Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 3359 tentang Bab Perkataan Allah Ta'ala: Dan Allah mengambil Ibrahim sebagai Kekasih

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah ﷺ untuk membunuh cicak (dalam istilah Arab: al-wazagh) karena binatang ini dahulu ikut meniup api yang hendak membakar Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Perintah ini adalah bentuk penghormatan kepada kekasih Allah dan pengingat bahwa kita harus membela para nabi serta membenci musuh-musuh mereka. Hadits ini sahih dan menjadi dalil sunnahnya membunuh cicak.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an yang terkait:

Allah Ta’ala berfirman tentang peristiwa Nabi Ibrahim dan api:

﴿قَالُوا۟ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓا۟ ءَالِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَٰعِلِينَ ۞ قُلْنَا يَٰنَارُ كُونِى بَرْدًۭا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ﴾

(QS. Al-Anbiya’ [21]: 68–69)

Terjemahan: “Mereka berkata: ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhanmu jika kamu benar-benar akan bertindak.’ Kami berfirman: ‘Wahai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.’”

Ayat ini mengisahkan bahwa Allah menyelamatkan Ibrahim dari api yang sangat besar. Dalam hadits tersebut, disebutkan bahwa cicak ikut meniup api tersebut, berbeda dengan burung yang justru berusaha memadamkannya dengan air.

Hadits:

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، أَوِ ابْنُ سَلَامٍ عَنْهُ، أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَقَالَ: «كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ».

(رواه البخاري، رقم 3359)

Terjemahan: Dari Ummu Syarik radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk membunuh al-wazagh (cicak) dan bersabda: “Dahulu ia (cicak) meniup (api) pada Ibrahim ‘alaihissalam.”

Penjelasan ulama dalam daftar:

  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (kitab tafsir hadits paling otoritatif) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya membunuh cicak karena perbuatan buruknya di masa lalu. Beliau juga menyebut bahwa sebagian ulama memakruhkannya, tetapi pendapat yang kuat adalah sunnah membunuhnya karena perintah Nabi ﷺ yang jelas. (Fath al-Bari, Kitab Hadits Para Nabi, Bab “Dan Allah mengambil Ibrahim sebagai Kekasih”)
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (jilid 4, Kitab al-Birr) menyebut bahwa membunuh cicak dianjurkan karena ia adalah binatang jahat yang mengganggu dan ikut serta dalam peristiwa peniupan api terhadap Nabi Ibrahim.
  • Al-Hafizh adz-Dzahabi juga menegaskan bahwa cicak adalah binatang yang dimusuhi oleh syariat karena sifatnya yang membahayakan dan permusuhannya terhadap kekasih Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Sayyidah Ummu Syarik radhiyallahu ‘anha, seorang sahabat wanita yang mulia. Beliau menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ dengan tegas memerintahkan untuk membunuh al-wazagh, yaitu jenis cicak atau tokek yang biasa hidup di dinding. Dalam riwayat lain, bahkan disebutkan bahwa pahala besar diperoleh bagi yang membunuhnya pada pukulan pertama (lihat Shahih Muslim).

Makna “meniup api pada Ibrahim”:

Ketika Raja Namrud dan kaumnya membakar Nabi Ibrahim dengan api yang besar, semua makhluk diperintahkan oleh Allah untuk tidak membahayakan Ibrahim, kecuali cicak ini. Menurut penjelasan ulama salaf seperti Sa’id bin al-Musayyib (salah seorang perawi hadits ini dari kalangan tabi’in besar), cicak itu ikut meniup api agar semakin besar dan membahayakan Ibrahim. Berbeda dengan burung yang membawa air untuk memadamkan api. Maka, cicak menjadi simbol kebencian terhadap kekasih Allah dan permusuhan terhadap para nabi.

Hukum membunuh cicak:

Para ulama dalam daftar rujukan – seperti Imam Ahmad, Imam asy-Syafi’i (keduanya ada dalam daftar) – menyatakan bahwa membunuh cicak adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Bahkan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim, pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa membunuh cicak pada pukulan pertama, baginya seratus kebaikan; pada pukulan kedua, kurang dari itu; dan pada pukulan ketiga, kurang dari itu.” (HR. Muslim no. 2240).

Peringatan:

Meskipun sunnah, tidak boleh membunuh cicak dengan cara menyiksanya. Hendaknya dibunuh dengan cepat dan manusiawi, misalnya dengan pukulan atau alat yang mematikan.

Pelajaran penting:

  1. Kecintaan kepada para nabi dan kekasih Allah harus diwujudkan dengan membenci musuh-musuh mereka, sekalipun berupa binatang.
  2. Peristiwa sejarah para nabi bisa menjadi pelajaran untuk kita ambil sikap.
  3. Ketaatan kepada perintah Rasulullah ﷺ adalah bentuk penghambaan kepada Allah.

Story Telling

Kisah yang masyhur dari para ulama salaf tentang peristiwa penyelamatan Nabi Ibrahim. Diriwayatkan dari Qatadah dan Mujahid (keduanya tabi’in dalam daftar) bahwa ketika api dinyalakan untuk membakar Ibrahim, seluruh binatang di alam semesta diperintahkan untuk tidak membahayakannya. Namun, cicak (wazagh) justru meniup api untuk membesarkannya, karena ia adalah hewan yang selalu membangkang. Sebaliknya, seekor burung atau katak – dalam riwayat lain – berusaha membawa air untuk memadamkan api. Maka, Rasulullah ﷺ memerintahkan membunuh cicak sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Ibrahim dan pengingat bahwa setiap musuh Allah patut dimusuhi. (Lihat Tafsir ath-Thabari dengan sanad yang sahih dari Mujahid)

Kisah ini mengajarkan bahwa amal sekecil apa pun – baik atau buruk – akan diingat oleh Allah. Cicak yang meniup api di masa lalu menjadi sebab dianjurkannya pembunuhan atasnya hingga kini. Ini adalah keadilan dan hikmah syariat.

Kesimpulan Praktis

  • Amalkan sunnah membunuh cicak di rumah atau tempat tinggal, namun dengan cara yang baik (tidak menyiksa).
  • Tanamkan dalam hati rasa cinta kepada Nabi Ibrahim dan seluruh nabi, serta benci kepada musuh-musuh mereka.
  • Iman kepada takdir Allah yang menyelamatkan Ibrahim walau api sudah begitu besar; ini menguatkan keyakinan kita bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan kehendak Allah.
  • Jauhi perbuatan yang menyerupai sikap cicak, yaitu ikut-ikutan dalam keburukan dan permusuhan terhadap kebenaran.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.