Ringkasan Jawaban Singkat
Teks yang Anda bawakan bukanlah matan (isi) hadits yang berdiri sendiri, melainkan catatan jalur periwayatan (sanad) yang dicantumkan Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Bad'ul Khalq, pada bab tentang firman Allah "Dan Dia menyebarkan di dalamnya dari setiap makhluk" (yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 164). Catatan ini menjelaskan bahwa sebagian perawi menyebut "Abu Lubabah" dan sebagian lain menyebut "Zaid bin Al-Khaththab" ketika menceritakan bahwa salah satu dari mereka melihat Ibnu Umar (ra). Matan hadits yang sebenarnya berkaitan dengan mimpi buruk dan perintah berlindung kepada Allah dari gangguan setan, sebagaimana akan dijelaskan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits pokok dalam bab ini diriwayatkan dari Ibnu Umar (ra), bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ
"Apabila salah seorang dari kalian melihat mimpi yang tidak disukainya, hendaklah ia bangun lalu shalat."
Hadits ini dan maknanya dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari), dan Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim ketika membahas bab mimpi dan ruqyah. Keduanya termasuk ulama yang menjadi rujukan dalam pembahasan ini.
Adapun ayat yang menjadi judul bab, yaitu firman Allah:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air lalu dengan air itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin serta awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti." (QS. Al-Baqarah [2]: 164)
Penjelasan Rinci
Pertama, memahami apa yang Anda bawakan. Teks Arab yang Anda tulis adalah bagian dari isnad (rantai periwayatan) yang dinukil Imam Al-Bukhari. Di dalamnya disebutkan bahwa Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma'mar, lalu ada keraguan penyebutan nama: "Abu Lubabah atau Zaid bin Al-Khaththab". Kemudian Imam Al-Bukhari menyebut bahwa Yunus, Ibnu 'Uyainah, Ishaq Al-Kalbi, dan Az-Zubaidi mengikuti jalur ini; dan Shalih, Ibnu Abi Hafsah, serta Ibnu Mujammi' meriwayatkan dari Az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar, dengan menyebut "Abu Lubabah dan Zaid bin Al-Khaththab". Jadi ini adalah pembahasan ilmu hadits tentang periwayatan, bukan isi nasihat Nabi ﷺ secara langsung.
Kedua, matan hadits yang dimaksud. Hadits ini berkaitan dengan adab ketika seseorang mengalami mimpi buruk. Nabi ﷺ mengajarkan agar orang yang bermimpi buruk bangun dan mengerjakan shalat, serta berlindung kepada Allah dari gangguan setan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mimpi buruk berasal dari setan, dan shalat menjadi penangkal serta penenang bagi hati. Imam an-Nawawi menambahkan bahwa dianjurkan meludah kecil ke kiri, membaca ta'awwudz, dan tidak menceritakan mimpi buruk kepada orang lain — semuanya sebagai bentuk tawakal dan penyerahan diri kepada Allah.
Ketiga, kaitan dengan judul bab. Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam bab tentang firman Allah "dan Dia menyebarkan di dalamnya dari setiap makhluk" (QS. Al-Baqarah [2]: 164). Ini menunjukkan keluasan ilmu beliau: beliau menggabungkan pembahasan penciptaan makhluk (termasuk jin dan setan) dengan cara berlindung dari kejahatan mereka. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan kekuasaan Allah dalam menciptakan dan menyebarkan makhluk, dan bahwa di antara makhluk itu ada yang tidak terlihat oleh manusia, yaitu jin dan setan — maka seorang hamba wajib berlindung kepada Penciptanya.
Keempat, tentang perbedaan penyebutan nama. Perbedaan antara "Abu Lubabah" dan "Zaid bin Al-Khaththab" adalah perbedaan pada tingkat sanad, bukan pertentangan yang merusak hadits. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa perbedaan seperti ini biasa terjadi dalam ilmu hadits dan tidak mengurangi keabsahan riwayat, karena para perawi yang lebih kuat (seperti Yunus dan Ibnu 'Uyainah) menguatkan salah satu versi. Yang penting adalah matan (isi) hadits tetap terjaga dan shahih.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar (ra) — seorang sahabat yang sangat teliti dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ — menceritakan pengalaman ini. Beliau menyebutkan bahwa Abu Lubabah dan Zaid bin Al-Khaththab (keduanya dari kalangan sahabat) melihat beliau dalam suatu keadaan yang berkaitan dengan hadits ini. Ini menunjukkan betapa para sahabat saling memperhatikan dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa para sahabat sangat bersemangat meriwayatkan sunnah, bahkan dalam perkara yang tampak kecil seperti adab bermimpi, karena mereka yakin setiap ajaran Nabi ﷺ mengandung kebaikan.
Kesimpulan Praktis
- Pahami konteks: Teks yang Anda bawakan adalah catatan sanad, bukan matan hadits. Matan haditsnya adalah perintah bangun dan shalat ketika mengalami mimpi buruk.
- Amalkan adab mimpi buruk: Bangun, shalat, membaca ta'awwudz, dan jangan menceritakan mimpi buruk kepada orang lain.
- Yakinlah pada kekuasaan Allah: Ayat QS. Al-Baqarah [2]: 164 mengingatkan bahwa Allah menciptakan dan menyebarkan makhluk, termasuk yang tidak terlihat — maka berlindunglah hanya kepada-Nya.
- Hormati ilmu hadits: Perbedaan penyebutan nama dalam sanad adalah hal yang wajar dan telah dijelaskan oleh para ulama seperti Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.