Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan bahwa pada hari Kiamat matahari dan bulan akan digulung atau dilipat, sebagaimana disebut dalam firman Allah Ta’ala. Ini adalah salah satu tanda besar kehancuran alam semesta. Sebagai orang beriman, kita wajib meyakini kebenaran berita ini dan menjadikannya pengingat untuk mempersiapkan diri menghadapi hari pembalasan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur’an
قَوْلُهُ تَعَالَى: {إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ} [التكوير: 1]
“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwir [81]: 1)
Juga firman-Nya: {وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ} [القيامة: 9]
“Dan dikumpulkan matahari dan bulan.” (QS. Al-Qiyamah [75]: 9)
Hadits
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
> ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ مُكَوَّرَانِ يَوْمَ ٱلْقِيَامَةِ
“Matahari dan bulan akan dilipat pada hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari, no. 3200; dan Muslim, no. 159)
Kitab dan Penjelasan Ulama
- Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari (bab tafsir surat At-Takwir) menjelaskan bahwa kata mukawwarân berasal dari takwîr yang berarti menggulung seperti menggulung lembaran. [Ibnu Hajar termasuk ulama abad pertengahan dalam daftar]
- Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (jilid 3, bab sifat matahari dan bulan) mengatakan: “Hadits ini jelas menunjukkan bahwa matahari dan bulan akan dihilangkan cahayanya dan digulung sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an.” [Imam an-Nawawi termasuk dalam daftar abad pertengahan]
- Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim) ketika membahas surat At-Takwir berkata: “Ini adalah penggulungan matahari dan penghilangan cahayanya, demikian pula bulan.” [Ibnu Katsir dalam daftar]
- Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa “penggulungan” berarti keduanya tidak bermanfaat lagi dan hancur sebagai tanda kehancuran alam semesta. [As-Sa’di termasuk ulama abad 14 H dalam daftar]
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah berita gaib yang harus kita imani tanpa menanyakan “bagaimana” (bila tidak ada dalil lebih lanjut). Makna mukawwarân (مُكَوَّرَانِ) adalah bentuk kata benda pasif (ism maf‘ûl) dari takwîr yang artinya melipat atau menggulung, seperti menggulung sorban atau lembaran.
Para ulama dari kalangan mufassir dan ahli hadits (seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan an-Nawawi) sepakat bahwa ini merupakan bagian dari peristiwa dahsyat yang terjadi pada hari Kiamat, sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Takwir:1.
Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama Ahlus Sunnah dalam memahami makna zahir hadits ini. Adapun rincian bentuk fisik "penggulungan" itu adalah hakikat yang hanya diketahui Allah ‘Azza wa Jalla; kita tidak boleh mempertanyakan lebih dari apa yang diberitakan dalil.
Imam al-Bukhari rahimahullah meletakkan hadits ini dalam bab “Sifat Matahari dan Bulan” sebagai bantahan terhadap orang-orang yang menyembah keduanya, sekaligus mengokohkan tauhid bahwa semua makhluk akan binasa kecuali wajah Allah.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam at-Takhwif min an-Nar menyebutkan bahwa peristiwa ini adalah tanda kebesaran Allah yang menggetarkan hati, sehingga seorang mukmin hendaknya merenungkannya untuk memperkuat keimanan dan amal. [Ibnu Rajab termasuk dalam daftar]
Story Telling
Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah (salah seorang tabi’in besar dalam daftar) bahwa beliau sering menangis ketika membaca ayat: {إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ} dan beliau berkata, “Hari di mana matahari digulung, maka manusia akan lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, tak peduli lagi pada dunia.” (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir).
Suatu ketika, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu – periwayat hadits ini - bertanya kepada Nabi ﷺ tentang tanda-tanda Kiamat, dan beliau menyebutkan di antaranya peristiwa besar ini. Para sahabat sangat takut dan bergegas beramal saleh.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa meskipun kita tidak tahu kapan Kiamat terjadi, kita bisa mempersiapkan bekal terbaik, yaitu iman dan amal yang diterima Allah.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa semua berita Nabi ﷺ tentang hari Kiamat adalah benar, termasuk digulungnya matahari dan bulan.
- Renungkan kebesaran Allah yang mampu menghancurkan ciptaan-Nya yang sangat besar, sebagai pelajaran untuk tidak menyombongkan diri.
- Perbanyak amal shaleh, taubat, dan dzikir agar selamat dari huru-hara hari itu.
- Jauhi sikap ghuluw (berlebihan) dalam memahami ayat-ayat kauniyah; serahkan hakekatnya kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.