Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah menyampaikan kepada para sahabat secara panjang lebar tentang permulaan penciptaan alam semesta hingga akhirnya sampai kepada kabar tentang masuknya penghuni surga dan neraka ke tempat masing-masing. Ini adalah bagian dari keimanan kepada takdir dan hari akhir. Hadits ini juga mengajarkan bahwa tidak semua yang disampaikan Nabi ﷺ harus kita ketahui secara detail; yang penting adalah mengambil pelajaran dan keimanan dari kabar tersebut, serta tidak memperdebatkan hal-hal yang tidak sampai kepada kita secara jelas.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Bad'ul-Khalq (Permulaan Penciptaan), Bab "Wa Huwalladzî bada'al-khalqa tsumma yu'îduhu" (Dan Dia-lah yang memulai penciptaan kemudian mengulanginya), no. 3192, dari sahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah sebagai berikut (dengan harakat lengkap):
وَرَوَى عِيسَى، عَنْ رَقَبَةَ، عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ، قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ ـ رضى الله عنه ـ يَقُولُ قَامَ فِينَا النَّبِيُّ ﷺ مَقَامًا، فَأَخْبَرَنَا عَنْ بَدْءِ الْخَلْقِ حَتَّى دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ مَنَازِلَهُمْ، وَأَهْلُ النَّارِ مَنَازِلَهُمْ، حَفِظَ ذَلِكَ مَنْ حَفِظَهُ، وَنَسِيَهُ مَنْ نَسِيَهُ.
Terjemahan: "Dari Umar radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Nabi ﷺ berdiri di tengah-tengah kami dengan suatu kedudukan (berdiri lama), lalu beliau mengabarkan kepada kami tentang permulaan penciptaan, hingga (beliau ceritakan) sampai penghuni surga masuk ke tempat-tempat mereka dan penghuni neraka masuk ke tempat-tempat mereka. Yang menghafalnya, ia hafal; dan yang melupakannya, ia lupa.'"
Ayat yang relevan dengan tema ini adalah firman Allah Ta'ala:
وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ
QS. Ar-Rum [30]: 27 — "Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya."
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah yang memulai penciptaan alam semesta, dan Dia pula yang akan mengulanginya pada hari kebangkitan. Ini berkaitan erat dengan hadits di atas yang menceritakan tentang awal mula penciptaan hingga akhirnya manusia masuk surga atau neraka.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalam khabar ghaib yang disampaikan Nabi ﷺ kepada para sahabat. Di antara ulama yang membahas hadits ini:
1. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul-Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menyampaikan kabar tentang awal penciptaan dan hal-hal ghaib lainnya, selama bersumber dari wahyu, bukan dari akal semata. Beliau juga menegaskan bahwa Nabi ﷺ menyampaikan hal ini secara panjang lebar, namun tidak semua sahabat mampu menghafalnya, dan itu tidaklah mengapa karena yang penting adalah mengambil pelajaran dan keimanan.
2. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa kabar tentang penciptaan dan takdir adalah bagian dari iman kepada qadar. Beliau menekankan bahwa seorang muslim wajib mengimani apa yang diberitakan Nabi ﷺ secara global, dan tidak perlu memperdebatkan detail yang tidak sampai kepada kita dengan sanad yang shahih.
3. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa ilmu tentang penciptaan alam adalah ilmu yang berasal dari wahyu, bukan dari teori-teori manusia. Beliau mengingatkan agar kaum muslimin tidak sibuk memperdebatkan asal-usul alam dengan teori-teori yang tidak pasti, karena yang penting adalah mengambil pelajaran bahwa Allah-lah Pencipta segalanya.
4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memberitakan tentang penciptaan alam agar manusia merenungkan kekuasaan-Nya, dan agar mereka yakin bahwa Allah yang mampu menciptakan pertama kali pasti mampu mengulanginya pada hari kebangkitan.
Pelajaran penting dari hadits ini:
- Nabi ﷺ menyampaikan kabar ghaib secara panjang lebar, namun tidak semua sahabat menghafalnya. Ini menunjukkan bahwa tidak wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui detail penciptaan alam. Yang wajib hanyalah mengimani secara global bahwa Allah menciptakan segalanya dan akan mengembalikannya pada hari kiamat.
- Hadits ini juga mengajarkan bahwa kabar tentang surga dan neraka adalah bagian dari keimanan. Seorang mukmin harus yakin bahwa surga dan neraka itu nyata, dan setiap manusia akan masuk ke tempatnya masing-masing sesuai amal perbuatannya.
- Hadits ini juga menunjukkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang dihafal dan diamalkan. Sebagian sahabat menghafal dan sebagian lupa, namun yang terpenting adalah mereka semua mengambil pelajaran dari apa yang disampaikan Nabi ﷺ.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang sangat perhatian terhadap kabar-kabar ghaib dari Nabi ﷺ. Dalam hadits ini, beliau berdiri dan menyampaikan kepada generasi setelahnya apa yang ia dengar dari Nabi ﷺ, meskipun beliau sendiri tidak menghafal seluruh detailnya. Ini menunjukkan kejujuran dan kehati-hatian seorang perawi: ia menyampaikan apa yang ia ketahui dan tidak menambah-nambah.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa menyampaikan ilmu adalah amal yang mulia, meskipun hanya sebagian. Umar tidak berkata, "Saya hafal semuanya," tetapi ia jujur: "Yang menghafalnya, ia hafal; yang melupakannya, ia lupa." Ini adalah adab dalam meriwayatkan ilmu: tidak memaksakan diri untuk mengetahui apa yang tidak kita ketahui, dan tidak berdusta atas nama Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Imani secara global kabar tentang penciptaan alam, surga, dan neraka, karena itu adalah bagian dari rukun iman.
- Jangan sibuk memperdebatkan detail penciptaan alam yang tidak sampai kepada kita dengan dalil yang shahih. Fokuslah pada ibadah dan amal shalih.
- Jadilah perawi yang jujur — sampaikan ilmu yang kita ketahui, dan jangan memaksakan diri untuk berbicara tentang hal yang tidak kita kuasai.
- Ambil pelajaran dari kekuasaan Allah dalam menciptakan alam, agar hati semakin dekat dan takut kepada-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.