Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 3352 tentang Larangan gambar dan ramalan anak panah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang kemurnian tauhid dan kesucian Ka'bah. Nabi ﷺ sangat menjaga agar tidak ada gambar atau patung yang bisa mengarah pada kesyirikan, bahkan beliau menunda masuk ke dalam Ka'bah sampai gambar-gambar tersebut dihapus. Beliau juga membantah keras kebohongan kaum Quraisy yang menggambarkan Nabi Ibrahim dan Ismail dengan anak panah ramalan (azlam), padahal kedua nabi tersebut suci dari perbuatan syirik dan jahiliyah tersebut.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Shahih Al-Bukhari, Kitab Hadits Para Nabi, Bab "Perkataan Allah Ta'ala: Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih", no. 3352, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Allah Ta'ala berfirman tentang kebersihan Nabi Ibrahim dari kesyirikan:

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

"Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Dan sungguh, Kami telah memilihnya di dunia ini, dan sesungguhnya dia di akhirat termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Al-Baqarah [2]: 130)

Juga firman Allah tentang larangan mengundi nasib dengan anak panah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah [5]: 90)

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Kisahnya terjadi pada tahun Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah), ketika Nabi ﷺ hendak masuk ke dalam Ka'bah.

Pertama: Sikap Nabi ﷺ terhadap gambar-gambar di Ka'bah

Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ melihat gambar-gambar di dalam Ka'bah, beliau tidak mau masuk sampai gambar-gambar itu dihapus. Ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap kemurnian tauhid dan penghapusan segala bentuk syirik.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa gambar-gambar yang ada di Ka'bah saat itu adalah gambar para nabi dan orang-orang saleh yang dijadikan sebagai sarana pemujaan oleh kaum musyrikin Quraisy. Maka Nabi ﷺ memerintahkan untuk menghapusnya karena hal itu bisa menjadi sarana menuju kesyirikan (wasilah syirkiyyah).

Kedua: Bantahan Nabi ﷺ terhadap penggambaran Nabi Ibrahim dan Ismail

Yang menarik, di antara gambar-gambar itu ada gambar Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang sedang memegang anak panah ramalan (azlam). Azlam adalah anak panah yang digunakan orang-orang jahiliyah untuk mengundi nasib atau menentukan keputusan, dan ini adalah perbuatan syirik.

Maka Nabi ﷺ bersabda: "Semoga Allah melaknat mereka (kaum Quraisy yang menggambar ini)! Demi Allah, Ibrahim dan Ismail tidak pernah melakukan ramalan dengan anak panah."

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kaum Quraisy menggambar Nabi Ibrahim dan Ismail dengan azlam untuk melegitimasi kebiasaan mereka mengundi nasib dengan anak panah. Mereka mengklaim bahwa perbuatan itu berasal dari ajaran Nabi Ibrahim. Maka Nabi ﷺ membantah keras klaim dusta ini.

Ketiga: Pelajaran tentang kesucian para nabi

Para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa para nabi itu maksum (terjaga dari dosa), terutama dari perbuatan syirik. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim adalah imam bagi umat manusia dalam tauhid, dan beliau dijauhkan oleh Allah dari segala bentuk kesyirikan, termasuk perbuatan mengundi nasib dengan azlam.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim dan Ismail adalah hamba-hamba Allah yang bertauhid murni. Mereka tidak pernah melakukan perbuatan syirik sedikit pun, dan Allah telah memilih mereka sebagai teladan bagi umat manusia.

Keempat: Hukum gambar dan patung

Hadits ini juga menunjukkan larangan membuat gambar makhluk bernyawa, terutama jika digunakan untuk pemujaan. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa para ulama sepakat mengharamkan gambar makhluk bernyawa yang memiliki bayangan (patung), dan sebagian besar ulama mengharamkan gambar yang digambar di media datar jika mengandung unsur pemujaan atau pengagungan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa larangan ini bertujuan untuk menutup pintu menuju kesyirikan, karena gambar dan patung bisa menjadi sarana pengagungan yang berlebihan hingga mengarah pada peribadatan selain Allah.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang kemurnian tauhid Nabi Ibrahim. Ketika beliau ditinggalkan oleh istrinya Siti Hajar dan putranya Ismail di lembah yang tandus, beliau berdoa:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati." (QS. Ibrahim [14]: 37)

Nabi Ibrahim tidak pernah mengeluh, tidak pernah bertanya nasib dengan azlam, tidak pernah meminta dukun atau peramal. Beliau hanya berserah diri kepada Allah dengan penuh keyakinan. Inilah teladan tauhid yang murni, yang kemudian diwariskan kepada putranya Ismail, lalu kepada Nabi Muhammad ﷺ, dan kepada umatnya hingga akhir zaman.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa doa Nabi Ibrahim ini menunjukkan kepasrahan total kepada Allah dan keyakinan bahwa hanya Allah yang bisa menumbuhkan tanaman di lembah yang tandus. Tidak ada perantara, tidak ada ramalan, tidak ada jimat. Murni hanya kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Menjaga kemurnian tauhid — Jauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan, termasuk peramalan, undian nasib, dan keyakinan pada jimat atau benda keramat.
  2. Menghapus sarana syirik — Jika ada gambar atau benda yang bisa mengarah pada pengagungan selain Allah, hendaknya dihapus atau dijauhkan dari tempat ibadah.
  3. Menjaga kesucian tempat ibadah — Masjid dan mushala harus bersih dari gambar makhluk bernyawa yang bisa mengganggu kekhusyukan ibadah.
  4. Membantah kebohongan dengan ilmu — Nabi ﷺ membantah klaim dusta kaum Quraisy dengan tegas. Kita pun harus berani membantah kebohongan tentang agama dengan dalil yang benar.
  5. Meneladani Nabi Ibrahim — Jadikan beliau sebagai teladan dalam kepasrahan total kepada Allah, tanpa perantara dan tanpa ramalan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.