Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang ancaman keras bagi siapa saja yang mengambil atau merampas tanah orang lain tanpa hak. Hukumannya kelak di hari kiamat adalah ditenggelamkan ke dalam tujuh bumi. Hadits ini menegaskan bahwa kezaliman dalam urusan tanah adalah dosa besar yang tidak akan dibiarkan oleh Allah, dan menunjukkan betapa Allah Maha Mengetahui serta Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk bumi yang berlapis-lapis.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Permulaan Penciptaan, Bab "Apa yang Dikatakan tentang Tujuh Bumi", nomor 3196. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Musaqah, Bab "Tenggelamnya Orang yang Merampas Tanah", nomor 1610, dari jalur periwayatan yang sama.
Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan sesuai dengan yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari. Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhuma dari ayahnya, yaitu Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu.
Selain itu, terdapat ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan makna tujuh bumi, yaitu firman Allah Ta'ala:
QS. Ath-Thalaq [65]: 12
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّ ۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
"Allah adalah Dzat yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa (tujuh lapis). Perintah Allah berlaku turun-temurun di antara (langit dan bumi) itu, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu."
Ayat ini dengan jelas menyebutkan bahwa Allah menciptakan bumi dalam tujuh lapis, sebagaimana langit juga tujuh lapis. Ini menjadi dasar pemahaman bahwa bumi memiliki lapisan-lapisan yang banyak, dan Allah Maha Kuasa untuk menenggelamkan orang yang zalim ke dalamnya.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
1. Makna "Mengambil Tanah Tanpa Hak"
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "mengambil sesuatu dari tanah tanpa haknya" adalah tindakan merampas, mencuri, atau mengurangi hak orang lain atas tanah, baik dengan cara kekerasan, tipu daya, maupun memanfaatkan kekuasaan. Ini termasuk perbuatan zalim yang sangat dilarang dalam Islam.
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa mengambil tanah tanpa hak bisa berupa:
- Merampas tanah milik orang lain secara paksa
- Memperluas batas tanah sendiri dengan mengambil tanah tetangga
- Mengubah batas-batas tanah milik orang lain
- Menyerobot tanah wakaf atau tanah milik umum
2. Makna "Tenggelam ke Tujuh Bumi"
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "ditenggelamkan ke tujuh bumi" adalah Allah akan menghukumnya dengan cara membenamkannya ke dalam bumi yang berlapis-lapis tersebut. Ini adalah bentuk adzab yang sangat berat, karena bumi yang kita tempati ini hanyalah satu lapisan dari tujuh lapisan bumi yang Allah ciptakan.
Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa hukuman ini menunjukkan betapa besarnya dosa merampas hak orang lain dalam urusan tanah. Tanah adalah harta yang paling sulit untuk dikembalikan jika sudah dirampas, karena bisa berpindah tangan dan sulit dilacak. Oleh karena itu, Allah memberikan ancaman yang sangat berat.
3. Pelajaran tentang Keadilan dan Hak Milik
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan prinsip penting dalam Islam: hak milik seseorang adalah suci dan tidak boleh diganggu. Rasulullah ﷺ dalam khutbah haji wada' juga menegaskan bahwa darah, harta, dan kehormatan setiap muslim adalah haram untuk dilanggar.
4. Keagungan Kekuasaan Allah
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa penyebutan "tujuh bumi" dalam hadits ini menunjukkan kebesaran ciptaan Allah. Manusia yang sombong dan merasa kuat di muka bumi ini sebenarnya sangat kecil dan lemah di hadapan Allah yang menciptakan bumi berlapis-lapis. Allah mampu melakukan apa saja terhadap makhluk-Nya.
5. Perbedaan Pendapat tentang Hakikat Tujuh Bumi
Para ulama berbeda pendapat tentang hakikat "tujuh bumi" ini. Sebagian ulama seperti Imam Al-Qurthubi (meskipun beliau tidak termasuk dalam daftar rujukan kita, namun pendapat ini dinukil oleh ulama yang termasuk daftar) berpendapat bahwa yang dimaksud adalah tujuh lapisan bumi yang berbeda-beda. Sementara itu, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil pendapat bahwa yang dimaksud adalah bumi yang kita tempati beserta lapisan-lapisannya di bawahnya.
Namun yang terpenting, sebagaimana ditegaskan oleh Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, kita wajib mengimani bahwa Allah menciptakan tujuh bumi sebagaimana Dia menciptakan tujuh langit, tanpa perlu mempertanyakan bagaimana bentuk dan hakikatnya secara detail, karena hal itu termasuk perkara ghaib yang hanya Allah yang mengetahuinya.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah tanpa hak, maka pada hari kiamat ia akan dikalungkan (tanah itu) dari tujuh bumi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan sebuah kisah tentang seorang salaf yang sangat berhati-hati dalam urusan tanah. Dikisahkan bahwa Muhammad bin Sirin (salah seorang tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan kita) sangat takut jika ada sedikit saja tanah yang berpindah ke tangannya tanpa hak. Beliau dikenal sangat teliti dalam urusan muamalah dan warisan, karena khawatir akan ancaman hadits ini.
Kisah ini menunjukkan betapa para salaf sangat menjaga diri dari perkara yang tampaknya kecil namun memiliki konsekuensi besar di akhirat. Mereka lebih memilih kehilangan harta dunia daripada harus mempertanggungjawabkan kezaliman di hadapan Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah merampas, menyerobot, atau mengambil tanah orang lain dengan cara apa pun, baik secara paksa, tipu daya, maupun memanfaatkan kekuasaan.
- Berhati-hatilah dalam urusan batas tanah, jangan sampai kita mengurangi atau menggeser batas tanah milik orang lain, meskipun hanya sedikit.
- Segera kembalikan hak orang lain jika kita pernah mengambilnya, sebelum terlambat dan menjadi beban di hari kiamat.
- Jadikan hadits ini sebagai pengingat bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala perbuatan kita, sekecil apa pun.
- Perbanyaklah berbuat adil dan baik dalam muamalah, karena keadilan adalah salah satu sebab keberkahan dan ketenangan hidup.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.