Penjelasan Hadits Bukhari No. 3234 tentang Hadits menolak klaim Nabi melihat Tuhannya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah bantahan tegas dari Aisyah radhiyallahu 'anha terhadap orang-orang yang mengklaim bahwa Nabi Muhammad ﷺ melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia. Aisyah menjelaskan bahwa yang dilihat oleh Nabi ﷺ dalam bentuk aslinya adalah Malaikat Jibril, bukan Allah. Ini adalah masalah aqidah yang sangat penting, dan pemahaman yang benar adalah bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melihat Allah di dunia ini. Melihat Allah hanyalah kenikmatan terbesar bagi penduduk surga di akhirat kelak.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'am [6]: 103)

Ayat ini dengan jelas menetapkan bahwa Allah tidak dapat dilihat dengan mata di dunia ini. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

2. Hadits Nabi ﷺ:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

اعْلَمُوا أَنَّكُمْ لَنْ تَرَوْا رَبَّكُمْ حَتَّى تَمُوتُوا

"Ketahuilah, sesungguhnya kalian tidak akan melihat Rabb kalian sampai kalian mati." (HR. Muslim)

Hadits ini semakin menguatkan bahwa melihat Allah tidak mungkin terjadi di dunia.

3. Perkataan Ulama:

  • Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini (QS. Al-An'am: 103) adalah dalil bahwa Allah tidak dapat dilihat di dunia. Beliau menukil ijma' (kesepakatan) para ulama tentang hal ini.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menetapkan sifat Allah yang Maha Halus dan Maha Mengetahui, serta menafikan kemampuan mata untuk melihat-Nya di dunia.

Penjelasan Rinci

Hadits yang Anda tanyakan sebenarnya adalah bagian dari bab yang lebih panjang dalam Shahih Al-Bukhari. Judul bab yang Anda sebutkan ("Bab Jika Salah Seorang di Antara Kalian Mengucapkan Amin...") adalah bab yang berbeda, namun hadits yang Anda kutip adalah hadits tentang Aisyah yang membantah klaim melihat Allah.

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr dari bibinya, Aisyah radhiyallahu 'anha. Beliau berkata:

مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ

"Barangsiapa yang mengklaim bahwa Muhammad melihat Tuhannya, maka ia telah melakukan kesalahan besar."

Maksudnya, orang itu telah berdusta dan melakukan dosa besar karena menisbahkan sesuatu yang tidak benar kepada Nabi ﷺ.

Kemudian Aisyah menjelaskan:

وَلَكِنْ قَدْ رَأَى جِبْرِيلَ فِي صُورَتِهِ، وَخَلْقُهُ سَادٌّ مَا بَيْنَ الأُفُقِ

"Akan tetapi, ia (Muhammad) telah melihat Jibril dalam bentuk aslinya, dan penciptaannya menutupi apa yang ada di antara ufuk (cakrawala)."

Ini merujuk pada peristiwa ketika Nabi ﷺ melihat Jibril dalam wujud aslinya yang sangat besar, yang sayapnya menutupi cakrawala. Ini terjadi di awal kenabian, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:

وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ

"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang jelas (ufuk yang terang)." (QS. At-Takwir [81]: 23)

Pemahaman Ulama tentang Masalah Ini:

  1. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam kitab "Permulaan Penciptaan" untuk menunjukkan bahwa Jibril adalah makhluk yang agung, dan Nabi ﷺ melihatnya dalam bentuk aslinya.
  2. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah bantahan terhadap kelompok yang mengklaim bahwa Nabi ﷺ melihat Allah di dunia. Beliau menegaskan bahwa Aisyah adalah orang yang paling tahu tentang keadaan Nabi ﷺ di rumahnya, dan beliau menafikan hal tersebut dengan tegas.
  3. Imam Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa perbedaan pendapat tentang "melihat Allah" di dunia berkaitan dengan ru'yah (penglihatan) dalam mimpi atau ru'yah hakiki dengan mata. Namun, untuk melihat Allah dengan mata kepala di dunia, tidak ada satu dalil pun yang sahih. Yang benar adalah bahwa hal itu hanya terjadi di akhirat.
  4. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa klaim melihat Allah di dunia adalah perkataan yang batil, dan beliau menukil ijma' para sahabat bahwa hal itu tidak terjadi.

Kesimpulan dari Penjelasan Para Ulama:

  • Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia.
  • Yang beliau lihat dalam bentuk aslinya adalah Malaikat Jibril.
  • Melihat Allah adalah kenikmatan terbesar di akhirat bagi orang-orang beriman, sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang penduduk surga yang akan melihat Rabb mereka.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang Imam Ahmad bin Hanbal ketika beliau ditanya tentang masalah ini. Seorang pria bertanya, "Wahai Imam, apakah benar Nabi ﷺ melihat Tuhannya?" Maka Imam Ahmad menjawab dengan tegas, "Beliau tidak melihat-Nya di dunia, karena Allah berfirman: 'Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata' (QS. Al-An'am: 103). Namun, beliau akan melihat-Nya di akhirat, karena Allah berfirman: 'Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.' (QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23)."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf sangat berhati-hati dalam masalah aqidah. Mereka tidak menetapkan sesuatu kecuali dengan dalil, dan tidak menafikan sesuatu kecuali dengan dalil pula.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinilah bahwa Allah tidak dapat dilihat di dunia. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah yang berdasarkan dalil Al-Qur'an dan hadits.
  2. Jangan mudah percaya pada klaim-klaim aneh tentang seseorang yang mengaku melihat Allah di dunia, karena ini bertentangan dengan nash.
  3. Pelajarilah kisah Isra' Mi'raj dengan benar. Dalam peristiwa itu, Nabi ﷺ tidak melihat Allah, tetapi beliau menerima perintah shalat secara langsung dari Allah tanpa perantara.
  4. Berharaplah untuk melihat Allah di surga kelak. Ini adalah kenikmatan terbesar yang tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun.
  5. Jadikan Aisyah radhiyallahu 'anha sebagai teladan dalam keberanian menyampaikan kebenaran dan menjaga kemurnian aqidah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?