Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang salah satu bentuk permusuhan setan kepada anak cucu Adam, yaitu dengan "menusuk" setiap bayi yang lahir, kecuali Nabi Isa 'alaihis salam. Ini adalah ujian dan bentuk kehinaan bagi setan, sekaligus menunjukkan kemuliaan Nabi Isa yang dijaga oleh Allah. Kita tidak perlu memahami secara harfiah bagaimana caranya, tetapi yang terpenting adalah mengambil pelajaran tentang permusuhan setan dan keistimewaan para nabi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits yang Anda sertakan sudah benar dan lengkap. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Bad'il-Khalqi (Permulaan Penciptaan), Bab Sifat Iblis dan Pasukannya, no. 3286. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Fadhail, Bab Keutamaan Isa 'alaihis salam, no. 2362.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman tentang permusuhan setan:
لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
"Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar." (QS. An-Nur [24]: 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa permusuhan setan kepada manusia itu nyata dan terus-menerus, dan salah satu wujudnya adalah apa yang disebutkan dalam hadits di atas.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk tentang hikmah pengecualian Nabi Isa 'alaihis salam.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga memberikan penjelasan tentang makna hadits ini.
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin dan kitab-kitabnya sering menekankan bahwa kita harus beriman kepada hal-hal ghaib sebagaimana dikabarkan oleh Nabi ﷺ, tanpa mempertanyakan cara dan hakikatnya secara berlebihan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu berita ghaib yang wajib kita imani. Berikut penjelasan para ulama tentang maknanya:
1. Makna "Tusukan" Setan
Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang hakikat "tusukan" ini. Sebagian ulama memahaminya secara harfiah (zhahir), yaitu setan benar-benar menusuk bayi dengan jarinya. Sebagian lagi menakwilkannya sebagai isyarat bahwa setiap bayi akan terkena bisikan atau gangguan setan. Namun, yang terpenting adalah kita mengimani berita ini tanpa mempertanyakan bagaimana caranya, karena ini termasuk perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah dan Rasul-Nya.
2. Hikmah Pengecualian Nabi Isa 'alaihis salam
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa pengecualian Nabi Isa ini adalah karena beliau diciptakan tanpa ayah, sebagai mukjizat dari Allah. Setan tidak mampu "menusuk" beliau karena beliau dijaga oleh Allah dari gangguan setan. Ini adalah bentuk kemuliaan dan keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi Isa.
3. Makna "Tusukan di Penutup Plasenta"
Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa setan menusuk bayi, tetapi ketika mencoba menusuk Nabi Isa, ia justru menusuk selaput ketuban (penutup plasenta) yang membungkus beliau. Ini menunjukkan bahwa setan gagal total dalam mengganggu Nabi Isa.
4. Pelajaran tentang Permusuhan Setan
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam berbagai ceramahnya menekankan bahwa hadits ini mengingatkan kita tentang permusuhan setan yang sudah dimulai sejak manusia dilahirkan. Oleh karena itu, kita harus selalu waspada dan berlindung kepada Allah dari godaan setan, sebagaimana yang diajarkan dalam doa-doa harian.
5. Perbedaan Pendapat Ulama
Imam Ibn Hajar menukil perbedaan pendapat tentang apakah tusukan ini terjadi pada semua anak Adam atau hanya pada bayi yang lahir dari hubungan suami istri. Namun pendapat yang kuat adalah bahwa ini berlaku umum bagi semua anak Adam kecuali Nabi Isa, karena beliau diciptakan tanpa ayah.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, suatu ketika beliau melihat seorang bayi yang baru lahir, lalu beliau berkata, "Demi Allah, bayi ini telah ditusuk oleh setan." Kemudian beliau mengucapkan kalimat yang menunjukkan bahwa setiap bayi yang lahir akan ditusuk setan, kecuali Nabi Isa dan ibunya Maryam. Beliau lalu membaca firman Allah:
وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
"Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anaknya kepada (Allah) dari setan yang terkutuk." (QS. Ali 'Imran [3]: 36)
Kisah ini menunjukkan bahwa doa seorang ibu yang saleh (Maryam) kepada Allah untuk melindungi anaknya (Nabi Isa) adalah doa yang mustajab. Ini juga mengajarkan kita untuk senantiasa berdoa memohon perlindungan Allah untuk diri dan keluarga kita dari gangguan setan.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada yang ghaib: Kita wajib mengimani berita-berita ghaib yang disampaikan oleh Nabi ﷺ, termasuk hadits tentang tusukan setan ini, meskipun kita tidak dapat melihat atau memahami hakikatnya secara sempurna.
- Waspada terhadap setan: Permusuhan setan sudah dimulai sejak manusia lahir. Oleh karena itu, kita harus selalu berhati-hati dan berlindung kepada Allah dari godaannya.
- Membaca doa perlindungan: Biasakan membaca doa-doa perlindungan untuk diri sendiri, anak-anak, dan keluarga, seperti membaca Audzu bikalimatillahit-tammati min syarri ma khalaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya).
- Meneladani doa Maryam: Doa orang tua untuk anaknya sangat mustajab. Mari kita perbanyak mendoakan kebaikan dan perlindungan untuk anak-anak kita.
- Menghormati para nabi: Hadits ini menunjukkan keistimewaan Nabi Isa 'alaihis salam yang dijaga oleh Allah dari gangguan setan. Kita wajib mengimani dan menghormati seluruh nabi dan rasul tanpa membeda-bedakan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.