Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, menjelaskan bahwa Nabi ﷺ melihat salah satu tanda kebesaran Allah yang agung, yaitu "rafraf" (hamparan/tabir) berwarna hijau yang menutupi seluruh ufuk langit. Ini berkaitan dengan peristiwa Isra' Mi'raj dan penglihatan Nabi ﷺ terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah yang Maha Besar.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang menjadi pokok pembahasan:
QS. An-Najm [53]: 18
لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ
Terjemahan: "Sungguh, dia (Muhammad) telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Bad'ul Khalq (Permulaan Penciptaan), no. 3233, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Keterkaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menafsirkan ayat QS. An-Najm [53]: 18, dan yang dimaksud "rafraf" adalah sesuatu yang lebar dan menghampar berwarna hijau.
- Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim menyebutkan bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dalam bentuk aslinya, dan penglihatan ini termasuk tanda kebesaran Allah yang paling agung.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dilihat Nabi ﷺ pada malam Isra', namun yang jelas beliau melihat tanda-tanda kebesaran Allah.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Hadits ini menjelaskan tafsir ayat QS. An-Najm [53]: 18, di mana Allah menyebutkan bahwa Nabi ﷺ telah melihat tanda-tanda kebesaran Tuhannya yang paling besar. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu menafsirkan bahwa yang dilihat Nabi ﷺ adalah "rafraf" berwarna hijau yang menutupi seluruh ufuk langit.
Kata "رَفْرَفًا" (rafraf) dalam bahasa Arab berarti sesuatu yang lebar, luas, dan menghampar. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ini adalah gambaran sesuatu yang sangat besar dan indah, menutupi cakrawala langit.
Pemahaman ulama:
- Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini berkaitan dengan peristiwa Isra' Mi'raj, di mana Nabi ﷺ melihat Jibril 'alaihissalam dalam bentuk aslinya yang memiliki 600 sayap, menutupi seluruh ufuk langit. Ini adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang paling agung.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami "rafraf hijau" sebagai gambaran sayap Jibril yang berwarna hijau dan sangat luas. Pendapat lain menyebutkan bahwa itu adalah salah satu makhluk Allah yang menjadi penghuni langit.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama berselisih pendapat: apakah Nabi ﷺ melihat Allah secara langsung atau melihat Jibril? Pendapat yang kuat menurut jumhur ulama adalah bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dalam bentuk aslinya, dan inilah yang dimaksud dengan "tanda-tanda kebesaran Tuhannya yang paling besar."
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa penglihatan Nabi ﷺ terhadap tanda-tanda kebesaran Allah ini adalah bentuk pemuliaan dan penguatan iman bagi beliau, serta menjadi bukti kenabian yang agung.
Perbedaan pendapat:
Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dilihat Nabi ﷺ:
- Sebagian berpendapat beliau melihat Jibril dalam bentuk aslinya (pendapat Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan jumhur ulama).
- Sebagian berpendapat beliau melihat Allah secara langsung (pendapat yang lemah menurut jumhur).
Pendapat yang paling kuat adalah yang pertama, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar al-Asqalani, karena didukung oleh hadits-hadits shahih lainnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ dan dikenal sebagai ahli tafsir Al-Qur'an, ketika ditanya tentang ayat "لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ", beliau menjawab dengan penuh keyakinan bahwa Nabi ﷺ melihat "rafraf" hijau yang menutupi seluruh ufuk langit.
Bayangkan betapa agungnya pemandangan itu — sebuah hamparan hijau yang sangat luas, menutupi seluruh cakrawala, sebagai tanda kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada kekasih-Nya, Nabi Muhammad ﷺ, pada malam Isra' Mi'raj. Ini adalah momen di mana Nabi ﷺ dikuatkan hatinya dengan melihat langsung tanda-tanda kekuasaan Allah yang Maha Besar.
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada malam Isra', ketika Nabi ﷺ diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian naik ke langit-langit yang tinggi. Di sana beliau menyaksikan berbagai tanda kebesaran Allah, termasuk melihat Jibril dalam bentuk aslinya yang menakjubkan.
Hikmahnya: Allah menguatkan para kekasih-Nya dengan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya, agar mereka semakin teguh dalam menjalankan tugas dan semakin yakin akan janji-janji Allah.
Kesimpulan Praktis
- Mengimani hal-hal ghaib — Kita wajib mengimani apa yang diberitakan Nabi ﷺ tentang peristiwa Isra' Mi'raj dan penglihatan beliau terhadap tanda-tanda kebesaran Allah, meskipun akal kita terbatas.
- Merenungkan kebesaran Allah — Ayat ini mengajak kita untuk merenungkan betapa agungnya ciptaan Allah, sehingga menumbuhkan rasa tawadhu dan ketundukan kepada-Nya.
- Mengikuti pemahaman salaf — Dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat (yang samar maknanya), kita mengikuti pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah, seperti Abdullah bin Mas'ud, Ibnu Abbas, dan para imam yang disebutkan.
- Memperbanyak ibadah pada malam hari — Peristiwa Isra' Mi'raj terjadi pada malam hari, mengingatkan kita akan keutamaan ibadah di malam hari, terutama shalat malam.
- Menjauhi perdebatan tanpa ilmu — Dalam masalah-masalah ghaib seperti ini, hendaknya kita berhenti pada apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits shahih, tanpa berlebihan dalam bertanya atau berdebat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.