Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 3191 tentang Allah ada sebelum segala ciptaan dan Arsy di atas air

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil penting tentang sifat Allah ﷻ dan awal mula penciptaan. Intinya, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Allah itu ada sejak azali (tanpa permulaan) dan tidak ada sesuatu pun selain-Nya. Kemudian Arsy-Nya berada di atas air, dan Allah telah menuliskan takdir segala sesuatu di Lauhul Mahfuzh sebelum menciptakan langit dan bumi. Hadits ini mengajarkan kita untuk beriman kepada qadha dan qadar serta menetapkan sifat 'Uluww (ketinggian) bagi Allah tanpa menanyakan "bagaimana" (kaifiyah).

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Hud [11]: 7

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

"Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arsy-Nya di atas air."

2. Hadits terkait:

Hadits yang sedang kita bahas ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Bad'ul Khalqi (Permulaan Penciptaan), Bab: "Qauluhu Ta'ala: Wa Huwal Ladzi Abda'al Khalqa..." dari sahabat Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu.

3. Kaitan dengan ulama:

  • Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) memuat hadits ini dalam kitabnya yang paling shahih sebagai bantahan terhadap golongan yang mengingkari sifat-sifat Allah.
  • Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini dan hadits di atas menetapkan bahwa Arsy itu makhluk pertama yang diciptakan, dan bahwa Allah telah ada sebelum segala sesuatu.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (wafat 1421 H) dalam Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah menjelaskan bahwa hadits ini menetapkan tiga hal: (1) Allah ada tanpa permulaan, (2) Arsy berada di atas air, (3) Penulisan takdir terjadi sebelum penciptaan langit dan bumi.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran aqidah yang sangat agung:

Pertama: "Kaanallahu wa lam yakun syai'un ghairuh" (كان الله ولم يك شي غيره)

Para ulama menjelaskan bahwa Allah ﷻ itu Qadim (ada tanpa permulaan). Tidak ada sesuatu pun yang menyertai-Nya sebelum penciptaan. Imam Al-Bukhari membuat bab dalam Shahih-nya tentang hal ini untuk membantah golongan Mu'tazilah dan Jahmiyyah yang mengingkari sifat-sifat Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat 728 H) menjelaskan bahwa makna "tidak ada sesuatu selain-Nya" adalah tidak ada makhluk sama sekali, bukan berarti tidak ada sifat-sifat Allah. Karena sifat-sifat Allah itu bukan sesuatu yang terpisah dari Dzat-Nya.

Kedua: "Wa kana 'arsyuhu 'alal ma'" (وكان عرشه على الماء)

Ini menetapkan bahwa Arsy adalah makhluk pertama yang diciptakan, dan ia berada di atas air. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil perkataan Mujahid dan Qatadah bahwa maksudnya adalah Allah menciptakan Arsy di atas air sebelum menciptakan langit dan bumi.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (wafat 1376 H) dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ini menunjukkan keagungan Allah dan kekuasaan-Nya yang sempurna. Arsy adalah makhluk yang paling besar dan paling tinggi, dan ia berada di atas air.

Ketiga: "Wa kataba fidz-dzikri kulla syai'" (وكتب في الذكر كل شيء)

Yang dimaksud "dzikir" di sini adalah Lauhul Mahfuzh. Allah telah menuliskan segala sesuatu di dalamnya—baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi—sebelum menciptakan langit dan bumi. Ini adalah dalil tentang qadha dan qadar.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (wafat 795 H) dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa penulisan takdir di Lauhul Mahfuzh adalah salah satu tingkatan qadar yang wajib diimani oleh setiap muslim.

Keempat: "Wa khalaqas samawati wal ard" (وخلق السماوات والأرض)

Setelah menulis takdir, barulah Allah menciptakan langit dan bumi. Ini menunjukkan bahwa penciptaan alam semesta bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan sudah direncanakan dan dituliskan sebelumnya.

Pelajaran adab dari hadits ini:

Kisah Bani Tamim yang meminta harta setelah mendengar kabar gembira, sementara penduduk Yaman menerima dengan penuh keimanan, menunjukkan bahwa sebagian orang lebih mementingkan dunia daripada akhirat. Al-Hasan Al-Bashri (wafat 110 H) sering mengingatkan bahwa orang beriman itu ketika mendengar kabar gembira dari Allah dan Rasul-Nya, hatinya langsung tunduk dan bersyukur, bukan malah meminta hal-hal duniawi.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu sangat menyesal karena telah meninggalkan untanya saat mendengar penjelasan Nabi ﷺ tentang awal penciptaan. Beliau berkata: "Demi Allah, aku berharap aku telah meninggalkannya (tidak mengejarnya) dan tetap mendengarkan penjelasan Nabi ﷺ."

Ini menunjukkan betapa besarnya keinginan para sahabat untuk menuntut ilmu agama. Mereka rela kehilangan harta benda demi mendapatkan pemahaman yang benar tentang Allah dan agama-Nya.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa penyesalan Imran bin Hushain ini menunjukkan keutamaan ilmu dan semangat para sahabat dalam menuntutnya. Mereka lebih memilih ilmu daripada harta dunia.

Kesimpulan Praktis

  1. Beriman kepada Allah sebagai Al-Khaliq yang ada tanpa permulaan dan tidak membutuhkan sesuatu pun.
  2. Beriman kepada Arsy sebagai makhluk Allah yang paling agung, yang berada di atas air.
  3. Beriman kepada qadha dan qadar—bahwa segala sesuatu sudah ditulis di Lauhul Mahfuzh sebelum penciptaan langit dan bumi.
  4. Menetapkan sifat 'Uluww (ketinggian) bagi Allah tanpa menanyakan "bagaimana" (kaifiyah), karena akal manusia tidak mampu menjangkaunya.
  5. Mendahulukan ilmu daripada harta dunia, sebagaimana semangat para sahabat dalam menuntut ilmu agama.
  6. Bersegera menerima kabar gembira dari Allah dan Rasul-Nya dengan hati yang tunduk dan bersyukur, bukan dengan sikap yang materialistis.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi