Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang salah satu tipu daya setan yang paling halus, yaitu bisikan was-was tentang hakikat penciptaan Allah. Ketika seorang hamba mulai bertanya-tanya, "Siapa yang menciptakan Tuhan?" maka itu adalah bisikan setan. Solusinya bukan berdebat atau menjawab, melainkan berlindung kepada Allah dan menghentikan pikiran tersebut. Ini adalah bentuk penjagaan aqidah dari gangguan setan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3276), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Lafazhnya:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ، قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ، وَلْيَنْتَهِ "
Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, "Setan datang kepada salah seorang di antara kalian dan berkata, 'Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?' Hingga ia bertanya, 'Siapa yang menciptakan Tuhanmu?' Maka jika ia sampai pada pertanyaan itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan berhenti."
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
"Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Fushshilat [41]: 36)
Ayat ini menunjukkan perintah langsung dari Allah untuk berlindung kepada-Nya ketika mendapat bisikan setan, sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi ﷺ dalam hadits di atas.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah larangan untuk terus memikirkan bisikan was-was tentang Dzat Allah, karena itu adalah permainan setan.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa perintah "berlindung dan berhenti" adalah obat yang paling mujarab untuk menghentikan was-was, karena berdebat dengan setan hanya akan memperpanjang bisikannya.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menegaskan bahwa jika seseorang ditimpa was-was seperti ini, ia tidak boleh menjawab dengan akalnya, karena itu justru akan membuat setan semakin leluasa. Yang benar adalah memutus pembicaraan itu dan berlindung kepada Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggambarkan metode setan dalam menyesatkan manusia secara bertahap. Setan tidak langsung menyerang aqidah seseorang dengan pertanyaan yang besar, tetapi ia memulainya dari hal-hal yang kecil dan tampak masuk akal, seperti "Siapa yang menciptakan langit?", "Siapa yang menciptakan bumi?", "Siapa yang menciptakan manusia?" — hingga akhirnya sampai pada pertanyaan yang paling berbahaya: "Siapa yang menciptakan Tuhanmu?"
Pertanyaan ini adalah jebakan logika yang sangat halus. Karena jika seseorang mencoba menjawab, ia akan terjebak dalam lingkaran tanpa ujung. Akalnya akan terus berpikir, dan setan akan terus membisikkan keraguan. Inilah yang disebut was-was dalam masalah aqidah.
Para ulama menjelaskan beberapa poin penting:
- Larangan memikirkan Dzat Allah. Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama salaf melarang manusia untuk memperdalam pemikiran tentang hakikat Dzat Allah, karena akal manusia tidak akan mampu menjangkaunya. Yang diperintahkan hanyalah merenungi ciptaan-Nya, bukan Dzat-Nya.
- Perintah untuk berlindung kepada Allah. Ini adalah obat pertama yang diajarkan Nabi ﷺ. Berlindung artinya memohon perlindungan dan pertolongan Allah dari gangguan setan. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa kita lemah dan hanya Allah yang mampu melindungi.
- Perintah untuk berhenti. Artinya, menghentikan pikiran itu seketika, tidak melanjutkan perdebatan, dan tidak mencoba menjawab dengan logika. Karena setan akan selalu punya jawaban balik untuk setiap jawaban yang kita berikan.
- Hikmah di balik larangan ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa akal manusia itu terbatas. Ada hal-hal yang berada di luar jangkauan akal, dan salah satunya adalah hakikat Dzat Allah. Maka memaksakan akal untuk memahami hal yang di luar kapasitasnya hanya akan melahirkan keraguan dan kesesatan.
Kisah yang Menjelaskan: Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat pernah mengalami was-was seperti ini. Mereka mengadu kepada Nabi ﷺ, dan beliau bersabda, "Itu adalah iman yang murni" (HR. Muslim). Maksudnya, munculnya perasaan tidak nyaman dan gelisah karena bisikan itu justru menunjukkan bahwa iman masih ada di hatinya. Orang yang hatinya kosong dari iman tidak akan merasa terganggu dengan bisikan seperti itu.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Setan datang kepada salah seorang di antara kalian lalu berkata, 'Siapa yang menciptakan langit? Siapa yang menciptakan bumi?' Hingga ia berkata, 'Siapa yang menciptakan Tuhanmu?' Jika ia sampai pada pertanyaan itu, maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dan berhenti." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, para sahabat pernah mengeluhkan was-was ini kepada Nabi ﷺ. Beliau bersabda:
"Alhamdulillah, ia telah mengembalikan tipu dayanya kepada bisikan (yang menunjukkan keimanan)." (HR. Muslim)
Hikmah dari kisah ini: Munculnya perasaan gelisah dan tidak nyaman ketika mendengar bisikan seperti itu adalah bukti bahwa iman masih hidup di hati. Orang yang tidak memiliki iman tidak akan peduli dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Maka jangan pernah merasa bahwa was-was ini membuat kita buruk di sisi Allah. Justru sebaliknya, ia adalah ujian yang menunjukkan keimanan kita.
Kesimpulan Praktis
- Jangan berdebat dengan was-was. Jika setan membisikkan pertanyaan tentang Allah, jangan mencoba menjawab dengan logika atau akal.
- Segera berlindung kepada Allah. Ucapkan "A'udzu billahi minasy syaithanir rajim" dan berhentilah dari pikiran tersebut.
- Alihkan pikiran kepada hal lain. Sibukkan diri dengan dzikir, membaca Al-Qur'an, atau aktivitas yang bermanfaat.
- Jangan merasa bersalah atau takut. Munculnya was-was ini bukan dosa, selama kita tidak mengikutinya dan segera berlindung kepada Allah.
- Perbanyak doa. Di antaranya doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Aamantu billahi wa rusulihi" (Aku beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.