Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa ketika seseorang marah, setan memanfaatkan emosinya untuk memperburuk keadaan. Solusi yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah mengucapkan: "A'udzu billahi minasy syaithan" (Aku berlindung kepada Allah dari setan). Ucapan ini akan meredakan kemarahan karena setan yang membakar emosi akan menjauh. Kisah ini juga mengingatkan kita agar tidak sombong dengan menganggap diri tidak butuh perlindungan Allah saat marah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
Dari Sulaiman bin Shurd radhiallahu 'anhu, ia berkata:
> "Aku duduk bersama Nabi ﷺ, sementara dua orang saling mencaci. Wajah salah seorang merah padam dan urat lehernya membengkak (karena marah). Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Sungguh aku tahu satu kalimat, seandainya ia ucapkan niscaya hilang apa yang ia rasakan. Jika ia mengucapkan: A'udzu billahi minasy syaithan (aku berlindung kepada Allah dari setan), niscaya hilang apa yang ia rasakan.' Maka orang-orang berkata kepadanya: 'Nabi ﷺ bersabda: "Berlindunglah kepada Allah dari setan."' Namun orang itu menjawab: 'Apakah aku ini gila?'"
> (HR. al-Bukhari, no. 3282; Muslim, no. 2610, dari lafal yang mirip)
Dalil Al-Qur'an terkait:
QS. Al-A'raf [7]: 200
وَاِمَّا يَنۡزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰهِ ؕ اِنَّهٗ سَمِيۡعٌ عَلِيۡمٌ
"Dan jika setan datang menggodamu, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
Ayat ini menjadi landasan perintah berlindung dari setan saat marah, sebagaimana dipahami oleh para ulama tafsir seperti Ibn Katsir dan as-Sa'di.
Penjelasan Ulama:
- Ibn Hajar al-Asqalani (dalam Fath al-Bari 10/523) menjelaskan bahwa marah adalah salah satu bentuk "nazgh" (bisikan) setan yang sangat kuat. Maka berlindung kepada Allah adalah obat paling mujarab.
- Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim 13/42) menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa bodohnya orang yang menolak nasihat Nabi karena kesombongan, seperti ucapan pria dalam hadits: "Apakah aku gila?"
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (2/361) mengatakan bahwa marah adalah pangkal keburukan, dan setan memanfaatkannya untuk memecah belah persaudaraan.
Penjelasan Rinci
1. Makna Hadits Secara Umum
Hadits ini menggambarkan situasi ketika dua orang saling mencaci. Salah seorang dari mereka mengalami perubahan fisik karena marah: wajah merah, urat leher membesar, dan emosi memuncak. Ini adalah kondisi di mana setan menguasai pikirannya, membuatnya sulit mengendalikan diri.
Rasulullah ﷺ – yang memiliki ilmu dari Allah – mengetahui bahwa ada satu kalimat sederhana yang bisa memadamkan api kemarahan itu, yaitu ta'awudz (berlindung kepada Allah dari setan). Namun, ketika orang tersebut dinasihati, ia menolak dengan sinis: "Apakah aku ini gila?" Jawaban ini menunjukkan keangkuhan dan ketidaktahuan bahwa marah yang tak terkendali adalah salah satu bentuk pengaruh setan.
2. Mengapa Marah Harus Diobati dengan Ta'awudz?
Para ulama dari kalangan salaf – seperti Al-Hasan al-Bashri, Qatadah, dan Ibn Sirin – menjelaskan bahwa setan memiliki peran besar dalam membangkitkan kemarahan. Dalam riwayat dari Ibnu Mas'ud (yang juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim), Nabi ﷺ bersabda:
> "Sesungguhnya marah itu berasal dari setan, dan setan diciptakan dari api. Api bisa dipadamkan dengan air. Jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudhu."
> (HR. Abu Dawud, no. 4784; Ahmad, no. 3899 – sanad shahih menurut al-Albani)
Jadi, ta'awudz dan wudhu adalah dua senjata yang diajarkan Nabi ﷺ untuk memadamkan kemarahan. Mengucapkan A'udzu billahi minasy syaithan adalah bentuk pengakuan bahwa kita lemah dan butuh pertolongan Allah agar setan tidak menguasai diri kita.
3. Sikap Orang yang Marah dalam Hadits: Pelajaran tentang Kesombongan
Orang yang marah itu berkata: "Apakah aku ini gila?" – ini menunjukkan bahwa ia merasa dirinya waras dan tidak butuh nasihat. Padahal, menolak nasihat Nabi ﷺ adalah bentuk kesombongan yang sangat tercela. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:
QS. Fussilat [41]: 36
وَاِمَّا يَنۡزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰهِ ۖ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيۡعُ الۡعَلِيۡمُ
"Dan jika setan menggodamu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah bagi setiap mukmin agar senantiasa berlindung ketika mendapatkan bisikan setan, termasuk saat marah.
4. Keutamaan Mengendalikan Marah
Nabi ﷺ bersabda dalam hadits shahih:
> "Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah."
> (HR. Bukhari, no. 6114; Muslim, no. 2609)
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa kekuatan sejati bukanlah kekuatan fisik, melainkan kekuatan jiwa dalam menahan amarah saat emosi memuncak. Ini adalah akhlak mulia yang dicontohkan oleh para salaf.
5. Peringatan bagi yang Menolak Nasihat
Sikap orang yang marah dalam hadits ini menjadi pelajaran bagi kita agar tidak menolak nasihat yang benar meskipun datang dari orang yang lebih muda atau sederhana. Fudhail bin 'Iyadh berkata:
> "Seorang mukmin itu penuh nasihat, sedangkan orang munafik suka mencari-cari alasan."
Story Telling
Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, bahwa seorang laki-laki datang kepadanya dan mengeluhkan perangai istrinya yang pemarah. Al-Hasan berkata:
> "Jika ia marah, ajarkan ia untuk membaca ta'awudz. Dan jika engkau marah, ambillah air wudhu."
Laki-laki itu menjawab: "Wahai Abu Sa'id, apakah semudah itu?"
Al-Hasan tersenyum dan berkata:
> "Bukankah setan lebih mudah diusir dengan dzikir? Maka janganlah engkau remehkan doa dan perlindungan kepada Allah."
Kisah ini mengingatkan kita bahwa solusi yang diberikan Nabi ﷺ sangatlah sederhana, namun sering diremehkan karena kita menganggap marah adalah masalah sepele.
Kesimpulan Praktis
- Saat merasa marah, segera ucapkan: "A'udzu billahi minasy syaithanir rajim" (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).
- Jika memungkinkan, berwudhu atau duduk jika sedang berdiri, dan berbaring jika sedang duduk. Ini sesuai dengan hadits lain dari Abu Dawud.
- Jangan meremehkan nasihat orang lain, apalagi jika itu adalah nasihat dari Al-Qur'an dan Sunnah.
- Latih diri untuk tidak cepat marah, karena marah adalah pintu masuk setan ke dalam hati.
- Perbanyak dzikir, terutama istighfar dan ta'awudz, agar hati senantiasa tenang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.