adalah kaum yang diberi kekuatan dan kemampuan luar biasa. Mereka memahat gunung-gunung menjadi rumah, dan hidup dalam kemakmuran. Namun, ketika Nabi Shalih menyeru mereka kepada tauhid, sebagian besar dari mereka menolak dengan sombong.
Di antara mereka ada sembilan orang yang berbuat kerusakan di bumi. Mereka bersepakat untuk membunuh unta betina yang menjadi tanda kenabian Shalih. Salah satu dari mereka, seorang yang memiliki kedudukan dan kekuatan, maju untuk melakukan perbuatan itu. Ia membunuh unta tersebut dengan pedangnya.
Setelah perbuatan itu, Nabi Shalih memberi peringatan bahwa mereka akan mendapat azab dalam tiga hari. Namun, mereka tetap sombong. Akhirnya, Allah menurunkan azab berupa suara yang mengguntur dan gempa yang menghancurkan mereka semua. Mereka menjadi bangkai-bangkai yang berserakan di rumah-rumah mereka.
Kisah ini disebutkan dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam QS. Al-A‘raf [7]: 73-79, QS. Hud [11]: 61-68, QS. Asy-Syu‘ara [26]: 141-159, dan QS. Asy-Syams [91]: 11-15.
Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa pelaku pembunuhan unta itu adalah seorang yang memiliki kedudukan tinggi, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini. Ini menunjukkan bahwa kejahatan bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan oleh orang yang tampak terpandang.
Kesimpulan Praktis
- Jangan tertipu dengan kedudukan dan kekuatan. Seseorang bisa saja memiliki kedudukan tinggi, tetapi tetap melakukan kejahatan. Ukuran kebenaran bukanlah kedudukan, melainkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
- Bersyukur atas nikmat Allah. Kekuatan, kedudukan, dan harta adalah nikmat yang harus digunakan untuk taat kepada Allah, bukan untuk menentang-Nya.
- Waspadai kesombongan. Kesombongan adalah pintu menuju kehancuran. Kaum Tsamud dihancurkan karena kesombongan mereka.
- Pelajari kisah umat terdahulu. Kisah-kisah dalam Al-Qur’an dan hadits adalah pelajaran berharga agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.
- Berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah. Petunjuk yang benar adalah yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dipahami oleh para ulama Ahlus Sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.