Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 3247 tentang Bab Tentang Ciri-Ciri Surga dan Bahwa Surga Itu Diciptakan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggembirakan umat Nabi Muhammad ﷺ dengan kabar bahwa akan ada 70.000 (atau 700.000) orang dari umat ini yang masuk surga sekaligus tanpa hisab dan tanpa azab, dengan wajah bersinar seperti bulan purnama. Mereka adalah golongan yang bertawakal kepada Allah, tidak meminta ruqyah, tidak bertathayyur, dan hanya kepada Rabb mereka bersandar. Ini menunjukkan besarnya rahmat dan kemuliaan Allah bagi hamba-Nya yang ikhlas.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an:

QS. Al-Wāqi‘ah [56]: 27–38, yang menggambarkan golongan kanan (ashhābul yamīn) yang mendapat kenikmatan surga. Ayat ini relevan dengan janji masuk surga bagi orang-orang beriman yang saleh.

> وَأَصْحَٰبُ ٱلْيَمِينِ مَآ أَصْحَٰبُ ٱلْيَمِينِ (27) فِى سِدْرٍۢ مَّخْضُودٍۢ (28) وَطَلْحٍۢ مَّنضُودٍۢ (29) وَظِلٍّۢ مَّمْدُودٍۢ (30) وَمَآءٍۢ مَّسْكُوبٍۢ (31) وَفَٰكِهَةٍۢ كَثِيرَةٍۢ (32) لَّا مَقْطُوعَةٍۢ وَلَا مَمْنُوعَةٍۢ (33) وَفُرُشٍۢ مَّرْفُوعَةٍۢ (34) إِنَّآ أَنشَأْنَٰهُنَّ إِنشَآءًۭ (35) فَجَعَلْنَٰهُنَّ أَبْكَارًا (36) عُرُبًا أَتْرَابًۭ (37) لِّأَصْحَٰبِ ٱلْيَمِينِ (38)

Terjemahan: “Dan golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. (Mereka) berada di pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun, dan naungan yang terbentang luas, dan air yang mengalir terus-menerus, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya, (untuk) golongan kanan.”

Ayat ini menegaskan bahwa balasan surga bagi golongan yang beriman dan beramal saleh, dan hadits di atas adalah salah satu bentuk rincian dari janji tersebut.

Hadits:

Hadits yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’d al-Sa‘idi radhiyallahu ‘anhu, dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih–nya (Kitab Bad’ul Khalq, Bab Shifāt al-Jannah wa annahā Makhluqah, no. 3247). Redaksi lengkap telah disebutkan dalam pertanyaan.

Penjelasan Ulama dari Daftar:

  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani (dalam Fath al-Bāri, 6/322) menjelaskan bahwa angka 70.000 dalam hadits adalah jumlah pokok, dan keraguan dengan 700.000 adalah dari rawi (Fudhail bin Sulaimān) karena tidak hafal secara pasti, namun keduanya sama-sama diriwayatkan dalam jalur lain. Ibnu Hajar juga menukil dari ulama salaf bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak bertathayyur, dan hanya bertawakal kepada Allah.
  • Imam al-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim, 14/98–99) menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan kemuliaan besar bagi umat ini. Beliau mengutip riwayat tambahan: “Mereka tidak meminta ruqyah, tidak bertathayyur, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”
  • Al-Hasan al-Bashri (sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Hikam) menafsirkan bahwa “wajah seperti bulan purnama” menggambarkan kesempurnaan cahaya iman di akhirat, yakni mereka mendapatkan puncak kenikmatan melihat Allah dan bersinar dengan amal mereka.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu berita gembira yang sangat terkenal. Nabi ﷺ menyampaikan bahwa dari umatnya ada sekelompok besar yang masuk surga sekaligus — maksudnya, mereka semua masuk pada waktu yang bersamaan tanpa ada yang mendahului, karena keringanan hisab atau bahkan tanpa hisab sama sekali. Jumlah yang disebut (70.000) adalah jumlah yang pasti berdasarkan riwayat-riwayat shahih lainnya, dan keraguan perawi menjadi 700.000 menunjukkan keutamaan yang sangat besar.

Para ulama dari kalangan salaf (seperti Ibnu ‘Abbās, Mujāhid, Qatādah — meski tidak semuanya dalam daftar, tetapi rujukan dari kitab tafsir klasik) menjelaskan bahwa golongan ini adalah mereka yang memurnikan tauhid dan tawakal. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits tambahan bahwa ciri mereka adalah “tidak meminta ruqyah (jampi-jampi), tidak bertathayyur (merasa sial karena sesuatu), dan hanya bertawakal kepada Allah.” Sikap ini mencerminkan hati yang benar-benar bersandar kepada Allah dan tidak bergantung kepada sebab-sebab yang dilarang.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani menegaskan bahwa “wajah mereka seperti bulan purnama” bukan hanya fisik, melainkan pancaran cahaya keimanan dan takwa yang menerangi mereka di akhirat. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. al-Tahrīm [66]: 8 — “Cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.”

Tentang perbedaan pendapat: ada yang mengatakan bahwa 70.000 adalah angka pasti, dan tambahan “atau 700.000” adalah keraguan perawi karena mendengar dari dua sumber. Namun, pada dasarnya keduanya tidak bertentangan; bisa jadi tambahan itu menunjukkan bahwa setiap orang dari 70.000 itu akan masuk bersama 700.000 lainnya (Ibnu Hajar mengutip kemungkinan ini). Wallahu a‘lam.

Hikmah dari hadits ini adalah untuk memotivasi umat agar memperkuat tawakal, menjauhi kesyirikan (baik yang nyata maupun samar seperti tathayyur), dan menjaga kemurnian iman.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ‘Imrān bin Hushain radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi ﷺ tentang golongan 70.000 ini, lalu beliau menjelaskan ciri-cirinya (HR. Ahmad dan dishahihkan al-Albani). Dalam riwayat lain, Ibnu ‘Abbās menceritakan bahwa para sahabat sangat bersemangat mendengar kabar ini, lalu Nabi ﷺ bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak bertathayyur, dan hanya kepada Allah mereka bertawakal.” Maka ‘Ukkāshah bin Mihshan segera bangkit dan berkata, “Wahai Rasulullah, doakan aku termasuk golongan mereka.” Nabi ﷺ bersabda, “Engkau termasuk mereka.” Lalu bangkit pula yang lain, namun Rasulullah menolak dengan mengatakan, “Engkau sudah didahului ‘Ukkāshah.” (HR. Bukhari no. 3247). Kisah ini mengajarkan kita untuk bersegera dalam kebaikan dan memohon kepada Allah agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang mendapat kemuliaan.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak tawakal kepada Allah dalam setiap urusan, jangan bergantung kepada jampi-jampi (ruqyah yang syirik) atau merasa sial karena sesuatu (tathayyur).
  2. Bersemangatlah menjadi hamba yang ikhlas agar mendapat kemuliaan masuk surga tanpa hisab.
  3. Jauhkan hati dari ketergantungan kepada makhluk yang dilarang, dan perbanyak doa seperti doa ‘Ukkāshah: “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yang tujuh puluh ribu itu.”
  4. Jangan menganggap remeh amalan hati seperti tawakal, karena ia bisa membawa seseorang pada puncak kenikmatan akhirat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.