Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits shahih yang menjelaskan tentang hikmah di balik dua hal: pertama, kebiasaan sebagian orang untuk menyimpan daging hingga membusuk, yang dikaitkan dengan perbuatan Bani Israil yang melanggar perintah Allah; dan kedua, pengkhianatan sebagian istri terhadap suaminya, yang dikaitkan dengan peristiwa Hawa saat digoda setan di surga. Hadits ini bukanlah celaan terhadap Bani Israil atau Hawa secara mutlak, melainkan penjelasan tentang asal-usul kebiasaan buruk dan ujian yang Allah tetapkan bagi keturunan Adam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hadits Para Nabi, Bab Penciptaan Adam, no. 3330, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks Hadits (dengan harakat):
حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ هَمَّامٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحْوَهُ يَعْنِي: "لَوْلَا بَنُو إِسْرَائِيلَ لَمْ يَخْنَزِ اللَّحْمُ، وَلَوْلَا حَوَّاءُ لَمْ تَخُنْ أُنْثَى زَوْجَهَا"
Terjemahan: "Seandainya bukan karena Bani Israil, daging tidak akan membusuk, dan seandainya bukan karena Hawa, tidak ada seorang perempuan pun yang akan mengkhianati suaminya."
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman tentang kisah Hawa dan Adam:
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
"Dan Kami berfirman: 'Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, sehingga kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.'" (QS. Al-Baqarah [2]: 35)
Juga firman Allah tentang Bani Israil yang melanggar perintah:
وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman: 'Masuklah ke negeri ini (Baitul Maqdis), lalu makanlah sebagian dari (makanan)nya dengan nikmat menurut kehendakmu. Dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, dan katakanlah: 'Bebaskanlah kami (dari dosa-dosa kami),' niscaya Kami ampuni dosa-dosamu, dan kelak Kami akan menambah (balasan) bagi orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah [2]: 58)
Kaitan dengan penjelasan ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna hadits ini secara panjang lebar, dan Imam An-Nawawi juga menukil penjelasan ulama tentangnya dalam Syarah Shahih Muslim. Keduanya termasuk ulama yang menjadi rujukan kita.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua informasi penting yang bersifat khabari (pemberitaan) tentang asal-usul dua fenomena:
1. Makna "Seandainya bukan karena Bani Israil, daging tidak akan membusuk"
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab yang sama, dari jalur lain, bahwa Bani Israil pernah meminta kepada Nabi Musa 'alaihissalam agar Allah menurunkan makanan yang tidak akan basi. Maka Allah menurunkan manna dan salwa (makanan dari langit). Namun mereka tetap menyimpan daging salwa tersebut untuk keesokan harinya, padahal Allah memerintahkan mereka untuk mengambil secukupnya setiap hari. Karena pelanggaran ini, Allah menjadikan daging yang mereka simpan itu membusuk sebagai hukuman. Sejak saat itu, kebiasaan menyimpan daging hingga busuk menjadi tabiat yang diwariskan.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah bahwa kebiasaan buruk ini berasal dari perbuatan Bani Israil, dan Allah menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran. Namun ini bukan berarti semua daging pasti busuk jika disimpan, karena realitanya daging bisa diawetkan. Yang dimaksud adalah asal mula kebiasaan tersebut.
2. Makna "Seandainya bukan karena Hawa, tidak ada perempuan yang mengkhianati suaminya"
Ini adalah pemberitaan tentang asal mula pengkhianatan istri terhadap suami. Peristiwa Hawa yang mendahulukan bujukan setan daripada perintah Allah, dan kemudian mengajak Adam untuk memakan buah terlarang, menjadi titik awal dari kelemahan ini. Namun perlu dipahami dengan sangat hati-hati:
- Ini bukan berarti semua perempuan akan berkhianat. Banyak perempuan shalihah yang setia kepada suaminya.
- Ini bukan berarti Hawa adalah penyebab dosa Adam secara mutlak. Adam tetap bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, karena Allah berfirman: "Dan Adam pun melanggar (perintah Tuhannya), sehingga tersesatlah dia." (QS. Thaha [20]: 121)
- Ini adalah pemberitaan tentang tabiat asal, bukan vonis atas setiap individu.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menukil dari para ulama bahwa makna hadits ini adalah bahwa pengkhianatan yang terjadi pada sebagian perempuan memiliki akar dari peristiwa Hawa, karena setan berhasil menggoda Hawa terlebih dahulu, lalu melalui Hawa, setan menggoda Adam. Ini menunjukkan bahwa perempuan secara umum lebih mudah terpengaruh oleh bujukan emosi, namun ini bukan berarti mereka rendah derajatnya. Banyak perempuan yang lebih kuat imannya daripada laki-laki.
Peringatan penting: Hadits ini tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk menuduh semua perempuan buruk, atau merendahkan Hawa 'alaihassalam. Hawa adalah ibu kita semua, seorang yang dimuliakan Allah, dan dosanya telah diampuni. Para ulama menegaskan bahwa hadits ini hanya mengabarkan tentang asal mula tabiat, bukan vonis atas individu.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Bani Israil berada di padang pasir bersama Nabi Musa 'alaihissalam, Allah menurunkan kepada mereka manna (makanan manis seperti madu) dan salwa (burung puyuh). Allah memerintahkan mereka untuk mengambil makanan secukupnya untuk satu hari saja, sebagai ujian keimanan dan tawakal mereka. Namun sebagian mereka tidak sabar dan menyimpan daging salwa untuk hari-hari berikutnya. Maka Allah menjadikan daging yang mereka simpan itu membusuk dan berulat sebagai hukuman atas ketidakpercayaan mereka kepada Allah.
Peristiwa ini menjadi pelajaran besar: bahwa ketidakpercayaan kepada jaminan rezeki Allah akan membawa kepada keburukan. Dan dari sinilah, kebiasaan menyimpan daging hingga busuk dikaitkan dengan Bani Israil dalam hadits Nabi ﷺ.
Adapun kisah Hawa, Allah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa setan membisikkan kepada keduanya untuk memakan buah terlarang, dan keduanya pun memakannya. Namun setelah itu, keduanya bertaubat dan Allah mengampuni mereka. Allah berfirman:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Keduanya berkata: 'Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.'" (QS. Al-A'raf [7]: 23)
Allah menerima taubat mereka, dan ini menjadi pelajaran bahwa setiap anak Adam pasti berbuat dosa, namun sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang bertaubat.
Kesimpulan Praktis
- Jangan memahami hadits secara keliru — hadits ini bukan celaan terhadap Bani Israil atau Hawa secara mutlak, melainkan pemberitaan tentang asal-usul tabiat buruk.
- Jangan menjadikan hadits ini sebagai alat untuk merendahkan perempuan — banyak perempuan shalihah yang lebih baik daripada banyak laki-laki. Islam memuliakan perempuan sebagai ibu, istri, dan anak.
- Ambil pelajaran tentang pentingnya tawakal — kisah Bani Israil mengajarkan kita untuk tidak khawatir berlebihan tentang rezeki, karena Allah yang menjamin.
- Ambil pelajaran tentang taubat — kisah Adam dan Hawa mengajarkan bahwa setiap manusia pasti berbuat salah, dan pintu taubat selalu terbuka.
- Jangan menyimpan dendam atau prasangka buruk kepada kelompok mana pun berdasarkan hadits ini, karena hadits ini hanya mengabarkan fakta sejarah dan tabiat, bukan vonis.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.