Penjelasan Hadits Bukhari No. 3288 tentang Setan mencuri berita langit untuk dukun

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa para malaikat berbicara di awan tentang urusan yang akan terjadi di bumi, lalu setan mencuri dengar satu kalimat dan menyampaikannya kepada dukun. Dukun kemudian menambahkan seratus kebohongan, sehingga ramalannya bercampur antara satu kebenaran dan banyak kedustaan. Hadits ini menegaskan haramnya mendatangi dukun dan membenarkan ramalan mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Jinn [72]: 8-9

إِنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا ۝ وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَن يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا

Terjemahan: "Sesungguhnya kami telah mencoba mencuri dengar dari langit, lalu kami dapati langit itu penuh dengan penjaga yang kuat dan bintang-bintang yang menyala. Dan sesungguhnya kami dahulu biasa menduduki beberapa tempat di langit untuk mencuri dengar, tetapi sekarang siapa yang mencoba mencuri dengar pasti akan mendapati bintang menyala yang mengintainya."

Hadits terkait:

Hadits dari 'Aisyah رضي الله عنها, diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3288) dalam Kitab Permulaan Penciptaan, Bab Sifat Iblis dan Pasukannya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim (no. 2228) dengan lafaz yang serupa.

Kaitan dengan ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk makna "العَنَان" (awan) dan cara setan mencuri dengar. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga membahas hadits ini dan menegaskan keharaman mendatangi dukun serta membenarkan ucapannya.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa para malaikat turun dan berbicara di antara awan tentang perkara yang telah ditetapkan Allah untuk terjadi di bumi. Setan-setan berusaha mencuri dengar pembicaraan tersebut. Apa yang berhasil mereka dengar — biasanya hanya sepenggal kalimat — mereka sampaikan kepada dukun atau peramal. Dukun itu lalu menambahkan seratus kebohongan dari dirinya sendiri.

Penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani:

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kata "العَنَان" berarti awan. Para malaikat berbicara tentang urusan yang Allah perintahkan terjadi di bumi, seperti rezeki, kematian, dan takdir. Setan mencuri dengar satu kalimat, lalu "menuangkannya" ke telinga dukun — diibaratkan seperti menuang air ke dalam botol, artinya setan benar-benar memasukkan kalimat itu ke dalam telinga dukun dengan cepat dan tepat. Kemudian dukun menambahkan seratus kebohongan.

Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa sebelum diutusnya Nabi ﷺ, setan masih bisa mencuri dengar lebih banyak. Setelah Nabi ﷺ diutus, langit dijaga lebih ketat dengan bintang-bintang menyala, sehingga setan hanya bisa mencuri dengar sebagian kecil saja.

Penjelasan Imam an-Nawawi:

Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil haramnya mendatangi dukun dan membenarkan ucapan mereka. Beliau juga menjelaskan bahwa apa yang disampaikan dukun kadang mengandung kebenaran — yaitu satu kalimat yang dicuri setan — tetapi dicampur dengan seratus kebohongan, sehingga tidak bisa dipercaya.

Penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa'di:

As-Sa'di menjelaskan bahwa fenomena ini menunjukkan betapa besar kerusakan yang ditimbulkan oleh dukun dan peramal. Mereka mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan untuk menyesatkan manusia. Beliau juga menegaskan bahwa ilmu gaib hanya milik Allah, dan siapa yang mengaku mengetahui hal gaib maka ia telah kafir atau sesat.

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin:

Syaikh al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa setan benar-benar berusaha mencuri berita dari langit, tetapi Allah menjaganya. Beliau juga menegaskan bahwa mendatangi dukun dan mempercayai ramalannya termasuk dosa besar, bahkan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam jika ia meyakini dukun mengetahui hal gaib.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah malaikat yang berbicara di awan itu adalah malaikat yang turun membawa wahyu atau malaikat lain. Ibnu Hajar menyebutkan beberapa pendapat, namun yang paling kuat adalah bahwa mereka adalah malaikat yang diberi tugas mengurus urusan bumi, dan mereka berbicara tentang apa yang telah Allah tetapkan. Ini tidak bertentangan dengan takdir, karena mereka hanya menyampaikan apa yang sudah ditetapkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Aisyah رضي الله عنها pernah ditanya tentang dukun. Beliau menjawab bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa dukun itu tidaklah benar sama sekali. Ketika ada yang berkata, "Wahai Rasulullah, terkadang dukun itu mengatakan sesuatu yang benar," Nabi ﷺ menjawab, "Itu adalah kalimat dari jin yang dicuri dengar, lalu disampaikan ke telinga dukun, kemudian dukun menambahkan seratus kebohongan." (HR. Al-Bukhari)

Kisah ini menunjukkan bahwa meskipun dukun kadang benar dalam satu hal, kebenaran itu bukan berasal dari ilmunya, melainkan dari setan yang mencuri dengar. Karena itu, tidak ada alasan untuk mempercayai mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan mendatangi dukun atau peramal — baik untuk bertanya maupun mempercayai ucapannya.
  2. Jangan membenarkan ramalan — karena ramalan bercampur dengan seratus kebohongan.
  3. Ilmu gaib hanya milik Allah — tidak ada makhluk yang mengetahui hal gaib kecuali apa yang Allah beritahukan kepada para rasul-Nya.
  4. Perkuat iman dan tawakal — dengan membaca Al-Qur'an, berdoa, dan beribadah kepada Allah.
  5. Waspadai tipu daya setan — setan berusaha menyesatkan manusia melalui berbagai cara, termasuk melalui dukun dan peramal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?